Istilah writer (penulis) dan author (pengarang/pencipta) sering kali dianggap memiliki makna yang persis sama. Padahal, baik dari sudut pandang kosa kata, industri penerbitan, hingga legalitas hak cipta, keduanya memiliki cakupan peran dan tanggung jawab yang berbeda.
Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar tidak ada kesalahan ketika menyebut peran. Miskomunikasi bisa berdampak buruk haha.
Berikut beberapa perbedaan writer dan author.
Author bisa saja menjadi writer, tetapi writer tidak selalu menjadi author.
Author bisa menjadi pemegang ide konseptual sekaligus eksekutor, tetapi writer belum tentu yang punya ide konseptualnya.
2. Kepemilikan Ide dan Hak Cipta
Author memegang hak cipta (copyright) atas ide orisinal dan karakter yang diciptakan. Karya yang dihasilkan dikreditkan atas nama mereka. Misalnya, pada karya ilmiah, first author memiliki kepemilikan ide serta kontribusi yang paling tinggi di antara semua author lainnya.
Sebaliknya, writer tidak selalu memiliki ide atau hak cipta atas tulisan tersebut. Contoh paling jelas adalah ghostwriter (penulis bayangan) atau copywriter teknis yang menulis materi atas pesanan pihak lain. Jika kamu jeli membaca kontrak kerja, sepengalaman pemilik blog ini, hak cipta karya atas content writer umumnya adalah milik perusahaan.
3. Fokus Pekerjaan dan Tanggung Jawab
Author berfokus pada pengembangan konsep utama, narasi besar, penyampaian pesan, dan keautentikan karya secara menyeluruh. Meski tetap bisa juga menjadi penulis atau eksekutor tulisannya. Di sisi lain, writer berfokus pada keterampilan teknis merangkai kata, kejelasan tata bahasa, penyuntingan gaya bahasa, dan penyampaian pesan agar sesuai dengan arahan (brief).
4. Jenis Karya yang Dihasilkan
Author umumnya diasosiasikan dengan novel, buku non-fiksi, jurnal ilmiah, teks akademik, atau naskah sandiwara/drama. Contohnya, pada
jurnal ilmiah ini, pemilik blog ini dapat dikatakan sebagai author-nya. Namun, writer mencakup ranah yang lebih luas seperti artikel blog, artikel berita, dokumentasi teknis, teks iklan (
copywriting), hingga caption di media sosial. Blog ini writer-nya adalah pemilik blog ini.
5. Kapan Seseorang Disebut Writer atau Author
Menentukan status seseorang sebagai writer atau author biasanya bergantung pada konteks apa karya yang diterbitkan atau dibuat:
Contoh Kasus Seorang Writer
-
Ghost Writer: Penulis yang disewa oleh seorang tokoh publik untuk menulis otobiografi. Tokoh publik tersebut adalah author-nya (karena ide dan kisahnya milik mereka), sedangkan orang yang mengeksekusi otobiografinya adalah writer (tidak disebutkan namanya pada karya)
-
Content Writer / SEO Writer: Seseorang yang menulis artikel blog post berdasarkan arahan/brief dari SEO specialist. Untuk hal ini, belum tentu penulisnya menjadi ghost writer, misalnya karena untuk meningkatkan E-E-A-T
Contoh Kasus Seorang Author
-
Novelis: Seseorang yang merancang plot, membangun karakter, dan menulis sendiri seluruh isi novelnya dari awal hingga terbit.
-
Peneliti Akademik: Akademisi, peneliti, mahasiswa, atau dosen yang mempublikasikan hasil temuan, teori baru, atau review literatur. Walaupun pembahasannya bisa saja ditulis secara kolektif, mereka diakui sebagai author riset tersebut. Tinggal masalah di urutan nama author-nya saja.
Author dan Writer adalah Dua Hal yang Berbeda
Meski writer dan author memiliki perbedaan fokus pada eksekusi dan kepemilikan ide, keduanya merupakan pilar utama dalam dunia literasi dan industri media. Kombinasi antara kedalaman gagasan seorang author dan keahlian merangkai kata seorang writer adalah kunci terciptanya karya tulisan yang berkualitas.
Pemilik blog ini pernah menjadi keduanya, author dan writer. Author ketika publikasi jurnal ilmiah dan writer ketika menulis untuk blog post. Keduanya memiliki kesenangannya tersendiri. Bahkan ketika mempublikasikan artikel ilmiah, pemilik blog ini berperan sebagai author dan writer sekaligus 🙂