Digital MarketingKepenulisan

Bagaimana Cara Membuat Content Plan yang Benar?

Halo, apakah kamu suka membuat konten secara spontan? Atau suka mengeluh karena kehabisan ide akibat writer’s block? Sebenarnya, masalah tersebut bisa diatasi jika kita punya perencanaan atau dengan kata lain content plan/content calendar. Kita perlu cara membuat content plan agar kita tahu harus membuat konten apa di hari/jadwal tertentu.

Contoh penerapannya, hari Senin kita membahas soal cara menambah imun tubuh, lalu di hari Selasa, kita membahas topik kesehatan lainnya, misalnya cara menjaga kesehatan pencernaan.

Jadi, bagaimana cara membuat content plan? Mengapa content plan diperlukan?

Mengapa Perlu Membuat Content Plan?

a. Menghindari Writer’s Block

Writer’s block adalah saat seorang penulis atau content creator kehabisan ide dan tidak tahu apa tulisan/konten yang harus dibuat selanjutnya.

Membuat content plan terlebih dahulu sebelum berkarya dapat mencegah terjadinya writer’s block karena semua ide dikumpulkan terlebih dahulu baru dibuat.

Kalau ada ide spontan atau di waktu tertentu, jangan lupa dicatat agar tidak lupa untuk dimasukkan ke content plan.

b. Mengetahui Pembagian Porsi Peran Konten

Untuk diketahui, beda konten, beda juga tujuannya. Misalnya konten A digunakan untuk menggaet leads untuk beli tiket travel, semenatara konten B berfungsi untuk edukasi tempat wisata saja untuk audiens.

Dengan content plan, kita bisa tahu apakah pembagian peran konten sudah merata atau sesuai dengan tujuan kita.

Coba analisa peran konten di content plan dengan pertanyaan berikut:

  • Apakah semua kontennya hanya untuk edukasi?
  • Apakah kontennya terlalu sering “jualan” atau hard selling?
  • Apakah ada konten yang follow the trend-nya sudah pas di hari tertentu?

Sebagai nasihat, jangan hanya fokus konten untuk jualan saja. Kita yang disuguhkan iklan jualan terus-menerus pasti bosan dan kehilangan minat untuk membeli bukan?

c. Mengevaluasi Urutan Pembuatan Konten

Konten yang dibuat sebaiknya berada pada urutan yang sesuai dan saling berkesinambungan. Lebih baik menjadi spesialis daripada generalis alias jack of all trades untuk meningkatkan kekuatan brand.

Contohnya, kalau kita membuat ulasan pertandingan sepak bola yang highlight-nya adalah tendangan salto, maka besok kita bisa membuat konten khusus tentang tendangan salto. Selanjutnya? Lanjutkan dengan ide yang berkesinambungan atau masih satu niche dan sesuai dengan tujuan.

Evaluasi yang dimaksud di sini juga adalah urusan prioritas pembuatan konten. Contohnya, konten musiman di tanggal tertentu wajib dipublikasi di hari tersebut atau audiens akan cepat kehilangan minatnya.

d. Menghemat Waktu

Daripada pusing karena tidak ada ide atau stuck setelah buat konten, mau buat konten apalagi. Lebih baik kalau punya content plan terlebih dahulu.

Jadi, tidak ada waktu yang terbuang karena kita sudah tahu membuat konten apa setiap harinya. Mirip-mirip dengan berpikir terlebih dahulu, lalu bertindak. Semuanya sudah terencanakan.

e. Melihat Peluang Baru

Coba lihat ide konten yang kita buat. Apakah punya turunan bahasan atau tidak? Turunan bahasan ini adalah peluang baru untuk dibuat kontennya untuk meningkatkan topical authority dan traffic.

Contohnya, dari ide ulasan pertandingan sepak bola, ada peluang untuk membuat konten baru tentang:

  • Pemain yang  paling bersinar di lapangan
  • Teknik tingkat tinggi dari pemain sepak bola
  • Aturan pada pertandingan sepak bola
  • Supporter dalam pertandingan sepak bola
  • Sejarah stadion yang dipakai pada pertandingan sepak bola

Itu baru lima, sebenarnya bisa lebih banyak lagi. Hebat bukan? Jadi, telusuri turunan dari suatu ide untuk menemukan peluang baru. Orang-orang menyebutnya dengan content pillar.

Bagaimana Cara Membuat Content Plan yang Benar?

Setelah alasan mengapa content plan itu penting, berikut cara membuat content plan yang benar.

a. Gunakan Software yang Sesuai

Buatlah content plan di software yang sesuai.

Biasanya, content plan dibuat di Excel atau spreadsheet agar timeline konten bisa lebih mudah dibuat.

