Sebagai penulis mungkin kamu mengetahui atau bahkan sering membuat kalimat aktif. Bahkan, pelajaran soal kalimat aktif ini sudah kita pelajari di masa sekolah dulu.
Meski strukturnya cukup simpel, sebenarnya kalimat aktif itu punya peranan penting, terutama dalam content marketing.
Ayo gali lebih jauh soal kalimat aktif!
Kalimat aktif atau active voice adalah ketika subjek melakukan aksi atau pekerjaan yang menjadi predikat atau verb.
Jadi, dalam struktur SPOK, subjek melakukan apa yang dicantumkan sebagai predikat. Contohnya, ayah tidur di kasur. Berarti subjek ayah sedang melakukan action predikat berupa tidur.
Terdapat dua jenis kalimat aktif, yaitu transitif dan intransitif, perbedaannya terletak pada predikat, apakah membutuhkan objek atau tidak.
Kalimat aktif transitif adalah kalimat aktif yang predikatnya butuh objek agar subjeknya bisa melakukan pekerjaan. Jadi, dalam struktur SPOK, biasanya kalimat aktif jenis ini punya struktur SPO, namun bisa juga ada keterangan.
Contoh kalimat aktif transitif:
Sebaliknya, kalimat aktif intransitif adalah kalimat aktif yang predikatnya tidak membutuhkan objek. Namun, tetap bisa ada keterangan dalam struktur kalimatnya. Jadi, struktur SPOK-nya bisa berupa SP (subjek dan predikat saja).
Contoh kalimat aktif intransitif:
Berikut contoh kalimat aktif, transitif ditandai dengan T dan intransitif ditandai dengan I.
Dalam content marketing, kalimat aktif punya peranan penting loh. Berikut alasannya:
Kalimat aktif jauh lebih mudah dibaca daripada kalimat pasif (passive voice). Kalau kamu mengubah kalimat aktif ke pasif, pasti akan terlihat perbedaan bahwa akan ada sedikit perpanjangan pada kalimatnya. Hal ini memengaruhi tingkat keterbacaan tulisan (readability).
Dalam marketing, readability penting agar copies yang kita buat tersampaikan dengan baik dan audiens kita paham serta mengerti apa yang ingin kita komunikasikan.
Kalimat aktif bernada lebih kuat dan berotoritas daripada kalimat pasif.
Sebagai contoh, bandingkan: “produk ini akan dicintai oleh buah hatimu” vs “buah hatimu akan mencintai produk ini”. Buah hatimu akan mencintai produk ini akan terdengar lebih kuat dan lebih mudah tersampaikan pesannya.
Karena itulah, dalam content marketing, untuk menaikkan kredibilitas dan otoritas, gunakanlah kalimat aktif.
Kita bisa lihat sendiri dalam kalimat aktif, ada dua jenis, yaitu transitif dan intransitif.
Kalimat aktif intransitif bahkan hanya butuh dua kata saja, sementara itu kalimat pasif pasti punya lebih dari dua kata.
Jelas bahwa kalimat aktif lebih singkat, jelas, dan padat. Jadi, target market akan langsung paham apa yang kita komunikasikan.
Meski kalimat aktif penting, terutama dalam marketing, ingat bahwa yang terpenting adalah saat audiens membaca tulisan kita, mereka bisa mengerti/paham atau tidak. Jadi, untuk marketer, pakailah kalimat aktif sesuai dengan kebutuhan dan tata bahasa.
Fun fact-nya, tidak semua kalimat aktif bisa berubah menjadi kalimat pasif (passive voice), terutama kalimat aktif intransitif yang tidak membutuhkan objek.
Happy writing!
Referensi:
November 2022, pekerja kreatif di seluruh dunia dikejutkan oleh hadirnya produk OpenAI bernama ChatGPT. Perusahaan…
Metrik di performance marketing ada banyak, salah satunya adalah CPL atau cost per leads yang…
Dalam performance marketing, bahkan SEO. Kita bisa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi satu…
Dengan kemunculan AI generatif, terdapat istilah baru, yaitu GEO. GEO cukup berbeda dengan SEO karena…
Studi sebelumnya, pemilik blog ini menguji rekomendasi blog untuk belajar SEO. Studi dengan kueri lokal…
Studi sebelumnya menyoroti bahwa GEO memberikan jawaban yang tidak selalu sama meski prompt-nya sama. Meski…