Kepenulisan

Redundansi Kata/Kalimat dalam Tulisan – Mubazir dalam Menulis?

Tanpa kita sadari, saat membuat draft pertama tulisan, terkadang kita membuat kata/kalimat yang redundant atau ada redundansi pada paragraf.

Redundansi pada kata/kalimat ini dapat menurunkan readability  dan membuat bosan pembaca loh. Jadi, kita harus hati-hati ketika menulis/menyunting.

Apa yang harus dilakukan?

Apa Itu Redundansi?

Menurut KBBI, redundansi punya 3 makna, yaitu:

  • Kemubaziran;kelewahan
  • Duplikasi
  • Repetesi/pengulangan

Jadi, redundansi dalam artikel/tulisan atau redundant bisa diartikan sebagai adanya pengulangan kata/kalimat yang tidak perlu (biasanya dalam satu paragraf), sehingga tulisannya terasa mubazir.

Penyebab Terjadinya Redundansi

Sama seperti kesalahan dalam penulisan pada umumnya, redundansi bisa terjadi karena sifat alamiah manusia dalam menulis. Jadi wajar sekali jika pada draft pertama terjadi redundansi atau terlihat ada kata/kalimat yang repetitif.

Jika setelah terpublikasi masih ada redundansi, itu berarti editornya skip atau gagal melihat adanya redundansi tersebut.

Contoh Redundansi pada Kalimat

Berikut contoh kalimat yang redundant (ada redundansi)

  • Apakah pertanyaan ini merupakan pertanyaan bodoh? Karena pertanyaan bodoh itu adalah bukti bahwa kebodohan itu tidak ada batasnya!
  • HP itu sangatlah bagus dibandingkan dengan HP lainnya serta HP yang ada di toko sebelah
  • Sehat jasmani dan rohani adalah tujuan yang bagus karena sehat itu mahal. Sehat itu keinginan orang yang sakit, sehingga kita harus sehat
  • Selimut itu tebal, sementara itu selimut itu tipis, padahal selimut itu gunanya adalah menghangatkan badan

Mengapa Jangan Sampai Ada Redundansi pada Tulisan?

Bisa dilihat dari contoh redundansi kalimat. Terlihat bahwa kalimatnya kurang enak dibaca, baik itu di dalam hati atau pun secara lisan.

Kalau tulisannya kurang enak dibaca, besar kemungkinan tujuan dari tulisan kita tidak tercapai karena pembaca sudah malas membacanya atau tidak lagi berminat untuk lanjut membaca sapai habis.

Selain itu, dalam SEO, adanya redundansi merupakan indikasi bahwa keyword density yang tinggi atau terjadinya keyword stuffing yang termasuk teknik black hat SEO.

Cara Mencegah dan Mengatasi Redundansi

Cara mencegah dan mengatasi redundansi pada dasarnya adalah:

  • Tidak melewatkan proses penyuntingan
  • Memperbanyak kosakata dan pengetahuan tentang sinonim agar pilihan diksi bisa semakin banyak

Redundansi adalah kesalahan dalam penulisan yang lumrah terjadi dan sangat alami, terutama pada draft pertama. Karena itu, untuk mencegah dan mengatasi redundansi adalah kembali ke penyuntingan, baik itu self editing yang dilakukan oleh penulis atau pun penyuntingan yang dilakukan oleh editor.

Proses penyuntingan yang baik akan menemukan redundansi (jika ada), sehingga bisa ada perbaikan dan saat tulisannya dipublikasi, tidak ada kata/kalimat yang mubazir.

Untuk mengetahui cara menyunting artikel secara lengkap, kamu bisa mengetahuinya di tautan ini!

Redundansi dapat Diminimalkan!

Saat membaca tulisan yang ada redundansinya, mungkin saja kita merasa kesal atau kurang enak karena rasanya mubazir ada kata/kalimat yang repetitif, padahal sebenarnya ada diksi yang bisa jadi penggantinya dan tetap punya makna yang sama.

Redundansi tidak dapat dicegah karena kesalahan dalam penulisan dan merupakan bagian dari proses alamiah manusia dalam menulis, terutama pada draft pertama. Namun, hal tersebut bisa diminimalkan dan diatasi dengan proses penyuntingan yang baik.

Kalau ada redundansi? Jangan marah dulu, langsung perbaiki!

Happy writing!

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *