Digital MarketingKepenulisan

Majas Sindiran – Majas yang Paling Banyak Dipakai di Media Sosial

Kalau melihat status teman atau orang lain di media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, atau status WA, terkadang banyak sekali kalimat atau kata-kata yang mengandung majas sindiran.

Tidak hanya di media sosial, bisa saja kita mendengar majas sindiran digunakan dalam kritik. Namun, ada juga yang salah mengartikan sindiran sebagai pujian.

Memangnya apa itu sindiran? Apa saja jenisnya? Bagaimana cara membuatnya dan apa saja contohnya?

Apa Itu Majas Sindiran

Majas sindiran adalah majas yang digunakan untuk mengkritik seseorang/pihak tertentu atau suatu hal/fenomena.

Terdapat dua bentuk penyampaian dalam sindiran, bisa kasar dan juga halus. Tentunya kamu perlu tahu kapan momen yang tepat dan apa medianya sebelum memutuskan apakah harus memakai sindiran kasar/halus.

Dalam pespektif sastra, majas sindiran justru digunakan untuk mempertegas suatu makna.

Jenis Majas Sindiran

Terdapat 5 jenis majas sindiran, yaitu:

a. Ironi

Mungkin kamu sudah tidak asing dengan ironi karena kita mempelajarinya di sekolah dan suka menemukan hal ini di kehidupan sehari-hari.

Ironi termasuk dari sindiran halus dan biasanya dimaksudkan tidak membut orang untuk baper.

Cara kerja ironi adalah menyembunyikan fakta, sehingga justru yang terjadi adalah kebalikan dari kalimat/kata-katanya. Jadi, dalam kalimatnya mirip dengan metode sandwich dalam memberikan kritik. Pertama positif dulu, baru negatif.

Contoh ironi: kamu datangnya pagi banget, dekat waktu sholat Dzuhur!

b. Satire

Satire banyak ditemukan di media sosial dan termasuk bentuk sindiran halus juga (sama seperti ironi).

Berbeda dengan ironi, satire biasanya punya komedi di dalamnya. Jadi wajar saja satire punya engagement tinggi di media sosial.

Contoh satire: bata yang ringan bahkan bisa diangkat anak-anak gini, kok kamu gak bisa mengangkatnya?

c. Sinisme

Sinisme bisa dibilang adalah antonim dari ironi.

Ironi punya ciri berupa meninggikan, lalu menjatuhkan. Sementara itu, sinisme tanpa babibu langsung frontal memperkuat nilai negatif pada kalimatnya. Tidak heran sinisme termasuk sindiran kasar, sehingga kamu harus hati-hati dalam menggunakannya.

Contoh: sudah berhutang tidak bayar-bayar, ternyata mulutnya juga tidak beretika

d. Sarkasme

Kalau kamu sering browsing Twitter, kemungkinan besar kamu akan sering melihat cuitan berbentuk sarkasme, terutama terhadap “opini jelek”.

Sarkasme menggunakan diksi yang kasar pada sindirannya, bahkan bisa dibilang merupakan ejekan/hinaan.

Karena kasar sekali, bahkan bisa dibilang sarkasme termasuk menghina/mengejek.

Sarkasme lebih brutal daripada sinisme, sehingga penggunaannya sangat perlu diperhatikan, terutama di media sosial karena rawan menyebabkan konflik, bahkan lebih besar peluangnya daripada sinisme.

Contoh sarkasme: apa kau tuli atau congean? Jelas-jelas barusan namamu dipanggil, tetapi kamu tidak menyahutnya.

e. Innuendo

Majas innuendo punya ciri khas berupa mengecilkan fakta yang ada , tidak meninggikan lalu menjatuhkan, membungkus dengan komedi, atau memperkasar makna/fakta.

Contoh: pantas dia lolos kerja di sana, ternyata direktur itu orang dalamnya!

Tujuan Sindiran

Ada banyak tujuan dari sindiran. Antara lain:

  • Mengkritik
  • Mengejek
  • Menghina
  • Gimmick/mencari perhatian
  • Menyadarkan seseorang
  • Menunjuk hal yang salah secara halus/kasar

Kapan Waktu yang Tepat untuk Membuat Kata-Kata/Kalimat Sindiran?

Waktu yang tepat untuk menyindir itu sebenarnya tidak ada jawaban absolutnya.

Di lingkungan demokratis, kalimat sindiran bisa digunakan sebagai bentuk kritik. Jika culture-nya mewajarkan sindiran, gas saja untuk menyindir.

Yang terpenting, jangan menyindir saat sedang marah. Kemungkinan besar kamu akan mengeluarkan sarkasme yang tidak diperlukan, sehingga terjadi konflik.

Cara Membuat Kata-Kata/Kalimat Sindiran

a. Lihat Siapa/Apa yang mau Kita Sindir

Ini jadi poin pertama karena tidak semua orang suka sindiran, apalagi diejek seperti menggunkan sarkas/sinisme.

Teman baikmu biasanya akan merespon sarkas/sinisme dengan lebih baik. Sementara itu, pastinya cukup gila kalau kita langsung memberikan sindiran berupa sarkas/sinisme ke orang yang baru kita kenal/tidak kenal banget atau objek yang dimiliki oleh orang “penting”.

Bijak menyindir orang/sesuatu itu termasuk ilmu kehidupan yang berharga.

Mengetahui siapa yang mau kita sindir juga adalah sarana untuk menentukan apakah kita harus memakai sindiran kasar atau halus.

b. Tentukan Media yang Mau Kita jadikan Tempat untuk Menyindir

Sindiran bisa dalam bentuk tulisan, suara, gambar, atau gestur loh.

Tentukan dulu media untuk menyindir, apakah tulis, visual, atau audio.

Menyindir lewat tulisan tentunya akan berbeda dengan menyindir lewat video.

c. Gali tentang Apa yang Mau Kita Sindir

Wets, jangan sampai salah sasaran dalam menyindir.

Coba gali dulu sebenarnya apa sih yang mau kita sindir dari orang/objek?

Apakah sifat buruk, kejelekan orangnya, atau hal negatif lainnya?

d. Buat Kalimat/Kata-Kata dengan Majas Sindirannya

Yak, waktunya buat kalimat/kata-kata dengan majas sindirannya.

Berdasarkan apa/siapa yang mau disindir, medianya, dan penggalian tentang apa yang mau kita sindir, kita bisa membuat kalimat sindiran yang bagus.

Contoh Kata-Kata/Kalimat Sindiran

Berikut berbagai contoh kalimat sindiran:

  • Kamarmu jauh lebih berantakan dari kapal pecah
  • Apakah matamu rabun? Barusan saja targetmu melewati dirimu!
  • Panas banget ini kantor sampai bisa masak makanan kayaknya
  • Pantas cepat prosesnya, ternyata pakai calo mahal
  • Bola tendangan penaltinya yang melambung di atas gawang itu apa sudah sampai ke luar angkasa ya?
  • Bugar sekali badanmu, baru 5 menit sudah ngos-ngosan saja
  • Soal anak SD ini beneran tidak bisa kamu pahami?
  • Kuat banget sinyal di sini, cuma 1 bar saja daritadi
  • Sudah muka jelek, attitude-nya juga ikutan jelek!
  • Kamu masih anak-anak ya. Tidur kok minta ditemani?

Gunakan Kalimat/Kata-Kata Sindiran dengan Bijak!

Kalimat/kata-kata dengan majas sindiran bisa jadi pedang bermata dua untukmu. Jadi, gunakanlah dengan bijak.

Ketahui siapa/apa yang ingin kamu sindir/kritik. Jangan bermain di tepi jurang seperti sarkas/sinisme ke “pihak yang berbahaya”, bahkan pada sistem demokrasi sekalipun.

Semoga sindiran yang kita buat justru bisa menyadarkan/menyelematkan seseorang ya 🙂

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *