AdsDigital Marketing

Paid Media: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Cara Mengukurnya

Paid media merupakan salah satu pilar utama dalam strategi digital marketing modern dan termasuk bagian dari model PESO.

Berbeda dengan earned media yang diperoleh secara organik, pada paid media, brand membayar untuk mendapatkan distribusi, jangkauan, trafik, atau konversi dari audiens yang ditargetkan.

Di tengah persaingan mendapatkan perhatian audiens di berbagai platform digital, paid media menjadi salah satu cara paling cepat bagi bisnis untuk menjangkau calon pelanggan secara terukur. Meski sangat bergantung pada budget.

Berikut penjelasan dari paid media.

Apa Itu Paid Media?

Paid media adalah aktivitas pemasaran ketika sebuah brand membayar platform, media, atau pihak tertentu untuk mendapatkan eksposur kepada audiens.

Contoh paid media yang paling umum adalah Google Ads, Meta Ads, TikTok Ads, iklan di marketplace, paid influencer, hingga iklan melalui media online, bahkan advertorial di media besar.

Berbeda dengan owned media yang sepenuhnya berada dalam kendali brand, paid media memanfaatkan media atau platform pihak lain dengan membayar untuk mendapatkan distribusi.

Sementara itu, earned media diperoleh secara organik tanpa membeli ruang distribusi secara langsung.

Contoh Paid Media

a. Search Ads

Search Ads merupakan iklan yang muncul ketika pengguna melakukan pencarian menggunakan kata kunci tertentu.

Contohnya adalah Google Ads yang memungkinkan bisnis menampilkan iklan ketika seseorang mencari “klinik MCU Jakarta”, “jasa kontraktor clean room”, atau “PLTS rumah”.

Keunggulan utama Search Ads adalah intent-nya relatif tinggi karena audiens memang sedang mencari informasi, produk, atau jasa tertentu.

Yang terbaru, ChatGPT sudah membuka pendaftaran untuk ads.

b. Social Media Ads

Social media ads merupakan iklan yang ditayangkan melalui platform seperti Instagram, Facebook, TikTok, LinkedIn, atau platform sosial lainnya.

Berbeda dengan Search Ads, social media advertising umumnya tidak menunggu pengguna melakukan pencarian.

Iklan dapat ditampilkan berdasarkan karakteristik audiens, minat, perilaku, lokasi, interaksi sebelumnya, atau data lainnya yang tersedia di platform.

c. Display Advertising

Display advertising merupakan iklan visual yang ditampilkan pada website, aplikasi, atau jaringan publisher tertentu.

Formatnya dapat berupa banner, gambar, video, maupun format interaktif lainnya. Contohnya adalah Google ads: Adsense yang muncul adalah display ads yang berasal dari advertiser. Termasuk adsense di blog ini.

Display Ads sering digunakan untuk meningkatkan awareness, melakukan retargeting, atau menjaga sebuah brand tetap berada dalam benak audiens. Alasan ini juga mengapa brand seraksasa Aqua pun masih terus ngiklan.

d. Paid Influencer dan KOL

Kerja sama dengan influencer atau Key Opinion Leader (KOL) juga dapat dikategorikan sebagai paid media ketika brand membayar kreator untuk membuat dan mendistribusikan konten.

Formatnya bisa berupa sponsored post, video, review berbayar, hingga integrasi produk dalam konten.

Meskipun distribusinya melalui akun milik pihak lain, brand tetap membeli akses terhadap audiens, bahkan yang dibeli jauh lebih dari itu, yaitu otoritas dan trust dari KOL-nya. Hal ini cukup relevan karena menurut source credibility theory, persepsi pesan tidak akan bergantung pada substansi isinya, tetapi juga siapa yang menyampaikan (sumber pesan).

e. Marketplace Advertising

Marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan platform e-commerce lainnya juga menyediakan berbagai format iklan berbayar.

Contohnya adalah iklan produk, search ads, display ads, atau fitur promosi yang membuat produk mendapatkan posisi dan eksposur lebih besar di dalam marketplace.

Mengapa Paid Media Sangat Penting bagi Strategi Marketing?

Dalam lanskap pemasaran digital, paid media memiliki peranan penting karena memungkinkan bisnis mendapatkan distribusi secara lebih cepat dan terukur.

1. Mempercepat Jangkauan dan Brand Awareness

Salah satu keunggulan terbesar paid media adalah kemampuannya mempercepat distribusi pesan.

Tanpa iklan, sebuah konten baru mungkin membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan audiens.

Dengan paid media, brand dapat membayar untuk mendapatkan reach kepada audiens yang relevan dalam waktu relatif singkat.

Misalnya, bisnis baru yang belum mempunyai banyak followers dapat menggunakan Meta Ads untuk memperkenalkan produknya kepada ribuan calon pelanggan. Atau baru grand opening klinik, maka bisa pakai meta ads untuk awareness di area tertentu.

Analoginya, paid media bisa jadi jalan tol untuk meningkatkan awareness.

2. Memiliki Targeting yang Lebih Spesifik

Paid media memungkinkan pengiklan menentukan siapa yang ingin dijangkau.

Targeting dapat berdasarkan lokasi, demografi, minat, perilaku, search intent, hingga interaksi pengguna dengan website atau akun media sosial. Misalnya, Meta Ads punya targetting untuk minat ke brand atau barang mewah tertentu, kita bisa menarget audiens SES A dengan hal ini.

Selanjutnya, untuk bisnis lokal, misalnya, iklan dapat difokuskan pada orang yang berada di area tertentu. Misalnya, radius 20 km.

Hal ini membuat budget iklan dapat dialokasikan kepada audiens yang lebih relevan daripada sekadar mengandalkan distribusi secara massal yang tidak terarah.

3. Hasilnya Lebih Mudah Diukur

Salah satu alasan paid media banyak digunakan dalam digital marketing adalah karena performanya relatif mudah dilacak.

Pengiklan dapat melihat berapa banyak orang yang melihat iklan, melakukan klik, mengisi formulir, mengirim WhatsApp, membeli produk, atau melakukan tindakan lainnya.

Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk melakukan optimasi kampanye yang lebih baik.

4. Mendukung SEO dan Strategi Marketing Lainnya

Paid media tidak harus berdiri sendiri karena bagaimana pun kanal ini sangat bergantung pada budget.

Traffic dari iklan dapat membantu meningkatkan awareness terhadap sebuah brand yang kemudian menghasilkan branded search, direct traffic, social mention, atau bahkan earned media.

Misalnya, seseorang melihat iklan sebuah brand di Instagram tetapi belum membeli.

Beberapa hari kemudian, orang tersebut mencari nama brand di Google sebelum akhirnya melakukan pembelian.

Dalam kondisi seperti ini, kontribusi paid media terhadap customer journey tidak selalu terlihat hanya dari last click atau atribusi final. Tetapi bagian dari customer journey.

Kelemahan Paid Media

Kelemahan paid media adalah sangat bergantung pada budget.

Tidak ada uang, maka media ini tidak bisa berjalan.

Perlu investasi di kanal organik juga agar bisnis tidak ketergantungan paid media untuk mendapatkan revenue.

Cara Menjalankan Paid Media Secara Efektif

Menjalankan iklan bukan sekadar memasukkan budget kemudian menunggu konversi. Dibutuhkan strategi yang jelas mulai dari penentuan tujuan hingga optimasi kampanye.

1. Tentukan Tujuan Kampanye

Sebelum membuat iklan, tentukan terlebih dahulu apa yang ingin dicapai.

Apakah tujuannya meningkatkan brand awareness, mendapatkan traffic, leads, WhatsApp, instalasi aplikasi, atau penjualan?

Tujuan yang berbeda membutuhkan strategi, creative, targeting, dan KPI yang berbeda pula.

Jangan sampai campaign memiliki objektif “traffic”, tetapi keberhasilan sebenarnya justru diukur berdasarkan jumlah leads. Atau target konversi, tetapi yang diukur sebatas awareness.

2. Kenali Target Audiens

Paid media akan lebih efektif ketika kita memahami siapa yang ingin dijangkau.

Buat buyer persona berdasarkan kebutuhan, masalah, perilaku, lokasi, kemampuan membeli, dan tahapan mereka dalam customer journey.

Contohnya, strategi iklan untuk orang yang baru mengetahui sebuah produk tentu berbeda dengan strategi retargeting untuk orang yang sudah mengunjungi halaman produknya.

3. Buat Creative dan Copy yang Relevan

Targeting yang bagus tetap tidak akan maksimal jika konten iklannya tidak menarik.

Creative harus mampu menghentikan scroll, sedangkan copy perlu menjelaskan masalah, manfaat, atau alasan mengapa audiens harus melakukan tindakan tertentu. Kamu bisa menenetukan juga bagusnya campaign paid media ini pakai static image atau video.

Untuk iklan performance, jangan takut melakukan eksperimen terhadap hook, headline, visual, CTA, maupun penawaran. A/B testing sangat diperlukan.

4. Gunakan Landing Page yang Relevan

Jangan membuat iklan yang menjanjikan sesuatu tetapi mengarahkan pengguna ke halaman yang tidak relevan.

Jika iklan menawarkan “Paket MCU untuk perusahaan”, misalnya, landing page sebaiknya langsung menjelaskan paket MCU perusahaan, benefit, proses, dan CTA yang relevan.

Keselarasan antara iklan dan landing page dapat memengaruhi pengalaman pengguna serta performa kampanye.

Penjelasan ini berlaku jika iklannya adalah mengarah ke website. Jika CTWA, maka perlu admin yang fast response.

5. Lakukan Testing dan Optimasi

Paid media bukan strategi “set and forget” atau sekedar “hit and run”.

Lakukan pengujian terhadap berbagai variabel seperti audience, creative, copy, placement, landing page, bidding, dan penawaran, bahkan kualitas leads di CRM jika CTWA.

Setelah mendapatkan data yang cukup, alokasikan budget lebih besar atau scale down jika diperlukan, tergantung performanya.

Metode Pengukuran Keberhasilan Paid Media

Untuk mengetahui apakah campaign paid media benar-benar memberikan hasil, kamu perlu menentukan Key Performance Indicators (KPI) yang sesuai dengan tujuan kampanye.

1. Impressions dan Reach

Impressions menunjukkan berapa kali iklan ditampilkan, sedangkan reach menunjukkan jumlah pengguna unik yang melihat iklan.

Keduanya penting untuk campaign yang berorientasi pada awareness.

Namun, impressions yang tinggi belum tentu berarti campaign berhasil jika audiens yang dijangkau tidak relevan.

2. Click-Through Rate (CTR)

Click-Through Rate atau CTR menunjukkan persentase pengguna yang melakukan klik setelah melihat iklan.

CTR dapat menjadi salah satu indikator untuk mengevaluasi apakah creative, copy, dan targeting mampu menarik perhatian audiens.

Namun, CTR yang tinggi juga belum tentu berarti campaign menghasilkan revenue. Hal ini karena CTR tinggi berarti campaign menarik, tetapi ada masalah pada final touch, entah itu di offer atau kecepatan respon sales, dsb.

3. Cost per Lead (CPL) dan Cost per Acquisition (CPA)

CPL digunakan untuk mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu lead.

Sementara itu, CPA digunakan untuk mengukur biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu tindakan atau akuisisi yang ditentukan.

Contohnya, jika sebuah campaign menghabiskan Rp1.000.000 dan menghasilkan 50 leads, maka CPL-nya adalah Rp20.000. Lalu, terjadi 20 konversi, maka CPA-nya adalah Rp50.000. Terkadang CPA juga adalah CAC (customer acquisition cost).

4. Return on Ad Spend (ROAS)

ROAS digunakan untuk mengetahui berapa besar pendapatan yang dihasilkan dibandingkan dengan biaya iklan.

Misalnya, sebuah campaign menghabiskan Rp10 juta dan menghasilkan revenue Rp50 juta.

Maka ROAS-nya adalah 5x.

Namun, jangan sampai ROAS menjadi satu-satunya indikator keberhasilan karena tidak semua campaign memiliki tujuan langsung menghasilkan revenue.

Campaign awareness, misalnya, bisa saja mempunyai ROAS yang belum terlihat secara langsung tetapi berkontribusi terhadap customer journey.

ROAS pun terkadang kurang bukan jaminan profit. Perlu cek margin juga.

5. Conversion Rate

Conversion rate menunjukkan persentase pengguna yang melakukan tindakan yang diinginkan setelah berinteraksi dengan iklan atau landing page.

Conversion yang dimaksud bisa berupa pembelian, pengisian formulir, pendaftaran, konsultasi, atau tindakan lainnya.

Paid Media Itu Penting

Jadi, paid media merupakan salah satu komponen penting dalam strategi digital marketing karena memungkinkan brand mendapatkan distribusi secara cepat, terukur, dan dapat ditargetkan.

Namun, membakar budget iklan bukan berarti otomatis menghasilkan penjualan.

Paid media yang efektif membutuhkan kombinasi antara targeting yang tepat, creative yang menarik, penawaran yang relevan, landing page yang baik, serta pengukuran dan optimasi yang konsisten.

Idealnya, paid media juga tidak berjalan sendirian karena sangat bergantung pada budget

Gabungkan paid media dengan owned media, earned media, dan shared media agar strategi marketing tidak hanya bergantung pada budget iklan.

Jadi, apakah kamu sudah pakai paid media?

Author

Faris Yudza Ghifari, S.Si., M.I.Kom (Certified Impactful Writer)

Faris Yudza Ghifari. Digital Marketing & Website Associate di PrimeCare Clinic. Berpengalaman di niche kesehatan, pemasaran, dan engineering (alat laboratorium dan energi terbarukan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *