Dengan adanya media sosial atau bahkan dunia internet, orang-orang bisa sharing kegiatan yang mereka lakukan atau menyebarkan berbagai informasi. Jadi, setiap orang bisa membuat konten. Nah, apakah berlebihan dalam sharing atau oversharing ini berbahaya, atau bermanfaat?
Oversharing atau berlebihan dalam menyebarkan informasi adalah memberi tahu informasi pribadi terlalu banyak kepada khalayak. Jadi, jangan sembarangan menyebarkan informasi pribadi, seperti alamat rumah dan id akun-akun penting, terutama yang berkaitan dengan keuangan. Bahkan kita harus hati-hati, barangkali sedang diawasi.
Jadi, di sini berlebihannya bukan tentang kuantitas, tapi seberapa dalam atau personal informasi yang disebar. Dalam teori penetrasi sosial, semakin personal atau sensitif informasinya, semakin sulit informasi tersebut untuk diungkapkan oleh seseorang.
Oversharing meski berlebihan masih ada kelebihannya. Namun, hal ini hanya cocok dilakukan bersama orang-orang terdekatmu, misalnya pasangan halal (suami/istri) atau keluarga dengan hubungan darah dekat.
Saling bertukar informasi (self-disclosure) pada tingkat yang intim dapat mempertahankan keintiman dan kedekatan hubungan. Dalam fase penetrasi sosial, hal ini disebut sebagai fase stable exchange atau pertukaran stabil. Umumnya, hal ini hanya terjadi pada orang yang saling berhubungan dekat.
Yang berbahaya adalah oversharing di ruang publik seperti media sosial. Tidak semua orang perlu tahu informasi mendetail tentang dirimu. Cukup superfisial (informasi terluar saja) atau bagaimana kamu ingin membangun personal branding.
Beberapa bahaya oversharing antara lain:
1. Memancing tindakan kriminal seperti pencurian identitas
2. Kehilangan reputasi, terutama jika kamu adalah figur publik atau tokoh masyarakat
3. Membuat fitnah atau hoax karena kesalahan persepsi audiens
4. Kehilangan/tidak dapat pekerjaan
Digital presence-mu mungkin naik karena oversharing. Namun, apakah risiko atau bahayanya sepadan dengan manfaatnya di ruang publik?
Cara pencegahannya adalah menentukan informasi mana yang mau diungkapkan dan mana yang tidak perlu.
Jangan bernafsu untuk melakukan self-disclosure sebanyak mungkin di ruang publik. Tidak semua orang ingin mengetahuinya atau bahkan justru memancing reaksi yang tidak diekspektasikan.
Pikirkan juga efek atau konsekuensi setiap kamu melakukan sharing, hal ini akan mencegah terjadinya oversharing.
Oversharing sebaiknya dilakukan hanya kepada orang terdekatmu untuk mempertahankan keintiman. Sebaliknya, jangan berlebihan dalam menyebarkan informasi personal di ruang publik. Kita memang tidak seharusnya suudzon dengan orang, tetapi haruslah bijak.
Pikirkan konsekuensi atas informasi yang kamu sebar agar tidak oversharing. Pastikan kalau kamu sudah sharing, maka kamu siap dengan konsekuensinya.
Membalas Google review adalah cara optimasi local SEO yang mudah, tetapi repetitif. Meski demikian, hal…
Ketika masuk kelas baru habis naik kelas atau naik tingkat, serta berbaur dengan mahasiswa jurusan…
Jika Anda sudah berkecimpung dalam dunia SEO, Anda mungkin pernah mendengar istilah "domain authority." Banyak…
Memilih warna untuk hunian kadang terlihat sederhana, namun hasil akhirnya bisa sangat berbeda dari yang…
Memahami bagaimana audiens berinteraksi dengan media merupakan langkah awal yang krusial dalam menyusun strategi konten.…
Dalam tata bahasa Indonesia, setiap kata memiliki peran tertentu untuk menyampaikan pesan secara jelas dan…