CPL (Cost per Leads) – Biaya untuk Mendapatkan 1 Prospek
Metrik di performance marketing ada banyak, salah satunya adalah CPL atau cost per leads yang umumnya jadi layer paling awal untuk menghitung efektivitas dari campaign.
Bagaimana cara menghitung CPL? Mengapa penting? Berapa CPL yang ideal? Bagaimana cara mengoptimalkannya?
Apa itu CPL dalam Iklan atau Performance Marketing?
CPL atau cost per leads adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan 1 prospek (leads), terlepas prospeknya melakukan pembelian atau tidak (bahkan termasuk leads yang spam).
Rumus CPL
Rumus CPL itu sederhana.
Biaya marketing yang dikeluarkan (misalnya iklan) dibagi dengan jumlah prospek yang didapatkan, terlepas prospeknya melakukan transaksi (closing) atau spam (tidak melakukan apa pun atau tidak jadi closing).
CPL (rupiah/pelanggan) = jumlah budget marketing yang dikeluarkan/jumlah prospek (leads) yang didapatkan.
Contoh Perhitungan CPL
Misal,
1. Pengeluaran dari Meta Ads: 1.000.000
2. Prospek: 50
Berarti CPL-nya adalah pengeluaran dari meta ads dibagi jumlah prospek -> 1.000.000/50 = 20.000.
Artinya, kamu perlu membayar 20.000 itu mendapatkan 1 prospek (leads).
Mengapa CPL itu Penting?
a. Mengukur Efektivitas Pesan
CPL yang rendah menandakan bahwa iklannya berhasil menarik orang untuk menjadi prospek. Sementara CPL tinggi bisa jadi indikasi bahwa unsur iklan ada yang kurang menarik. Karena itu, CPL cocok untuk mengukur efektivitas pesan (teks, visual, audio) dari iklan.
A/B testing bisa kamu lakukan untuk mengetahui mana format dan kombinasi paling ideal agar CPL bisa paling optimal.
Berapa CPL yang Ideal?
Tidak ada angka pasti berapa CPL ideal karena tiap industri punya CPL berbeda. Umumnya, semakin tinggi harga produk/jasa, semakin mahal CPL-nya.
Yang jelas, CPL yang bagus harus di bawah harga atau bahkan di bawah laba kotor dari produk/jasa yang kamu jual.
Apakah CPL yang Rendah sudah Pasti Bagus?
CPL yang rendah adalah indikasi efektivitas pesan yang bagus, setidaknya sampai orang masuk ke WhatsApp atau target tempat masuk leads. Namun, CPL rendah ini bisa misleading jika ternyata CVR rendah atau CAC-nya tinggi.
CPL rendah, tetapi CVR rendah/CAC tinggi menandakan bahwa kamu menarget leads yang kurang berkualitas atau bahkan bisa jadi banyak leads spam, misalnya bertanya soal lowongan pekerjaan atau menawarkan produk (dari pengalaman pemilik blog ini, biasanya sales dari bisnis B2B).
Ketika CPL rendah karena banyak leads spam, maka perlu segera ada retargetting dari ads-nya.
Apakah CPL Tinggi sudah Pasti Jelek?
CPL tinggi menandakan efektivitas pesan kurang bagus karena leads-nya sedikit. Namun, hitung juga CAC dan produk/jasa yang kamu jual. Jika industri dengan produk/jasa yang mahal, wajar saja kalau CPL-nya tinggi. Contoh, CPL 700 ribu, tetapi harga jual produk/jasanya 14 juta, 1 closing saja ROAS-nya masih tinggi.
Jadi, perlu analisa dari metrik lainnya untuk melihat apakah CPL tinggi itu benar-benar jelek atau tidak.
Cara Mengoptimalkan CPL
1. Buat Pesan yang Menarik untuk Diklik
Karena CPL itu biasanya masuk lewat klik, maka kamu harus buat iklan yang menarik dulu untuk diklik. Bisa dari copies, KV, dsb. Sebelum orang bertransaksi, pastikan orangnya tertarik dulu untuk mengklik iklannya
2. A/B Testing
Kita tidak tahu iklan mana yang paling menarik untuk diklik. Karena itu, A/B testing dengan berbagai varian copies, KV, budget, target audiens, dsb.
3. Target Audiens yang Tepat
Kembali lagi, kalau CPL mau rendah, ya target audiens yang tepat. Audiens yang tidak tertarik karena tidak relate profilnya dengan iklanmu, kemungkinan kecil utnuk mengetik.
Jangan Lupa untuk Menghitung CPL
Meski CPL terkadang bisa misleading, metrik ini tetap penting untuk dihitung, paling tidak untuk mengetahui seberapa efektif pesan di iklan serta mendeteksi adanya spam leads yang masuk. Untuk analisa lebih komprehensif, bandingkan dengan metrik lain seperti CAC.