Promosi

Salah Kaprah Penerapan E-E-A-T, Tidak Sesimple Ataupun Serumit Itu!

November 2022, pekerja kreatif di seluruh dunia dikejutkan oleh hadirnya produk OpenAI bernama ChatGPT. Perusahaan yang didirikan oleh Sam Altman, John Schulman, dan Elon Musk ini berhasil mengubah persepsi pengguna internet akan chatbot.

Chatbot yang dulu dianggap sebagai kecerdasan buatan yang hanya bisa menjawab pertanyaan yang diajukan sesuai program yang ada, kini dapat melakukan sesuatu yang jauh lebih kompleks.

ChatGPT, chatbot berbasis artificial intelligence menggunakan model Large Language Model ini mampu menghasilkan teks baru seperti memproduksi artikel, membuat kode pemrograman, membuat dokumen, hingga pekerjaan kreatif berhubungan dengan grafis seperti gambar atau video.

Kemampuan canggih ini seketika langsung mengubah arah dan sistem kerja dunia kreatif, tidak terkecuali dalam bidang pemasaran termasuk SEO. Meskipun tidak dominan berada di ranah kreatif, kehadiran ChatGPT mengubah cara pengguna dalam menerapkan SEO.

Hanya berselang satu bulan kemudian, Google, perusahaan informasi terbesar di dunia meluncurkan algoritma ranking terbaru bernama E-E-A-T. E-E-A-T adalah singkatan dari Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness. Algoritma ini ditujukan sebagai pengganti E-A-T.

Terdapat banyak spekulasi yang beredar mengapa Google sampai mengganti algoritma rankingnya. Salah satu alasannya adalah menjamin pengguna tetap mendapatkan informasi yang berkualitas dan terhindar dari konten tidak berkualitas hasil produksi spam AI.

E-E-A-T menjadikan pengalaman pencarian pengguna lebih personal. Tambahan elemen Experience menegaskan bahwa konten yang diproduksi memiliki elemen personal yang kuat, semisal konten ulasan produk yang mesti ditulis oleh orang yang benar-benar pernah menggunakan produk tersebut.

Lantas, benarkah pengertian E-E-A-T yang seperti ini? Pengertian E-E-A-T seperti ini tidak salah, tetapi juga tidak benar sepenuhnya. Pengertian E-E-A-T tidak sesimple itu. Tetapi, perlu diketahui juga bahwa pengertian E-E-A-T juga tidak serumit yang dibayangkan.

Lalu, bagaimana pengertian E-E-A-T yang sebenarnya?

Pengertian E-E-A-T

Sekali lagi, E-E-A-T adalah kependekan dari Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness.

Menurut hemat penulis, E-E-A-T adalah:

“Bagaimana caranya pengguna dapat merancang konten website yang mampu memberikan pengalaman yang baik kepada pengunjung, mampu menggambarkan keahlian, memiliki otoritas yang kuat pada bidang yang dibahas, dan dapat dipercaya sebagai sumber yang kredibel”

Mari kita fokus pada elemen baru, yakni experience atau pengalaman. Berbicara tentang pengalaman pengunjung website, kita tentu akan mempelajari banyak faktor.

Menurut hemat penulis, pengalaman pengunjung website terbagi ke dalam dua jenis utama. Jenis yang pertama adalah yang berhubungan langsung dengan konten dan jenis yang kedua berhubungan dengan teknis website.

Adapun jenis yang pertama, yakni berhubungan dengan konten seperti:

  • Kebermanfaatan konten.
  • Aksesibilitas konten.
  • Keterbacaan konten.
  • Kredibilitas konten.
  • Personalisasi konten.

Lalu untuk jenis yang kedua berkaitan dengan:

  • Kecepatan website.
  • Keamanan website.
  • Responsivitas website.

Mengetahui hal ini, Anda pasti sedikit mengerti bahwa penerapan E-E-A-T tidaklah semudah memenuhi checklist di bawah ini:

  • Membuat banyak konten ulasan personal.
  • Menggunakan gambar atau video orisinil
  • Memasukkan biodata penulis di akhir konten.
  • Memuat banyak testimoni, studi kasus, portofolio.
  • Dan lain sebagainya.

Bukan berarti teknik-teknik di atas tidak penting, hanya saja penerapan E-E-A-T tidak pernah berhenti list di atas sudah Anda berikan checklist.

Kredibilitas Website Dipengaruhi Banyak Model Heuristik

Kredibilitas website tinggi sebagai hasil akhir yang diharapkan dari penerapan E-E-A-T juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengalaman menyenangkan pengunjung website juga termasuk di dalamnya.

