Saat memutuskan untuk membeli suatu barang, semakin banyak pilihan, harusnya semakin mudah untuk memlih. Namun, pada kenyataannya, semakin banyak pilihan, semakin bingung kita, sehingga kita merasa overwhelmed dan pada akhirnya tidak ada keputusan yang dibuat. Hal ini dinamakan paradox of choice atau paradoks pilihan. Contohnya adalah saat kita browsing di online shop, tetapi kita semakin bingung dan tidak kelar-kelar seiring makin banyaknya barang yang kita lhat.
Paradox of choice biasanya dimanfaatkan oleh marketer loh. Namun, kita juga bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yuk kita ketahui lebih lanjut soal paradoks pilihan ini!
Paradox of choice adalah sebuah fenomena di mana semakin banyak pilihan yang ada, justru semakin sulit juga konsumen dalam memilih atau senang dengan keputusan yang mereka ambil. Istilah ini dipopulerkan oleh psikolog Amerika Serikat bernama Barry Schwartz.
Dikutip dari Clear Voice, berikut beberapa aspek utama dalam paradox of choice:
Tentu saja paradox of choice ini sangat berguna untuk marketer, di antara lain:
Ketika membangun landing/sales page, perlu untuk membatasi opsi atau dengan kata lain membuat user fokus pada key message dan (misalnya) tombol untuk mengarahkan mereka ke marketing funnel berikutnya.
Berdasarkan paradox of choice, marketer atau desainer bisa membangun sales/landing page yang teroptimasi dengan baik.
Dalam konten, terutama dengan tujuan untuk conversion, penting untuk fokus pada satu tombol/tempat klik saja agar user tidak bingung.
Terlalu banyak opsi klik di konten akan menaikkan bounce rate.
Kita bisa cek bagaimana hasil yang didapatkan jika user diberikan X pilihan dan Y pilihan. Lalu, A/B testing dan dapatkan kesimpulannya, bagaimana cara optimasi terbaiknya? Berapa pilihan yang harus diberikan?
Pada dasarnya, cara menghadapi paradox of choice adalah membatasi apa yang harus kita pilih.
Filterlah berdasarkan parameter yang kamu inginkan atau gunakan search bar. Jangan sampai terkena trik marketing seperti decoy effect.
Jangan membiasakan diri untuk browsing terlalu banyak, terutama saat berbelanja di olshop.
Semakin banyak pilihan, semakin besar juga peluang kita untuk kena decision fatigue.
Semakin banyak pilihan, justru akan semakin bingung seseorang. Karena itu, sebagai marketer, kita perlu membuat user fokus pada hal yang kita inginkan, baik itu dalam call to action, lead magnet, dll.
Bantu user agar bisa membuat keputusan terbaik!
Referensi:
https://modelthinkers.com/mental-model/paradox-of-choice
https://thedecisionlab.com/reference-guide/economics/the-paradox-of-choice
November 2022, pekerja kreatif di seluruh dunia dikejutkan oleh hadirnya produk OpenAI bernama ChatGPT. Perusahaan…
Metrik di performance marketing ada banyak, salah satunya adalah CPL atau cost per leads yang…
Dalam performance marketing, bahkan SEO. Kita bisa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi satu…
Dengan kemunculan AI generatif, terdapat istilah baru, yaitu GEO. GEO cukup berbeda dengan SEO karena…
Studi sebelumnya, pemilik blog ini menguji rekomendasi blog untuk belajar SEO. Studi dengan kueri lokal…
Studi sebelumnya menyoroti bahwa GEO memberikan jawaban yang tidak selalu sama meski prompt-nya sama. Meski…