Content Writing

Majas Hiperbola: Pengertian, Ciri-Ciri, Fungsi, dan Contohnya

Majas hiperbola adalah salah satu jenis majas yang sering digunakan untuk memberikan penekanan atau memperkuat suatu pernyataan, bahkan tergolong melebih-lebihkan (bukan Spongebob di episode kepiting pelit tuan krab ya). Majas ini membuat suatu keadaan terdengar lebih besar, lebih kuat, atau lebih ekstrem daripada kenyataan sebenarnya.

Penggunaan majas hiperbola dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari, karya sastra, puisi, lirik lagu, bahkan pada dunia profesional seperti periklanan. Misalnya, seseorang mengatakan, “Aku sudah menunggumu selama seribu tahun lamanya sayangku.” Kalimat tersebut tentu tidak berarti orang tersebut benar-benar menunggu selama seribu tahun (umur manusia modern tidak sepanjang itu), tetapi menggambarkan seseorang yang menunggu dalam kurun waktu yang sangat lama.

Lalu, apa pengertian majas hiperbola, apa saja ciri-cirinya, dan bagaimana contoh penggunaannya?

Apa Itu Majas Hiperbola?

Majas hiperbola adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu secara berlebihan untuk memberikan penekanan, menciptakan kesan tertentu, atau memperkuat makna sebuah pernyataan.

Kata hiperbola berasal dari bahasa Yunani hyperbolē, yang memiliki makna melebih-lebihkan. Sesuai dengan namanya, gaya bahasa ini menggunakan ungkapan yang sengaja dibuat melampaui keadaan sebenarnya.

Contohnya:

“Suara penyanyi itu menggelegar hingga kaca hampir pecah.”

Suara penyanyi tersebut tentu tidak benar bikin kaca hampir pecah. Ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan suara yang sangat keras dan kuat.

Dengan demikian, makna majas hiperbola tidak selalu dapat dipahami secara harfiah. Pembaca perlu memahami konteks kalimat untuk mengetahui maksud sebenarnya. Karena itu, terdapat risiko pada penggunaan majas ini, terutama untuk kominikan yang tidak mengerti majas ini atau salah menginterpretasikannya. Bahkan, majas hiperbola dapat berpotensi menjadi sindiran kasar.

Ciri-Ciri Majas Hiperbola

Majas hiperbola memiliki beberapa ciri yang membuatnya mudah dibedakan dari gaya bahasa lainnya.

1. Menggunakan Ungkapan yang Berlebihan

Ciri utama majas hiperbola adalah penggunaan kata atau ungkapan yang melebih-lebihkan suatu keadaan.

Contohnya:

“Aku sudah mencarimu sampai ke ujung dunia”

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa seseorang sudah mencari dengan sangat keras atau ke berbagai tempat, bukan benar-benar pergi sampai ujung dunia.

2. Tidak Dimaksudkan Secara Harfiah

Pernyataan dalam majas hiperbola biasanya tidak memiliki makna literal atau harfiah (beneran kejadian).

Misalnya:

“Air matanya membanjiri seluruh rumah.”

Kalimat tersebut tidak berarti air mata benar-benar memenuhi rumah seperti banjir. Ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menangis terus dan tidak kunjung berhenti.

3. Memberikan Penekanan pada Suatu Keadaan

Majas hiperbola digunakan untuk membuat suatu kondisi terasa lebih kuat sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih menonjol atau lebih kuat.

Contohnya:

“Aku sangat haus. Buka puasa nanti enaknya minum sampai satu baskom”

Kalimat tersebut memberikan penekanan bahwa seseorang merasa sangat haus dan akan minum sangat banyak setelah buka puasa.

4. Dapat Menimbulkan Kesan Dramatis

Penggunaan kata-kata yang berlebihan dapat membuat kalimat terasa lebih dramatis, emosional, atau menarik.

Contohnya:

“Hatiku hancur berkeping-keping setelah mendengar kabar itu.”

Ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan kesedihan atau kekecewaan yang sangat mendalam. Kalimat di atas sangat bermanfaat untuk karya seperti novel genre romantis.

5. Menggunakan Perbandingan atau Ukuran yang Ekstrem

Majas hiperbola sering menggunakan ukuran, jumlah, waktu, atau kondisi yang sangat ekstrem.

Contohnya:

“Cintaku padamu seluas samudra pasifik.”

Kata samudra pasifik melambangkan luas dan besarnya cinta. Maklum, karena samudra pasifik adalah samudra terbesar dan terluas di Bumi.

Fungsi Majas Hiperbola

Majas hiperbola tidak hanya digunakan untuk memperindah tulisan. Gaya bahasa ini juga memiliki beberapa fungsi dalam komunikasi.

1. Menekankan Pesan

Majas hiperbola dapat digunakan untuk menekankan suatu informasi atau keadaan agar lebih mudah mendapatkan perhatian pembaca (bisa jadi clickbait).

2. Menggambarkan Perasaan

Ungkapan yang berlebihan dapat membantu menggambarkan emosi seperti bahagia, sedih, marah, kecewa, takut, atau kagum.

Contohnya:

“Aku sangat bahagia sampai rasanya ingin terbang ke langit.”

Ungkapan tersebut menggambarkan perasaan bahagia.

3. Membuat Tulisan Lebih Menarik

Penggunaan majas dapat membuat tulisan tidak terasa monoton. Kalimat yang menggunakan ungkapan hiperbola juga dapat memberikan efek yang lebih kuat kepada pembaca, layaknya power words.

Pada penulisan judul, majas hiperbola bisa saja memancing klik (meski clickbait banget).

4. Membangun Kesan Dramatis

Dalam karya sastra, majas hiperbola dapat digunakan untuk menciptakan suasana yang lebih dramatis dan emosional.

5. Menyampaikan Sindiran atau Humor

Majas hiperbola juga dapat digunakan dalam percakapan santai untuk menciptakan efek lucu atau menyindir seseorang.

Contohnya:

“Lama banget datangnya, sampai kue di toko itu hampir basi.”

Ungkapan tersebut melebih-lebihkan waktu menunggu untuk menyampaikan keluhan dengan cara yang lebih ringan dan jenaka.

Contoh Majas Hiperbola

Berikut beberapa contoh majas hiperbola yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun tulisan.

Contoh Majas Hiperbola dalam Kalimat Sehari-hari

  1. “Aku sudah meneleponmu seribu kali.”
  2. “Tas ini beratnya seperti membawa satu ton batu.”
  3. “Aku lapar sekali sampai bisa makan satu rumah.”
  4. “Suaramu terdengar sampai ke pulau seberang.”
  5. “Dia berlari secepat kilat.”
  6. “Aku menunggu kedatanganmu selama berabad-abad.”
  7. “Tangisannya membuat seluruh dunia ikut bersedih.”
  8. “Harga makanan di restoran itu bikin dompet menjerit.”
  9. “Pekerjaan ini hanya akan berhenti saat terjadi kiamat.”
  10. “Aku sudah menjelaskan hal itu jutaan kali.”

Kalimat-kalimat tersebut menggunakan ungkapan yang tidak dimaksudkan secara harfiah. Tujuannya adalah memberikan penekanan terhadap keadaan yang sedang dibicarakan.

Contoh Majas Hiperbola dalam Karya Sastra

Dalam karya sastra, majas hiperbola sering digunakan untuk memperkuat penggambaran suasana, karakter, dan perasaan.

Contohnya:

“Kesedihannya sedalam palung mariana.”

Ungkapan sedalam palung mariana digunakan untuk menggambarkan kesedihan yang sangat mendalam.

Contoh lainnya:

“Cintanya memenuhi seluruh penjuru dunia.”

Kalimat tersebut menggambarkan rasa cinta yang sangat besar dan kuat.

Penggunaan hiperbola dalam karya sastra memungkinkan penulis menyampaikan emosi dengan cara yang lebih imajinatif.

Contoh Majas Hiperbola dalam Puisi

Puisi merupakan salah satu jenis karya yang banyak menggunakan majas hiperbola. Gaya bahasa ini dapat membantu penyair menciptakan gambaran dan emosi yang lebih kuat.

Contohnya:

“Rinduku membentang sejauh langit dan lautan.”

Rasa rindu tentu tidak dapat diukur secara fisik hingga sejauh langit dan lautan. Ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan rasa rindu yang sangat besar.

Contoh lainnya:

“Tangisku membanjiri benua.”

Ungkapan tersebut digunakan untuk memperkuat gambaran kesedihan yang dialami oleh tokoh atau penyair.

Contoh Majas Hiperbola dalam Iklan

Majas hiperbola juga sering ditemukan dalam iklan karena ungkapan yang berlebihan dapat membuat pesan promosi lebih menarik perhatian.

Contohnya:

“Rasakan panggung konser yang akan mengguncang Jakarta!”

Ungkapan mengguncang Jakarta bukan berarti produk tersebut benar-benar dapat mengguncang Jakarta seperti gempa bumi. Kalimat tersebut digunakan untuk memberikan kesan bahwa jika seseorang ikut konser itu, mereka akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

Namun, dalam konteks iklan, penggunaan hiperbola tetap perlu memperhatikan:

1. Target audiens

2. Etika

3. Regulasi

Contoh Majas Hiperbola dalam Percakapan

Dalam percakapan sehari-hari, majas hiperbola sering digunakan secara spontan untuk mengekspresikan perasaan.

Contohnya:

A: “Kenapa kamu terlambat?”

B: “Macetnya gila banget. Semua kendaraan seperti mogok.”

Ungkapan mogok merupakan bentuk hiperbola untuk menunjukkan bahwa mobil di jalan tidak kunjung bergerak.

Contoh lainnya:

“Aku capek banget, rasanya tulangku mau copot.”

Kalimat tersebut tidak berarti tulang benar-benar akan terlepas. Ungkapan tersebut menunjukkan rasa lelah yang sangat berat.

Bahaya Majas Hiperbola

Meski dapat memperkuat isi pesan atau fungsinya seperti power words, terdapat bahaya dalam majas hiperbola, seperti:

1. Miskomunikasi karena pesan di-decoding sebagai pesan dengan makna harfiah

2. Tuntutan hukum, misalnya pada konten iklan

3. Sanksi sosial, kembali pada konten komersial, terutama jika iklan dianggap berlebihan dan melanggar etika

4. Perselisihan, karena hiperbola bisa digunakan untuk membuat sindiran

5. Overclaim, sehingga isi pesan kurang mendapatkan kepercayaan

Karena itu, penggunaan majas hiperbola harus diterapkan secara bijak. Tidak semua pesan yang kita sampaikan harus dimasukkan unsur hiperbola.

Kesimpulan

Majas hiperbola adalah gaya bahasa yang menggunakan ungkapan secara berlebihan untuk memberikan penekanan, memperkuat emosi, atau membuat suatu pesan lebih menarik. Ciri utamanya adalah penggunaan pernyataan yang ekstrem dan tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah.

Majas ini dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari, puisi, karya sastra, iklan, hingga berbagai bentuk tulisan lainnya. Contohnya seperti “Aku sudah menunggumu selama 1 milenium” atau “Aku sudah menjelaskan hal ini milyaran kali!”

Dengan memahami majas ini, kamu bisa membangun hubungan atau bahkan membuat copies yang menarik untuk mendorong penjualan dalam bisnis.

Author

Faris Yudza Ghifari, S.Si., M.I.Kom (Certified Impactful Writer)

Faris Yudza Ghifari. Digital Marketing & Website Associate di PrimeCare Clinic. Berpengalaman di niche kesehatan, pemasaran, dan engineering (alat laboratorium dan energi terbarukan)

Share
Published by
Faris Yudza Ghifari, S.Si., M.I.Kom (Certified Impactful Writer)

Recent Posts

Kalimat Intransitif – Tidak bisa Dipasifkan, tapi Masih Ada Manfaatnya!

Menulis kalimat yang jelas dan efektif adalah kunci utama agar tulisan mudah dipahami oleh pembaca…

4 days ago

Impresi di AI Generatif vs CTR – Makin Muncul di AI Generatif, CTR Makin Turun?

Sebelumnya, studi kasus pada impresi di AI generatif Google vs klik. Terlihat ada korelasi cukup…

4 days ago

Studi Kasus SEO: Impresi di Google AI Generatif vs Klik Organik di Google

Di lanskap pencarian sekarang, muncul di AI generatif Google seperti Google AI overview atau Google…

5 days ago

Kalimat Transitif – Kalimat yang perlu Objek?

Menulis kalimat yang jelas dan efektif adalah kunci utama agar tulisanmu mudah dipahami oleh pembaca…

7 days ago

Kalimat Deskriptif: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, dan Contoh

Pernahkah Anda membaca tulisan yang membuat kamu seolah-olah bisa melihat, mendengar, atau merasakan langsung apa…

7 days ago

Di Balik SEO – Karolina Eka Mengelola Website dari Masalah Bisnis hingga Hasil

Ketika membicarakan SEO, pembahasan sering kali berhenti pada keyword, ranking, traffic, backlink, atau berbagai teknik…

1 week ago