Content WritingCopywriting

Kelebihan dan Kekurangan Menulis tanpa Editor

Pernahkah kamu menulis tanpa editor? Mungkin rasanya lebih bebas ya? Apalagi kalau kamu punya pengalaman yang tidak enak seperti bertengkar dengan editor akibat banyak masukan yang mengganggu, apalagi kalau feedback-nya cukup harsh.

Meski terkadang editor itu menyebalkan, sebagai penulis, kita masih memerlukan mereka loh.

Yuk telusuri apa kelebihan dan kelemahan dari menulis tanpa editor!

Kondisi yang Membuat Seorang Penulis Menulis tanpa Editor

Ada beberapa alasan mengapa seorang penulis tidak punya editor. Misalnya:

a. Pernah Bekerja dengan Editor yang Buruk Komunikasinya

Tidak semua editor punya kemampuan untuk memberikan masukan konstruktif. Ada juga editor yang sekedar tahu beres, bahkan kalau memberikan masukan, tidak jelas apa yang harus diperbaiki.

Hal seperti ini membuat seorang penulis malas bekerja dengan editor hingga akhirnya tidak mau ada editor, alias, editornya diri sendiri saja.

b. Takut Merusak Tone of Voice yang Dia Buat

Khusus blog pribadi, editor belum tentu paham dengan tone of voice yang tepat.

Blogger (seperti saya) tidak mau merekrut editor karena mereka bisa saja merusak tone of voice yang biasa saya terapkan.

Berbeda dengan media besar di mana editor harusnya sudah dapat brief lengkap dan paham soal brand guideline mereka.

c. Tidak punya Uang untuk Merekrut Editor

Ini alasan paling klasik, ujung-ujungnya duit.

Editor adalah sebuah profesi, sehingga sama sekali tidak elok jika penulis atau owner media tidak menggaji mereka apalagi volunteer saja.

Untuk menjawab pertanyaan “gaji editor profesional?” jawabannya ada di tautan ini!

Kelebihan Menulis tanpa Editor

a. Waktu End-to-End dari Draft Pertama hingga Posting lebih Cepat

Sejauh pengalaman penulis, kelebihan menulis tanpa editor adalah waktu antara pembuatan draft pertama adalah waktunya jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan adanya editor.

Cukup self-editing saja, jadi tidak perlu minta editor untuk menyunting, sehingga prosesnya bisa lebih cepat.

b. Tidak Ada Konflik yang Tidak Berarti

Karena menyunting sendiri, tidak ada konflik karena perbedaan pendapat dengan editor.

Kekurangan Menulis tanpa Editor

a. Banyak Kesalahan yang Luput dari Penglihatan

Kalau menyunting sendiri, kita hanya mengandalkan dua mata kita sendiri saja untuk melihat kesalahan dalam penulisan, sehingga peluang adanya kesalahan yang luput dari penglihatan akan membesar.

Jika ada editor, maka akan ada empat mata yang mengawasi, sehingga peluang adanya kesalahan dalam penulisan seperti typo bisa dicegah.

b. Tidak Mendapatkan Masukan

Penulis sendiri hanya punya satu kepala. Itu berarti idenya juga hanya dari satu kepala saja.

Jika ada editor, terdapat dua kepala yang punya ide dan pemikiran yang berbeda.

Masukan/feedback, baik itu yang baik atau pun yang keras tetap dibutuhkan dari editor agar tulisan bisa lebih baik.

Apakah kita perlu Editor?

Menurut penulis, editor akan selalu dibutuhkan oleh penulis sebagai partner untuk membuat tulisan terbaik.

Lagipula, profesi editor itu lahir karena tidak ada draft pertama yang sempurna di dunia ini. Draft pertama pasti akan selalu jelek, sejago apa pun penulisnya.

Mengapa Editor akan Memberikan Nilai Tambahan pada Tulisan?

Sebgai tugas mereka, editor akan memberikan masukan yang konstruktif terhadap draft tulisan. Anggap saja draft pertama tulisan kita adalah barang mentah yang baru saja diolah, tapi belum layak/baru tahap QC sebelum dijual ke publik.

Jadi, editor akan memberikan masukan agar produk (tulisan) kita bisa punya kualitas lebih bagus, sehingga saat dibaca oleh orang banyak atau target pembaca. Tujuan tulisannya akan tercapai. Tidak hanya sekedar tulisan tanpa typo saja.

Sebenci-Bencinya Penulis dengan Editor, Sebagai Penulis, Kita tetap Memerlukan Editor

Dalam pengalaman 3 tahun menulis, penulis juga pernah punya konflik dengan editor, terutama dengan editor yang tidak bisa menyampaikan feedback secara konstruktif.

Namun, tidak semua editor itu menyebalkan kok. Ada juga editor baik yang bisa memberikan masukan dengan konstruktif dan tidak asal-asalan dalam mengkritik.

Meski kamu bisa saja tidak suka atau malah benci dengan editor. Profesi penulis akan selalu membutuhkan editor agar bisa menciptakan tulisan yang berkualitas tinggi.

Kalau kamu saat ini sedang berkonflik dengan editor, cobalah untuk memperbaiki hubungan tersebut. Misalnya dengan komunikasi dua arah agar tercipta win-win solution bagi penulis dan editor.

Happy writing!

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *