Tanpa kita sadari, saat membuat draft pertama tulisan, terkadang kita membuat kata/kalimat yang redundant atau ada redundansi pada paragraf.
Redundansi pada kata/kalimat ini dapat menurunkan readability dan membuat bosan pembaca loh. Jadi, kita harus hati-hati ketika menulis/menyunting.
Apa yang harus dilakukan?
Menurut KBBI, redundansi punya 3 makna, yaitu:
Jadi, redundansi dalam artikel/tulisan atau redundant bisa diartikan sebagai adanya pengulangan kata/kalimat yang tidak perlu (biasanya dalam satu paragraf), sehingga tulisannya terasa mubazir.
Sama seperti kesalahan dalam penulisan pada umumnya, redundansi bisa terjadi karena sifat alamiah manusia dalam menulis. Jadi wajar sekali jika pada draft pertama terjadi redundansi atau terlihat ada kata/kalimat yang repetitif.
Jika setelah terpublikasi masih ada redundansi, itu berarti editornya skip atau gagal melihat adanya redundansi tersebut.
Berikut contoh kalimat yang redundant (ada redundansi)
Bisa dilihat dari contoh redundansi kalimat. Terlihat bahwa kalimatnya kurang enak dibaca, baik itu di dalam hati atau pun secara lisan.
Kalau tulisannya kurang enak dibaca, besar kemungkinan tujuan dari tulisan kita tidak tercapai karena pembaca sudah malas membacanya atau tidak lagi berminat untuk lanjut membaca sapai habis.
Selain itu, dalam SEO, adanya redundansi merupakan indikasi bahwa keyword density yang tinggi atau terjadinya keyword stuffing yang termasuk teknik black hat SEO.
Cara mencegah dan mengatasi redundansi pada dasarnya adalah:
Redundansi adalah kesalahan dalam penulisan yang lumrah terjadi dan sangat alami, terutama pada draft pertama. Karena itu, untuk mencegah dan mengatasi redundansi adalah kembali ke penyuntingan, baik itu self editing yang dilakukan oleh penulis atau pun penyuntingan yang dilakukan oleh editor.
Proses penyuntingan yang baik akan menemukan redundansi (jika ada), sehingga bisa ada perbaikan dan saat tulisannya dipublikasi, tidak ada kata/kalimat yang mubazir.
Untuk mengetahui cara menyunting artikel secara lengkap, kamu bisa mengetahuinya di tautan ini!
Saat membaca tulisan yang ada redundansinya, mungkin saja kita merasa kesal atau kurang enak karena rasanya mubazir ada kata/kalimat yang repetitif, padahal sebenarnya ada diksi yang bisa jadi penggantinya dan tetap punya makna yang sama.
Redundansi tidak dapat dicegah karena kesalahan dalam penulisan dan merupakan bagian dari proses alamiah manusia dalam menulis, terutama pada draft pertama. Namun, hal tersebut bisa diminimalkan dan diatasi dengan proses penyuntingan yang baik.
Kalau ada redundansi? Jangan marah dulu, langsung perbaiki!
Happy writing!
How AI Search Changes Keyword Targeting and Authority for Boardinfinity Audiences Introduction Search has entered…
Dulu, featured snippet atau rank 0 adalah jawaban ringkas dari Google atas suatu kueri penelusuran.…
Apakah SEO specialist harus bisa menulis konten? Terkadang pertanyaan ini muncul, apalagi jika pekerjaan SEO-mu…
Menyusun tesis memang adalah bagian yang merupakan keniscayaan bagi mahasiswa S2. Pemilik blog ini telah…
Salah satu pertanyaan dari pebisnis atau digital marketer yang sudah lama mengoptimasi SEO adalah apakah…
Seminar hasil tesis pasti butuh persiapan. Setelah ambil data, analisis, dan ambil kesimpulan, waktunya menyampaikan…