Shyam Sundar dalam jurnalnya yang berjudul The MAIN Model: A Heuristic Approach to Understanding Technology Effects on Credibility menjelaskan bahwa kredibilitas website atau teknologi pada umumnya terkadang dapat timbul dari seberapa baik fitur digital di dalamnya.

Tetapi, ini bukan berarti fitur digital dapat diandalkan sepenuhnya. Temuan dari Shyam Sundar ini menjelaskan terkadang website dapat dianggap kredibel hanya karena beberapa model heuristik, seperti:

1. Machine heuristic, contohnya website yang tampil di Google News dianggap lebih kredibel dibanding yang tidak.

2. Bandwagon heuristic, di mana kita percaya sebuah website kredibel karena banyak orang lain yang berpikir seperti itu.

3. Social presence heuristic, website dianggap lebih kredibel apabila mampu memberikan pengalaman atau komunikasi bisnis yang manusiawi.

4. Activity heuristic. Website dianggap kredibel apabila mampu memberikan ruang untuk pengunjung banyak terlibat.

5. Control heuristic. Website dianggap kredibel apabila mampu memberikan kendali akan sistem. Biasanya diterapkan pada website SaaS.

Serta heuristik lainnya.

Jurnal Sundar ini semakin membuka mata kita bahwa penerapan E-E-A-T tidak akan berhenti hanya karena Anda sudah memenuhi beberapa checklist. Lagi pula, tidak akan pernah ada checklist yang benar-benar dapat memenuhi total penerapan E-E-A-T.

Website yang bahkan tidak memuat biodata penulis di akhir konten, menggunakan gambar atau video orisinil, dan lain sebagainya, bisa saja memiliki performa E-E-A-T yang diharapkan dan terus ranking di halaman 1 Google.

Kata Orang Google Terkait Penerapan E-E-A-T

Penjelasan di atas memberikan kita gambaran jelas bahwa penerapan E-E-A-T terjadi secara natural dan tidak dapat dimanipulasi. Search Advocate Google John Mueller dalam acara Search Central Live New York City mengatakan:

Anda tidak bisa menambahkan E-E-A-T ke halaman web seperti menambahkan bumbu masakan

Ia mengatakan bahwa penerapan E-E-A-T website bersifat holistik dan dievaluasi langsung oleh Google.

Referensi:

Sundar, S. Shyam. “The MAIN Model: A Heuristic Approach to Understanding Technology Effects on Credibility.” Digital Media, Youth, and Credibility. 

Artikel ini ditulis oleh guest poster: Andri Marza Akhda seorang SEO Specialist dari salah satu Agency di Yogyakarta. Sekarang, Andri sedang mengembangkan blog SEO-nya sendiri dengan branding Naseonal.

Silakan kunjungi naseonal.com untuk dapatkan informasi seputar SEO menarik lainnya.

Author

Faris Yudza Ghifari, S.Si. (Certified Impactful Writer)

Faris Yudza Ghifari. Digital Marketing & Website Associate di PrimeCare Clinic. Berpengalaman di niche kesehatan, pemasaran, dan engineering (alat laboratorium dan energi terbarukan)

Recent Posts

CPL (Cost per Leads) – Biaya untuk Mendapatkan 1 Prospek

Metrik di performance marketing ada banyak, salah satunya adalah CPL atau cost per leads yang…

6 days ago

CAC (Customer Acquisition Cost) – Biaya yang Diperlukan untuk Mendapat 1 Pelanggan

Dalam performance marketing, bahkan SEO. Kita bisa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi satu…

6 days ago

7 Perbedaan SEO dan GEO – Tidak hanya Beda di S dan G

Dengan kemunculan AI generatif, terdapat istilah baru, yaitu GEO. GEO cukup berbeda dengan SEO karena…

1 week ago

Studi Kasus GEO Indonesia dengan Local Query – Studi pada Prompt “Rekomendasi Nasi Goreng Terdekat” pada Gemini

Studi sebelumnya, pemilik blog ini menguji rekomendasi blog untuk belajar SEO. Studi dengan kueri lokal…

2 weeks ago

Studi Kasus GEO Indonesia – Studi pada Prompt “Rekomendasi Blog untuk Belajar SEO yang Memakai Bahasa Indonesia

Studi sebelumnya menyoroti bahwa GEO memberikan jawaban yang tidak selalu sama meski prompt-nya sama. Meski…

2 weeks ago

Rekomendasi Platform Official Top Up Diamonds – Pemain Mobile Legends Wajib Tahu!

Kalau kamu suka main game mobile legends, pasti sudah familiar dengan konsep diamonds. Nah, diamonds…

2 weeks ago