Digital Marketing

10 Penyebab Deindex Google dan Solusinya

Deindex Google pastinya adalah kabar buruk untuk pemilik domain, baik itu domain baru (sandbox effect?) atau pun pemilik aged domain yang traffic-nya sedang tinggi-tingginya. Hal ini berbahaya karena setiap laman itu merupakan potensi traffic, sehingga jika tidak lagi terindeks oleh Google, maka akan terjadi penurunan traffic.

Kita mungkin bisa menyadari bahwa ketika traffic turun, biasanya laman yang deindex Google biasanya bertambah dan persentase antara laman yang terindeks dan tidak diindeks oleh Google mengalami peningkatan.

Apa sebenarnya penyebab kejadian horor untuk pemilik domain dan SEO specialist ini?

1. Ada Manual Action yang Dilakukan oleh Google

Manual action di sini, Google melakukan sebuah tindakan langsung berupa deindex. Biasanya, hal ini terjadi karena situs kita melakukan hal yang melanggar Google’s webmaster quality guideline.

Jika ada manual action dari Google, kita akan mendapatkan notifikasi di Google Search Console.

Solusinya: pelajari Google’s webmaster quality guideline.

2. Backlink Tidak Natural/Toxic 

Backlink yang tidak natural/toxic dapat menyebabkan deindex Google. Karena itu, penting untuk skrining saat sedang link building. Jangan sampai off-page SEO yang kita lakukan malah jadi bumerang.

Beberapa contoh penerapan backlink tidak natural:

  • Guest posting yang kelihatan spam
  • Terlalu banyak mendapatkan backlink dalam waktu yang singkat
  • Blogwalking yang spammy
  • Exchange link atau pun link farm

Solusi: dapatkan backlink berkualitas dengan cara yang natural seperti membuat konten yang layak dijadikan referensi utama. Kalau sudah terlanjur terpasang, segera disavow atau hubungi pemilik situs yang ada toxic backlink menuju situs kita untuk menghapus backlink-nya

3. Kesalahan saat Melakukan Koding yang Menyebabkan Deindex

Namanya manusia, tidak luput dari salah. Bisa saja ada ketidaksengajaan berupa melakukan koding untuk deindex, padahal sebenarnya tidak dilakukan.

Solusi: bicarakan dengan pihak yang melakukan ketidaksengajaan tersebut untuk memperbaikinya.

4. Pelanggaran dalam Konten (Duplikat, Thin Content, Scraped, Auto-Generated, atau Plagiat)

Konten yang duplikat, thin, scraped, auto-generated, article spinning, atau pun plagiat termasuk dalam teknik black hat SEO. Kesalahan penulisan dalam artikel juga harus diperbaiki.

Solusinya: audit dan sunting konten secara seksama. Jika tidak ada waktu, rekrut editor profesional yang paham akan on-page SEO. Lalu, untuk last resort, hapus konten yang melanggar aturan Google.

5. Cloaking

Cloaking merupakan salah satu teknik black hat SEO. Teknik ini adalah memberikan search engine dan user dua atau lebih URL/konten.

Solusi: restruktur situs dengan JSON-LD untu menspesifikasi hidden content. Perkuat juga keamanan situs karena biasanya hacker menggunakan metode cloaking untuk mengarahkan user ke situs spam.

6. Structured Markup yang Spammy

Structured data digunakan untuk membantu user experience yang lebih baik. Sayangnya, structured markup yang spammy merupakan penyebab deindex Google. Hal ini dapat menyebabkan manual action dari Google.

Solusi: ketahui potensi kesalahan yang diberikan pada manual action-nya.

7. Noindex

Tidak sengaja atau pun sengaja memberikan noindex tag pada suatu laman dapat menyebabkan deindex Google.

Solusi: hapus kode noindex dan minta indeks ulang kepada Google.

8. Kadaluarsa/Expired

Jika domain kita “kadaluarsa”, pasti domain tersebut akan hilang dari SERP.

Solusi: cek kapan domain kita akan expired dan siapkan uang untuk memperpanjang masa kepemilikan.

9. Server Mengalami Crash

Jika server mengalami crash selama periode yang panjang, Google bisa saja melakukan deindeks.

Solusi: montitor situsmu secara berkala. Langsung alert jika mendadak lemot atau tidak bisa diakses.

10. Perubahan Algoritma Google

Perubahan algoritma Google juga dapat menyebabkan deindex Google. Kebanyakan hal ini terjadi pada situs yang menerapkan black hat SEO atau grey hat SEO.

Solusi: cek apa saja perubahan algoritma Google yang terjadi dan segera perbaiki, sesuai dengan arahan alogirtma. Yang pasti, Google akan selalu mengarah ke user experience. Ingat-ingat juga apa saja optimasi (on-page, technical, off-page) yang selama ini pernah dilakukan. Apakah ada yang menyalahi aturan dari Google?

Google Deindex bukan Berarti “Kiamat”!

Pasti rasanya menjengkelkan ketika terjadi deindex Google pada situs kita. Apalagi jika yang deindex adalah money page atau pun laman dengan traffic yang tinggi.

Terjadinya deindex pasti ada penyebabnya, bahkan bisa terjadi karena ketidaksengajaan.

Untuk mencegah dan mengatasi deindex Google terjadi, lakukanlah audit secara berkala, pakai teknik white hat SEO, dan tidak memakai teknik black hat SEO.

Happy optimizing!

Sumber:

https://www.searchenginejournal.com/deindexed-by-google-how-to-recover/257921/#close

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *