Digital MarketingKepenulisanPengalaman

Cara Membuat Seasonal Content untuk Riding The Trend

Untuk pemilik bisnis atau orang marketing, wajib namanya sadar dengan tren atau musiman karena ada banyak peluang dari hal tersebut. Riding the wave/trend bisa dilakukan dengan seasonal content atau dengan kata lain konten musiman.

Sebenarnya apa itu seasonal content? Mengapa kita perlu hal tersebut? Bagaimana cara membuatnya?

Apa Itu Seasonal Content?

Seasonal content atau dengan kata lain konten musiman adalah konten khusus yang berfokus pada topik tertentu pada tanggal, bulan, atau tahun tertentu.

Konten jenis ini berkebalikan dengan evergreen content yang tidak terikat pada musim atau waktu tertentu agar menjadi topik yang hangat.

Mengapa Seasonal Content Itu Penting?

Pada intinya, seasonal content dapat meningkatkan engagementbrand awareness, dan juga convertion serta revenue jika dilakukan dengan benar.

Yang terpenting, seasonal content membuat brand kita stay relevant dengan zaman. Tidak ada yang menyukai sesuatu yang outdated atau usang.

Manfaat Seasonal Content

Beberapa hal di bawah ini adalah manfaat seasonal content:

  • Menunjukkan expertise dari suatu brand
  • Mengedukasi audiens kita tentang sesuatu yang lagi musim dan bisa disambungkan dengan brand kita
  • Meningkatkan loyalitas klien/customer
  • Mendapatkan respon positif dari audiens
  • Mempromosikan produk/jasa baru yang berkaitan dengan tanggal/bulan/tahun tertentu
  • Kesempatan untuk viral tanpa embel-embel negatif

Catatan, manfaat di atas hanya berlaku jika seasonal content diterapkan dengan benar.

Bagaimana Cara Membuat Seasonal Content dengan Benar?

a. Catat Tanggal pada suatu Tahun yang Relevan dengan Brand

Untuk awal, kita perlu mencatat dulu tanggal apa saja yang menjadi recurring event. Tinggalkan dulu harus relevan dengan brand karena relevansi bisa difilter di langkah selanjutnya.

Catat semua tanggal merah yang ada di kalender masehi untuk pertama. Kemudian, riset tentang berbagai hari tertentu yang biasa dirayakan, tetapi tidak menjadi tanggal merah. Contohnya adalah hari valentine, hari ibu, harbolnas, dan hari anak nasional.

Selain tanggal, beberapa parameter ini bisa dicek juga:

  • Musim/cuaca di bulan tertentu
  • Tokoh besar/viral
  • Kejadian unik/jarang terjadi, tetapi berulang seperti gerhana matahari, gerhana bulan, dan komet (Halley setiap 76 tahun)

Tambahan, Google trend bisa jadi alat untuk melihat suatu tren dalam tanggal tertentu.

b. Filter Tanggal sesuai dengan Brand

Nah, setelah tahu tanggal-tanggal yang recurring event, kita harus mengecek relevansi tanggal tersebut dengan brand kita.

Jangan asal maksa ikut-ikutan, apalagi kalau ternyata tanggalnya tidak relevan dengan brand kita. Yang ada malah dihujat netizen atau bikin brand kelihatan tidak punya pendirian.

Contoh: buat apa brand HSE merayakan hari susu? Jelas tidak nyambung kan?

c. Masukkan Ide Konten yang Relevan di Content Plan

Setelah memfilter, kita bisa mencari ide konten yang sesuai dengan musimnya dan memasukannya ke dalam content plan.

Agar tidak tumpang tindih, seasonal content dimasukkan terlebih dahulu daripada evergreen content.

d. Tentukan Bentuk Media Apa yang Cocok untuk Seasonal Content

Dari ide konten, tentukan bentuk media apa yang paling cocok sebagai kontennya, misalnya:

  • Tulisan
  • Gambar
  • Video

e. Atur Load Pembuatan Konten

Tidak masalah untuk membuat semua jenis kontennya. Pastikan kalau tim content creator punya kapasitas yang cukup dan channel digital marketing yang dimiliki pas untuk medianya.

Untuk tulisan:

  • E-mail marketing
  • Media sosial Twitter/Threads
  • Blog

Untuk gambar:

  • Instagram

Untuk video:

  • YouTube
  • TikTok

e. Membuat Content Brief

Selesai mengatur pembuatan konten, waktunya buat content brief.

Content brief untuk seasonal content harus dibuat dengan hati-hati, terutama jika berkaitan dengan hari keagamaan tertentu. Jangan bermain dengan api (SARA) hanya demi mengincar engagement.

Untuk menghindari backfire, pelajari asal-usul dari tanggal spesial tersebut. Contohnya, hari kemerdekaan Indonesia adalah hari yang dirayakan karena pada tanggal tersebut, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Terakhir, ucapan selamat hari xx jadi kewajiban untuk brand.

f. Buat Kontennya sebelum Waktunya Post

Agar tidak keteteran, ada baiknya seasonal content dibuat sebelum tanggal waktunya mempublikasikan konten tersebut.

Mengerjakan dengan buru-buru hanya bikin kontennya banyak revisi karena kesalahan. Misalnya, tulisan yang buru-buru dibuat, biasanya akan banyak kesalahan seperti typo.

g. Jadwalkan Penayangan Kontennya

Oke, semua selesai, kontennya juga sudah jadi. Langkah terakhir adalah menjadwalkan kontennya agar kita tidak perlu repot post dengan manual.

Media sosial seperti Facebook biasanya punya scheduler agar kontennya dipublikasikan dengan otomatis sesuai jadwal yang kita atur.

Tools e-mail marketing seperti mailchimp juga punya scheduler agar e-mail dikirim di waktu tertentu.

Apa yang perlu Dilakukan setelah Seasonal Content Dipublikasikan?

Bergantung channel digital marketing-nya, kita harus mengecek metric yang relevan dengan seasonal content yang kita buat.

Contohnya, di Instagram, kita bisa memantau berapa reach dan engagement dari seasonal content yang kita buat.

Kalau promosi produk atau flash sale di tanggal tertentu, kita bisa track berapa convertion rate atau revenue di tanggal tersebut.

Intinya, jangan lupa evaluasi. Jangan post, lalu pergi begitu saja.

Contoh Ide Seasonal Content di Indonesia

Berikut beberapa contoh ide untuk seasonal content di Indonesia.

  • Peran ibu dalam keluarga pada hari keluarga nasional dan hari ibu
  • Konsumsi daging merah setelah Idul Adha
  • Manfaat puasa di bulan Ramadhan
  • Tips mengelola THR setelah Idul Fitri
  • Promosi susu untuk pertumbuhan anak di hari anak nasional
  • Promosi payday di tiap tanggal gajian

Ikuti yang sedang Musim, tetapi bukan sekedar Ikut-Ikutan

Seasonal content bisa jadi metode yang bagus untuk marketing. Meski demikian, jangan sekedar ikut-ikutan saja seperti bikin konten yang ikut musim tertentu seperti tanggal merah, tetapi tidak paham asal-usul mengapa tanggal tersebut bisa jadi tanggal merah.

Kesalahan dalam seasonal content dapat menyebabkan orang-orang kehilangan kepercayaan terhadap brand, apalagi kalau berkaitan dengan SARA. Jadi, berhati-hatilah saat riding the wave. Peselancar yang tidak bisa riding the wave pasti akan merasakan ganasnya ombak.

Author

One thought on “Cara Membuat Seasonal Content untuk Riding The Trend

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *