Dalam performance marketing, bahkan SEO. Kita bisa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi satu pelanggan. Biaya untuk mengakuisisi satu pelanggan ini dikenal sebagai CAC atau customer acquisition cost.
Berapa CAC ideal? Bagaimana cara menghitungnya dan mengoptimalkannya?
CAC atau customer acquisition cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan 1 pelanggan atau 1 closing, terlepas berapa pun transaksi 1 pelanggan tersebut.
Rumus CAC itu sederhana.
Biaya marketing yang dikeluarkan (misalnya iklan) dibagi dengan jumlah pelanggan yang didapatkan (sudah bertransaksi, terlepas berapa pun jumlah transaksinya).
CAC (rupiah/pelanggan) = jumlah budget marketing yang dikeluarkan/jumlah pelanggan yang didapatkan.
Misal,
1. Pengeluaran dari Meta Ads: 1.000.000
2. Prospek: 50
3. Jumlah prospek yang closing: 10
Berarti CAC-nya adalah pengeluaran dari meta ads dibagi closing -> 1.000.000/10 = 100.000.
Artinya, kamu perlu membayar 100.000 itu mendapatkan 1 pelanggan.
CAC penting karena bisa memberikan gambaran pengaruh bisnis yang lebih jelas dari CPL. Contohnya: CPL murah, tetapi CAC mahal adalah indikasi banyak leads tidak berkualitas. Dengan data ini, kamu bisa menganalisa lebih lanjut dan melakukan perbaikan yang sesuai agar penggunaan budget lebih efektif.
CAC tiap kanal bisa dihitung untuk menentukan bagaimana alokasi budget marketing yang tepat dan adil.
Setiap industri punya CAC ideal yagn berbeda. Umumnya, semakin mahal produk/jasanya, akan semakin mahal CAC-nya. Dikutip dari Zendesk, CAC ideal adalah CLV (customer lifetime value):CAC punya rasio 3:1. Contohnya, jika 1 customer CAC-nya adalah 500.000, maka CLV-nya harus minimal 1,5 juta. Namun, untuk memantau CLV ini perlu CRM yang jelas dan disiplin.
CAC juga bergantung pada kanal yang kamu pakai. Contohnya, CAC dari SEO awalnya pasti besar karena belum menunjukkan hasil, tetapi CAC-nya akan mengecil seiring waktu optimasi terus berjalan.
CAC yang rendah terkadang belum tentu pasti bagus. Cek dulu satu customer membayar sebesar apa dalam transaksinya. CAC 50000, tapi mereka hanya spending 30000, ya tetap rugi dong.
Bandingkan juga dengan metrik lain seperti ROAS (return on ad spent) dan ARPU (average revenue per user).
Jawabannya tidak juga. CAC tinggi, tetapi LTV atau ROAS tinggi masih bisa terbilang bagus, terutama di industri tertentu yang barang atau jasanya sangat mahal.
Meski demikian, CAC tinggi bisa jadi alarm kalau ada yang salah dalam strategi iklan digitalmu.
Kembali lagi, ads itu perlu targetting yang tepat. CAC akan membengkak jika kamu menarget orang yang tidak sesuai personanya dengan produk/jasamu.
Dari pengalaman pemilik blog ini, menarget audiens yang tepat bisa menurunkan CAC dan CPL sekaligus loh.
Tingkatkan jumlah konversi (closing) pasti akan menurunkan CAC. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti:
1. Buat kreatif/KV yang menarik dan bisa menarik akuisisi
2. Optimalkan kecepatan respon di WhatsApp
3. Optimasi landing page website jika arah dari iklannya adalah website
4. Pikirkan hook/copies yang tidak hanya menarik untuk diklik, tetapi juga mendorong pembelian
CAC atau customer acquisition cost harus dihitung. Terkadang, ada yang hanya menghitung CPL (cost per leads) atau CPR (cost per result) tanpa melihat berapa CAC-nya. Contohnya, pada kasus CPL murah, tetapi CAC tinggi bisa menandakan bahwa kita menarget audiens yang kurang berkualitas.
November 2022, pekerja kreatif di seluruh dunia dikejutkan oleh hadirnya produk OpenAI bernama ChatGPT. Perusahaan…
Metrik di performance marketing ada banyak, salah satunya adalah CPL atau cost per leads yang…
Dengan kemunculan AI generatif, terdapat istilah baru, yaitu GEO. GEO cukup berbeda dengan SEO karena…
Studi sebelumnya, pemilik blog ini menguji rekomendasi blog untuk belajar SEO. Studi dengan kueri lokal…
Studi sebelumnya menyoroti bahwa GEO memberikan jawaban yang tidak selalu sama meski prompt-nya sama. Meski…
Kalau kamu suka main game mobile legends, pasti sudah familiar dengan konsep diamonds. Nah, diamonds…