Digital MarketingKepenulisan

AI vs Penulis Manusia – Mana yang lebih Baik?

Topik ini sebenarnya cukup hangat, terutama di dunia blogging, kepenulisan, dan digital marketing, yaitu AI vs penulis manusia, kira-kira mana yang memberikan output terbaik? Sebagai penulis manusia, penulis akan menulis konten ini dari perspektif penulis.

Sepengalaman penulis, berikut beberapa perbandingan antara AI vs penulis manusia.

1. Kecepatan

Kecepatan pembuatan konten AI jauh mengungguli penulis manusia. Jika dibandingkan, seperti perbandingan antara kecepatan sepeda dengan mobil.

Dengan AI, konten bisa jadi dalam waktu kurang dari satu menit, sementara penulis manusia, seperti penulis sendiri bisa menghabiskan waktu 30 menit-1 jam, terutama untuk konten dengan panjang 500-1000 kata.

2. Typo

AI tidak mungkin melakukan typo kecuali dari prompt-nya ada perintah untuk sengaja typo dalam tulisannya.

Sementara itu, penulis manusia pasti akan melakukan typo karena secara natural dan proses alami dari cara kerja otak. Karena itu, perlu editor untuk membantu penulis manusia untuk memperbaiki kesalahan ini.

3. Kapasitas

AI bisa bekerja 24/7, sementara penulis manusia tentunya butuh istirahat dan makan. Kalau dipaksa terus bekerja, penulis manusia akan mengalami burnout yang memengaruhi kualitas tulisannya.

4. Kreativitas

Manusia punya kreativitas yang jauh lebih tinggi daripada AI karena manusia punya perasaan dan pengalaman dari hidup mereka. Sementara itu, AI tidak punya perasaan dan hanya bisa menyadur dari tulisan lain. Jadi, jangan heran kalau tulisan AI terkesan kaku.

Contoh lain, manusia bisa membuat tulisan berima atau ada pun pada tulisannya, sehingga konten jadi lebih engaging.

5. Skalabilitas

AI bisa digunakan untuk menulis di berbagai industri, sementara itu, penulis manusia terbatas dari pengalaman mereka pada suatu industri. Karena itu, disarankan untuk merekrut penulis yang punya pengalaman di industri yang sama dengan bisnismu.

Namun, untuk topik YMYL, penulis manusia tetap diutamakan.

6. Akurasi Data

AI berpeluang untuk menimbulkan hoax karena database-nya terbatas, sementara itu penulis manusia bisa meriset dengan lebih akurat karena mereka bisa mengecek fakta dari referensi yang mereka gunakan.

Namun, konten tanpa adanya cross check, baik itu dari AI atau pun manusia berpeluang untuk menimbulkan hoax. Bahkan, tulisan dari AI tanpa suntingan termasuk auto-generated content yang dilarang oleh Google.

7. Subjektivitas

Penulis manusia bisa terkesan subjektif karena adanya pengalaman dan perasaan pada diri mereka. Sementara itu, AI menulis sesuai dengan prompt tanpa perasaan dan pandangan dari alat tersebut (tidak punya pandangan pribadi).

8. Biaya

Penulis manusia jelas memiliki biaya/gaji yang lebih besar daripada AI. Tentunya ada harga, ada rupa.

AI memang murah, bahkan ada yang gratis, tetapi masih banyak kelebihan penulis manusia yang tidak bisa digantikan AI, contohnya adalah tulisan yang menimbulkan sisi emosional.

9. Originalitas

Penulis manusia bisa membuat konten original, sementara itu, AI rawan melakukan plagiarisme karena hanya menyadur dari tulisan lainnya. Tulisan AI juga bisa dideteksi oleh software.

Jadi, Mana yang lebih Baik?

Jawaban dari pertanyaan ini relatif karena bergantung dari kebutuhan, industri, dan budget.

Contohnya, kalau membutuhkan konten yang banyak dalam waktu singkat dan untuk testing, maka AI adalah yang terbaik.

Namun, jika butuh tulisan di topik YMYL, berani membayar besar, dan memiliki konten yang engaging, penulis manusia merupakan jawaban yang terbaik.

Dari subjektivitas penulis, selama memakai AI dan menulis sendiri atau menyunting tulisan manusia/AI, penulis manusia masih menjadi yang terbaik untuk urusan menulis.

Pakailah Sesuai dengan Kebutuhan dan Kemampuan

Ketika memutuskan untuk memakai AI atau merekrut penulis manusia, pastikan kalau mereka sudah sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas dari perusahaanmu.

Kalau modalnya tidak banyak dan topiknya tidak YMYL, memakai AI bisa jadi solusi sementara, namun kamu perlu editor profesional untuk mengubah konten AI tersebut agar tidak kaku dan engaging.

Menurut pandangan penulis, AI masih belum bisa menggantikan penulis manusia, terutama dari segi kreativitas dan emosional (termasuk kelemahan ChatGPT dan AI sejenisnya).

Referensi:

https://aicontentfy.com/en/blog/ai-vs-human-writers-which-creates-better-content

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *