Lomba

4 Cara Menerapkan Nilai Pancasila di Masa Kini dan Kehidupan Sehari-Hari

4 Cara Menerapkan Nilai Pancasila di Masa Kini dan Kehidupan Sehari-Hari

(Tulisan ini berhasil juara 3 di kompetisi  artikel Be Proud Season 7 tingkat umum dengan tema Pancasila)

Di era digital dan globalisasi sekarang ini, sepertinya penerapan nilai Pancasila semakin luntur. Bagaimana tidak? Banyak kasus seperti kenakalan remaja, dukungan gerakan separatis dari aktivis centang biru Twitter secara terang-terangan, seringnya perkelahian sebagai penyelesaian suatu masalah, dan keadilan berdasarkan siapa yang kekayaannya atau jabatannya paling besar.

Sangat disayangkan karena Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang bisa menyatukan bangsa Indonesia yang keanekaragamannya sangat tinggi. Bayangkan saja, ada lebih dari sepuluh ribu pulau dengan suku bangsa dan bahasa daerah yang berbeda-beda. Padahal Pancasila bagus konsepnya, tetapi penerapannya terlihat semakin memprihatinkan di masa kini.

Meski terlihat hopeless, kita masih bisa menerapkan nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari kok agar nilai Pancasila tetap terjaga. Yuk terapkan hal ini:

1. Bergotong Royong dalam Bertetangga

Gotong royong adalah bentuk penerapan nilai Pancasila yang semakin usang penerapannya karena semakin maraknya gaya kehidupan yang bersifat individualisme. Padahal, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain.

Karena manusia adalah makhluk sosial, dalam kehidupan bertetangga, kita bisa melakukan gotong royong. Bentuk gotong royongnya bisa berupa kerja bakti, saling memberi bantuan di kala sulit, dan menawarkan pekerjaan kepada yang cocok dan membutuhkan.

Sering melakukan gotong royong akan menumbuhkan rasa solidaritas, sehingga persatuan akan terus terjaga.

2. Tidak Mengganggu Ibadah Umat Agama Lain

Pancasila mengakomodir kebebasan beragama. Kalau kamu beragama A, maka jangan mengganggu orang dengan agama B yang sedang melakukan ibadahnya. Kamu pasti tidak mau diganggu saat beribadah bukan? Berempati saja sebenarnya cukup untuk menyelesaikan masalah ini.

Dengan tidak mengganggu ibadah umat agama lain, kita sudah menerapkan sifat bertoleransi antar umat beragama.

Orang yang berbeda agamanya denganmu adalah saudara dalam kemanusiaan. Jadi, yuk terapkan toleransi antar umat beragama!

3. Mengedepankan Musyawarah dan Mufakat dalam Penyelesaian Masalah

Jangan “sumbu pendek” dan mengedepankan otot dalam menyelesaikan masalah. Sebagai manusia Indonesia yang cerdas, selayaknya mengedepankan musyawarah dan mufakat saat terjadi konflik.

Musyawarah dan mufakat akan menghasilkan komunikasi dua arah yang baik dan win win solution, ketimbang berkelahi yang akan menghasilkan “menang jadi arang, kalah jadi abu”.

Mari mulai memprioritaskan musyawarah dan mufakat saat ada masalah daripada bertengkar dan adu jotos. Kita adalah manusia yang memiliki akal, bukan hewan yang menerapkan hukum rimba.

4. Menghormati Orang Lain Terlepas dari Status Sosialnya

Terkadang, jabatan, kekayaan, fanatisme buta atau pengkultusan suatu tokoh membuat logika seseorang menjadi bias, padahal hal ini dapat mencederai sila ke-5, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Seringkali kita melihat ada orang yang diperlakukan tidak adil atau semena-mena hanya karena ia bukan “siapa-siapa” atau tidak terkenal. Padahal, setiap manusia itu harus dihormati, apalagi jika usianya lebih tua dari kita.

Kita bisa menghormati orang lain tanpa perlu tahu apa prestasi, kekayaan, atau hal lainnya kok. Jangan terbiasa menghormati seseorang karena suatu hal atau ada pamrihnya.

Kalau Tidak Menemukan Orang yang Menerapkan Nilai Pancasila, Jadilah Orang yang Menerapkannya

Kalau kita mengeluh tentang tidak banyak menemukan orang-orang yang menerapkan nilai Pancasila, mulailah menjadi teladan di sekitarmu untuk menerapkan nilai Pancasila.

Dengan menjadi teladan, orang-orang akan mencontohkan perilaku yang sesuai dengan nilai Pancasila dan Pancasila akan selalu terjaga karena ada yang menerapkan nilai-nilainya.

Kalau bukan kita yang menerapkan nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari, lalu siapa lagi? If you can’t find one, be one!

Author

Faris Yudza Ghifari, S.Si. (Certified Impactful Writer)

Faris Yudza Ghifari. Digital Marketing & Website Associate di PrimeCare Clinic. Berpengalaman di niche kesehatan, pemasaran, dan engineering (alat laboratorium dan energi terbarukan)

View Comments

Recent Posts

Cara Mengecek Traffic Website yang Datang dari AI Search/LLM

Penggunaan AI search dan LLM makin masif, orang-orang kini tidak hanya mencari informasi tidak hanya…

3 hours ago

Panduan Memilih Agensi SEO untuk Pebisnis agar Tidak Menyesal Belakangan

Ketika mau memulai untuk optimasi SEO, kamu bisa pakai dua cara, yaitu merekrut pegawai secara…

4 hours ago

Request Indexing Manual ke Google Search Console – Apakah Efektif?

Seorang SEO, pasti pernah request indexing manual atau minta pengindeksan secara manual ke Google Search…

1 day ago

Cara Embed Video YouTube di WordPress – Yuk Masukkan Video di Blog Post!

Selain embed post Instagram di blog post, kita bisa juga loh embed video YouTube di blog post.…

1 day ago

7 Kekurangan SEM (Search Engine Marketing) – Masih Worth It untuk Diinvestasikan?

Sama-sama menggunakan mesin pencari, pastinya selain ada kelemahan SEO, ada juga kelemahan dari SEM (search…

2 days ago

Merk Pipa PPR Vinilon untuk Sistem Instalasi Air yang Modern dan Tahan Lama

Dalam instalasi sistem perpipaan, pemilihan produk berkualitas sangat penting untuk memastikan aliran air berjalan lancar…

2 days ago