Kita tinggal menginput tanggal, bulan, tahun dan ide kontennya dengan mudah.

b. Catat Tanggal Tertentu untuk Membuat Konten yang Bersifat Musiman

Terdapat beberapa konten yang hanya cocok digunakan di musim atau tanggal tertentu, sehingga konten tersebut lebih baik dipublikasikan di tanggal tersebut. Contohnya:

  • Coklat di hari valentine (14 Februari)
  • Ki Hajar Dewantara di hari pendidikan (2 Mei)
  • Santa claus di hari natal (25 Desember)
  • Daging sapi, kambing, domba, dan unta (Idul Adha)
  • Opor ayam, kolak pisang, kue nastar, THR (Idul Fitri)
  • Puasa (bulan Ramadhan)
  • Larangan puasa (hari Tasyrik)
  • DBD (musim hujan/pancaroba)

c. Pahami Tujuan dari Pembuatan Konten atau Brand

Cara membuat content plan yang benar adalah mengetahui tujuan dari pembuatan kontent atau brand guideline. Kita mau membawa brand itu jadi seperti apa? Contohnya:

  • Suka membahas taktik sepak bola
  • Lawak dan tidak serius
  • Feminis
  • Edgy 
  • Ahli konstruksi
  • Pro ke hal tertentu
  • Kontra dengan suatu hal

Mengetahui tujuan brand dapat mempermudah dalam membuat content plan.

Selain itu, kalau kita membuat konten untuk perusahaan, ketahui juga apa yang perusahaan tawarkan (jasa/produk). Content plan harus menggambarkan jasa/produk yang mereka jual.

c. Ketahui Kapasitas Pembuat Konten

Berapa total pembuat konten dan kapasitasnya memengaruhi content plan yang dibuat.

Contohnya, satu penulis hanya sanggup menulis empat konten sehari, maka jika hanya ada satu penulis, sesuaikan dengan kapasitasnya.

Kalau memaksa penulis untuk bekerja lebih dari kapasitasnya, percayalah kalau tulisannya akan amburadul dan banyak yang perlu disunting.

d. Masukkan Ide ke Content Plan

Untuk konten yang evergreen (bukan musiman), sebaiknya masukkan saja idenya langsung ke content plan tanpa melihat tanggalnya terlebih dahulu.

Masukkan ide yang kita dapatkan, misalnya dari riset keyword, mendadak muncul saat sedang bermain di luar, atau dari turunan ide yang pernah muncul di kepala.

Mirip-mirip dengan prinsip tulis dulu, lalu edit kemudian. Untuk awal-awal, masukkan seluruh ide terlebih dahulu ke tabel content plan yang dibuat, kecuali khusus konten musiman yang sudah jelas kapan kontennya harus dipublikasikan.

e. Evaluasi Content Plan

Setelah seluruh ide masuk ke content plan, maka kita harus mengevaluasinya.

Lakukan pertanyaan berikut untuk mengevaluasi:

  • Apakah sesuai dengan brand guideline atau apa yang dijual perusahaan/kita jual?
  • Apakah kontennya ada yang “keluar jalur”?
  • Apakah ide kontennya sudah berurutan dengan baik di content plan?
  • Apakah ada konten evergreen yang masuk di tanggal yang sebaiknya adalah konten seasonal?
  • Apakah ada ide yang sama dalam waktu yang berbeda?
  • Apakah ada ide yang lebih baik untuk dimasukkan?
  • Apakah tipe kontennya sudah merata? Atau lebih banyak “jualan” atau “edukasi”?

Jika seluruh jawaban atas pertanyaan di atas adalah iya, maka content plan sudah selesai dibuat dan pembuatan konten siap dilakukan.

f. Jadilah Fleksibel

Karena di zaman digital sekarang banyak sekali info yang viral, fleksibilitas juga diperlukan dalam cara membuat content plan.

Jika ada hal yang viral dan bisa dikaitkan/berkaitan dengan brand-mu, tidak ada salahnya untuk memasukkan ide tersebut ke content plan, tetapi pastikan hal ini terlebih dahulu:

  • Kapasitas kita untuk menulis hal yang viral tersebut
  • Workload pembuat kontennya
  • Apakah kita bermain dengan “api”? Perhatikan risikonya!

Mengikuti tren atau hal yang viral itu boleh saja, tetapi kalau kita sampai salah tanggap karena tidak punya kapasitas atau jadi antagonis bagi opini publik. Maka siap-siap reputasi akan turun atau hancur karena di-cancel.

Apakah Kamu sudah Menerapkan Cara Membuat Content Plan yang Benar?

Cara membuat content plan yang benar akan membuat pekerjaan kita lebih mudah, hemat waktu, dan mendapatkan ide baru yang merupakan turunan dari ide kita sebelumnya.

Mari membuat content plan yang benar agar kita tidak pusing karena kehabisan ide atau mengalami writer’s block!

Author

2 thoughts on “Bagaimana Cara Membuat Content Plan yang Benar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *