Digital Marketing

Social Proof – Bukti Pentingnya Testimoni?

Pernah tidak saat kamu mau beli sesuatu, kamu tidak jadi membelinya karena tidak ada review sama sekali? Atau sebelum membeli barang, kamu melihat review, komentar, atau bertanya kepada teman dulu? Sebenarnya, hal tersebut adalah bukti dari pentingnya social proof, salah satu psikologi marketing.

Percaya atau tidak, social proof ini penting sekali, apalagi di era post-truth atau derasnya arus informasi. Lalu, apa sih social proof ini? Bagaimana contohnya?

Apa Itu Social Proof?

Social proof adalah istilah yang dibuat oleh psikologis bernama Robert Cialdini tentang bagaimana respon seseorang dalam menghadapi hal yang tidak mereka ketahui. Ingat bahwa salah satu insting bertahan hidup manusia adalah fear of the unknown atau ketakutan akan hal yang tidak diketahui.

Daripada mengandalkan ilmu pengetahuan atau pun intuisinya, manusia menggunakan petunjuk dari orang lain sebagai referensi tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Dalam marketingsocial proof adalah alat yang kuat. Keputusan seseorang dalam melakukan pembelian bisa dipengaruhi oleh social proof. Misalnya, yakin dengan bukti dari testimoni atau perkataan teman yang pernah memakai suatu produk/jasa.

Manfaat Social Proof

Banyak sekali manfaat dari social proof, kalau tidak. Tidak mungkin brand tidak menggunakannya.

a. Membangun Kredibilitas

Manfaat social proof yang paling jelas adalah membangun kredibilitas atau kepercayaan.

Bayangkan ketika kita melihat suatu perusahaan yang mau kita lamar, namun tidak ada Google review-nya, pasti kita akan menganggap perusahaan itu scam bukan?

Begitu juga dalam marketing untuk produk/jasa. Kita juga akan ragu kalau barangnya tidak ada review atau foto dari orang yang pernah membeli barangnya.

b. Meningkatkan Conversion Rate

Turunan dari kredibilitas yang naik karena social proofconversion rate akan ikut meningkat.

Testimoni yang ditunjukkan di homepege suatu situs brand bertujuan untuk hal yang satu ini (tentunya).

c. Brand Awareness Naik

Ketika kita mendapatkan social proof dari pihak yang berpengaruh seperti figur publik, social proof ini akan punya tambahan bias kognitif berupa authority biasSemakin powerful marketing yang kamu lakukan.

Tidak hanya soal kepercayaan saja, tetapi juga naiknya brand awareness. Bisa jadi kita akan mendapatkan KOL gratis jika servis/produknya dianggap sangat memuaskan.

d. Mengurangi/Meniadakan Keraguan dari Calon Klien/Customer

Poin ini masih nyambung dengan poin b.

Social proof berupa testimoni bisa menghapus keraguan dari customer, apalagi jika yang memberi testimoni punya persona yang mirip dengannya.

Contoh Penerapan Social Proof

Banyak sekali contoh penerapan social proof, contohnya:

  • Agensi yang mencantumkan brand klien pada situsnya
  • Review dan komentar pada barang yang dijual e-commerce 
  • Testimoni dari pengguna produk/jasa
  • Kita bertanya kepada orang yang pernah menggunakan produk/jasa sebelum membeli
  • Review di Google review

Bagaimana Cara Menerapkan Social Proof (Best Practice)?

a. Tidak Menyia-Nyiakan Pelanggan/Klien Pertamamu

Klien pertamamu adalah potensi review bintang 5 atau social proof pertamamu.

Ketika mendapatkan klien pertama atau baru dalam bisnismu, pastikan kalau kamu melakukan yang terbaik agar membekas di hati mereka, sehingga social proof akan didapatkan.

Social proof pertama ini akan jadi penentu apakah bisnismu akan terus berkembang atau malah mandek karena review negatif.

Kalau di dunia freelancer, jangan pernah menyia-nyiakan klien pertama.

b. Meminta Review, namun Tidak Memaksa

Setelah klien selesai dengan menikmati produk/jasa, mintalah consent untuk memberikan review positif. Namun, jangan memaksa ya.

Mirip dengan outreach untuk minta backlink ke pemilik situs lain atau meminta komentar positif, jangan pernah memaksa!

Memaksa justru akan menimbulkan kesan negatif.

c. Berikan Servis/Pelayanan/Produk Terbaik

Terkadang, ada orang yang mau review positif untuk social proof. Namun, lupa untuk memberikan servis/pelayanan/produk terbaik.

Bayangkan ketika review-nya positif semua, tetapi ternyata realita lapangannya berbanding terbalik? Bukannya kepercayaan yang didapat, justru sebaliknya. Brand yang dibangun bisa hancur.

d. Optimalkan CRM (Customer Relationship Management)

Marketing yang benar tidak akan selesai setelah produk/jasa dibeli. Justru, kita menjalin hubunan dengan klien kita setelah membeli (after sales).

Tawarkan banyak hal, seperti produk baru beserta tawaran review jika berkenan ketika ia telah selesai menikmati produk/jasa kita.

e. Menampilkan Testimoni Positif

Kalau tujuan situs kita adalah untuk menjual produk/jasa, maka menampilkan testimoni positif adalah hal yang wajib dilakukan.

Bisa dengan screenshot percakapan atau kata orang. Artikel blog juga bisa jadi media testimoninya.

f. Berpartner dengan Pihak Berpengaruh

Dengan authority bias, maka kita juga bisa menggabungkannya dengan social proof lewat KOL marketing.

Pihak berpengaruh ini tidak hanya sekedar publik figur semata, namun juga brand-brand ternama.

g. Merespon Testimoni Negatif

Dalam manajemen reputasi atau PR, jangan biarkan testimoni negatif menjadi api kecil yang berkembang lebih besar.

Segera padamkan dengan cara yang benar. Bahkan bentuk tanggung jawab atas testimoni negatif akan memancing social proof yang bagus.

h. Optimalkan Fitur seperti Verified

Mungkin kamu tidak asing dengan fitur seperti centang biru atau verified user.

Pakai fitur tersebut sebagai social proof, terutama jika kamu memakai kanal marketing KOL (key opinion leader).

Apakah Fake Review atau Buzzer dapat Membantu dalam Social Proof?

Terkadang, ada juga yang melakukan abuse dari social proof ini, misalnya:

  • Fake order untuk bisa memberikan review bintang 5
  • Menyewa buzzer untuk memberikan review yang bagus dan merespon kejadian yang buruk
  • Memakai jasa rating untuk mendapatkan rating yang bagus

Secara integritas tentu saja hal ini salah. Namun, masih banyak pihak yang menggunakan cara ini.

Hasilnya akan snowballing jika kualitas dari produk/jasamu tidak sesuai dengan review. Banyak orang yang akan meyakini bahwa review dari produk/jasamu itu palsu alias tidak organik.

Dalam penerapan local SEO sendiri, Google melarang praktik seperti ini karena cenderung deceptive, sehingga buruk untuk user experience.

Social Proof Bukan Sembarang “Bukti”

Social proof adalah psikologi marketing yang sebaiknya kamu manfaatkan dalam bisnis atau sebagai marketer.

Di era derasnya arus informasi dan belanja online, banyak kecenderungan bagi konsumen untuk bertanya ke orang lain atau melihat adanya social proof sebelum membeli sesuatu, seperti testimoni.

Hilangkan keraguan calon klien/pelangganmu dan nikmati hasilnya!

Referensi:

https://sproutsocial.com/glossary/social-proof/

https://blog.hubspot.com/service/psychology-social-proof#social-proof-examples

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *