Ilmu Komunikasi

Teori Dialektika Relasional – Diskursus dan Tarik Ulur dalam Hubungan

Pernah gak sih, kamu punya sahabat yang kerjaannya ngajak nongkrong, ngobrol sepanjang hari, seakan-akan tidak bisa lepas. Sementara, kamu adalah tipe orang yang cenderung lebih suka menghabiskan waktu sendiri, nongkrongnya tidak “sesering itu”. Nah, di fase ini pasti kalian mengalami ketegangan kan karena masing-masing kalian punya keinginan/identitas diri yang berbeda dalam menjalani hubungan persahabatan. Meskipun begitu, somehow kalian tetap menemukan cara agar hubungan kalian tetap baik dan sahabatan. Ketika hal ini terjadi. Artinya kamu pernah menjalani dinamika yang dijelaskan oleh teori dialektika relasional dalam kehidupanmu!

Apa itu Teori Dialektika Relasional?

oke.. mungkin kamu masih bingung nih, apa itu teori dialektika relasional. Tenang, penulis akan coba menjelaskan kepada kamu soal teori ini secara lengkap. Jadi, teori ini menjelaskan bagaimana sebuah makna terbentuk (meaning-making), mengapa makna itu yang terbentuk, serta mengapa terkadang makna suatu hal tidak seperti apa yang kita inginkan.

Dalam teori ini, dijelaskan bahwasanya pemaknaan suatu hal tidak terjadi begitu saja. Ada sebuah proses yang terjadi, yaitu terjadinya sebuah diskusi/argumen mengenai 2 gagasan yang dibawa dengan latar belakang yang tidak sama. Hal ini disebut dengan konsep “diskursus”.

Pada konteks pembentukan suatu makna, biasanya 2 atau lebih diskursus didiskusikan sehingga ditemukan/dikompromikan definisi makna seutuhnya tentang suatu hal.

Teori dialektika relasional termasuk dalam tingkat komunikasi antarpribadi (interpersonal), seperti teori penetrasi sosial.

Siapa Pencetus Teori Dialektika Relasional?

Teori dialektika relasional (relational dialectics theory)-RDT, diresmikan menjadi sebuah teori oleh Leslie A. Baxter dan Barbara M. Montgomery pada tahun 1996.

Pembentukan Makna

Baxter & Montgomery (1996) menjelaskan bahwasanya definisi sebuah makna berasal dari sistem makna atau diskursus. Hal ini membuat kita mengingat lagi bahwasanya setiap kata memiliki 2 makna; denotatif (makna absolut yang tertulis di kamus) dan juga konotatif (makna yang terbentuk di sebuah situasi) sehingga hal ini menyadarkan kita semua bahwasanya setiap perkataan tidak selalu memiliki makna yang sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Selanjutnya, pembentukan makna juga dipengaruhi oleh diskursus dalam sistem makna. Artinya, sebuah kata, fenomena, perlakuan, atau peristiwa memiliki latar belakangnya masing-masing, sehingga tidak selalu apa yang kita lihat baik akan sama dalam pandangan orang lain, begitu juga sebaliknya. 

Akhirnya, ketika 2 atau lebih individu sampai kepada kesepakatan mengenai makna tentang suatu hal, disinilah akan terciptanya 4 kemungkinan pembentukan makna menurut pencetus teor : 

  1. Perlawanan terhadap diskursus dominan
  2. Peneguhan kembali diskursus dominan
  3. Logika situasi
  4. Transformasi makna baru 

Perkembangan Teori Dialektika Relasional

Sejak teori ini ditemukan oleh Baxter & Montgomery (1996), teori ini terus berkembang seiring berkembangnya zaman. Versi awal teori ini dikenal sebagai RDT 1.0, dimana teori ini masih berfokus pada ketegangan yang terjadi pada hubungan interpersonal. Pada model awal ini, disebutkan bahwasanya ada 3 ketegangan yang sering muncul dalam hubungan manusia (Big 3)

  1. Kedekatan vs Kemandirian
  2. Keterbukaan vs Privasi
  3. Kepastian dan Ketidakpastian

Artinya, teori ini percaya bahwasanya ketegangan seringkali terjadi akibat manusia seringkali berada di kondisi yang saling “tarik-menarik” antara kebutuhan mereka yang sama-sama mereka anggap penting. Seperti halnya suatu hubungan bisa memiliki 2 individu dengan tingkat keterbukaan serta privasi yang berbeda-beda dan seringkali hal ini memicu ketegangan dalam hubungan. 

Nah.. sekarang udah lebih kebayang kan apa itu RDT? Seperti layaknya teknologi yang berkembang, teori ini pun ikut berkembang loh! teori ini akhirnya resmi diperbarui oleh Baxter pada tahun 2011 menjadi RDT 2.0 melalui  buku “Voicing Relationships: A Dialogic Perspective (2011)”.

Baxter menyadari kekurangan pada RDT 1.0. Ia melihat bahwasanya banyak ketegangan hubungan manusia dan perbedaan makna yang tidak bisa dijelaskan oleh ketiga konsep sebelumnya (Big 3). Kali ini, pengembangan teori ini menekankan bahwasanya sebuah makna terbentuk melalui pertarungan berbagai diskursus dalam komunikasi.

Singkatnya, RDT 2.0 melihat hubungan bukan hanya soal kebutuhan pribadi, tetapi juga soal bagaimana orang berkomunikasi dan memaknai sesuatu secara berbeda. Dari perbedaan cara pandang itulah makna dalam sebuah hubungan akhirnya terbentuk.

Contoh Penerapan Teori Dialektika Relasional di Dunia Nyata

Dalam memahami proses diatas, penulis menjadikan contoh hubungan romantis sebagai kasus untuk menjelaskan proses tersebut. Ketika penulis sedang berada dalam hubungan romantis, seringkali penulis menghadapi situasi dimana pasangan penulis memiliki diskursus bahwasanya sebuah hubungan romantis disebut ideal apabila kedua individu memiliki rasa kedekatan (manja) kepada pasangannya. Akan tetapi, penulis memiliki diskursus bahwasanya sebuah hubungan romantis juga harus mengutamakan rasa mandiri tanpa harus mengurangi esensi keintiman dalam hubungan romantis. 

Selanjutnya, pembentukan makna terjadi setelah penulis dan pasangan benar-benar memahami apa, dari mana, dan mengapa diskursus masing-masing muncul. Hal ini akhirnya menciptakan 1 buah makna yang disepakati oleh penulis dan pasangan dimana manusia ingin berdekatan dengan orang lain tapi juga tetap ingin memiliki kebebasan, tetapi juga seringkali perdebatan diskursus ini tidak menimbulkan 1 makna sempurna.. hasilnya bisa juga berupa kemampuan untuk masing-masing individu memahami dinamika dalam hubungan romantis yang kadang tidak bisa dipaksakan.

Pada akhirnya, teori ini menjelaskan kepada kita bahwasanya hubungan manusia tidak pernah benar-benar stabil, setiap hubungan selalu ada tarik-menarik antara berbagai kebutuhan dan cara pandang. 

Artinya, akan selalu ada diskursus di tengah-tengah hubungan kita dengan siapapun. Teori ini membantu kita untuk memahami dinamika hubungan lebih baik lagi sehingga suatu perbedaan dalam sebuah hubungan bukanlah hal yang harus dihindari, melainkan suatu proses yang harus dilewati untuk membangun pemahaman suatu makna secara bersama.

Kelebihan Teori Dialektika Relasional

  1. Membantu memahami konflik dalam hubungan: Melalui teori ini, penulis melihat bahwasanya konflik muncul bukan karena suatu hubungan itu buruk, melainkan muncul akibat masing-masing orang memiliki 2 kebutuhan yang sama-sama penting.
  2. Mengajarkan cara berpikir inklusif: Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, melalui teori ini, kita jadi tidak gampang “nge-judge” orang lain ketika kita memiliki perbedaan pandangan dengan orang lain.
  3. Relevan dengan kehidupan sehari-hari:Menurut penulis pribadi, ini adalah teori yang paling relevan dengan kehidupan sehari-hari. “Perang diskursus” yang daritadi kita bahas, hampir selalu kita temui di keseharian kita, paling simpelnya…cara makan bubur yang diaduk dan tidak.

Kekurangan Teori Dialektika Relasional

  1. Sulit diukur secara kuantitatif: Bagi para peneliti yang biasa menggunakan metode kuantitatif seperti penulis, sayang sekali.. teori ini bukanlah suatu teori yang mudah untuk diadaptasi kedalam penelitian kuantitatif karena kebanyakan konsep dalam teori ini bersifat subjektif/pengalaman pribadi.
  2. Tidak selalu memberikan solusi konkret: Dari teori ini memang kita belajar untuk memahami dinamika dalam sebuah konflik. Akan tetapi, penulis merasa pemahaman terhadap dinamika tersebut pada akhirnya masih memiliki celah karena fokus teori yang tertuju pada pemaknaan bukan penyelesaian suatu konflik.
  3. Analisis yang cukup kompleks: Setelah mempelajari teori ini, penulis merasa untuk memahami teori ini cukup kompleks akibat banyak konsep dan bahasa yang cukup sulit dimengerti.

Teori Dialektika Relasional bisa Menjelaskan Fenomena Konflik dan Diskursus

Jadi, teori dialektika relasional ini bisa menjelaskan konflik/diskurus pada hubungan, misalnya pada hubungan romantis (pacaran, suami istri, dsb.), hubungan antar saudara, hubungan pertemanan, dsb.

Kalau kamu, apakah merasa ada tarik ulur dan diskursus pada hubunganmu dengan seseorang?

referensi

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/jftr.12405?casa_token=vtpcsw7Q1gcAAAAA%3A6D6T8CzdjLunpYS6CAzh6SU8l8IReKCRerTzbbywU_0EUYyd-2da146RthQ4rkEsHxnRphKfiaF2CLVL

Author

Rusydi Alkhalifah, S.I.Kom

Saya adalah lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dengan ketertarikan utama pada bidang kehumasan, terutama marketing public relations (Marketing PR). Selama masa studi, saya pernah menjalani magang di divisi Media dan Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Saya menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,64. Selain memiliki minat pada praktik komunikasi pemasaran dan kehumasan, saya juga senang mempelajari serta membagikan pemahaman tentang berbagai teori komunikasi yang relevan dengan fenomena kehidupan sehari-hari. Melalui blog ini, saya menuliskan pemikiran, refleksi, serta pembahasan mengenai komunikasi dari sudut pandang akademik maupun praktis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *