Pengalaman

Pengalaman Menyusun/Mengerjakan Tesis dari Bab 1 (Pendahuluan) hingga Bab 6 (Kesimpulan)

Menyusun tesis memang adalah bagian yang merupakan keniscayaan bagi mahasiswa S2. Pemilik blog ini telah selesai menyusun/mengerjakan tesis. Memang melelahkan dan bikin banyak begadang, bahkan waktu bekerja dan keluarga jadi dikorbankan.

Jadi, gimana penyusunan tesis dari bab 1 sampai bab akhir? Ini penjelasannya berdasarkan pengalaman pemilik blog ini:

1. Menyusun Bab 1 (Pendahuluan)

Menyusun atau mengerjakan bab 1 alias pendahuluan adalah bagian paling sulit. Karena mau bagaimana pun, bab 1 adalah fondasi serta alasan mengapa penelitian dilakukan dari awal. Jika bab 1-nya lemah, maka tidak akan bisa lanjut ke bab berikutnya. Meski sebenarnya ada juga cara menyusun tesis mulai dari bab 2 dan 3 dulu, baru bab 1.

Pengalaman pemilik blog ini, bab 1 ini adalah bagian paling tersulit dalam penyusunan tesis. Dosen pembimbing juga paling detail terkait bab ini. Bab 1 berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan signifikansi penelitian. Bisa dibilang fondasi mengapa penelitian dilakukan.

Pada penyusunan bab 1, pemilik blog ini menghabiskan waktu 3 bulan, bahkan jadinya ganti judul karena tidak ketemu latar belakang yang sesuai keilmuan (ilmu komunikasi).

Tips untuk penyusunan bab 1 tesis:

1. Perbanyak baca jurnal ilmiah di topik tesis karena digunakan untuk menemukan masalah penelitian dan research gap

2. Baca dan catat bagian limitasi dan saran untuk riset ke depannya

3. Diskusi dengan dosen pembimbing

4. Akses researchgate, biasanya banyak riset yang open access. Pemilik blog ini juga sering request full text ke peneliti dan mereka fast response dalam menjawabnya. Contohnya, pemilik blog ini pernah req full text MAIN Model ke ilmuawan media digital, yaitu Sundar dan pengirimannya berlangsung cepat.

2. Menyusun Bab 2 (Kerangka Konseptual)

Menyusun bab 2 sebenarnya tergolong mudah bagi pemilik blog ini. Yang menantang justru membaca teori yang menjadi bagian dari kerangka konseptual serta mendesain kerangka konseptualnya. Peran teori pada penelitian juga dijelaskan pada bab ini, begitu juga dengan limitasinya. Misalnya, teori A hanya dipakai secara interpretatif saja.

Pada bab 2 juga dilakukan perumusan hipotesis jika penelitiannya dilakukan dengan pendekatan kuantitatif.

Tips untuk penyusunan bab 2 tesis:

1. Temukan dan pahami original paper dari teori yang jadi kerangka konseptual

2. Baca riset terdahulu yang menggunakan teorinya. Bagaimana peran dan hasilnya? Hal ini jadi argumen dalam perumusan hipotesis

3. Jangan copas mentah-mentah karena bab ini cukup rawan kena Turnitin

3. Menyusun Bab 3 (Metode)

Menyusun bab 3 cukup ribet, terutama jika metodenya perlu keketatan yang tinggi. Kebetulan pemilik blog ini menggunakan metode eksperimen untuk tesis, sehingga banyak penjelasan dari paradigma, pendekatan penelitian, metode eksperimen, stimulus, prosedur akuisisi data, pengolahan data, hingga analisis data.

Tips untuk penyusunan bab 3 tesis:

1. Pahami paradigma, pendekatan, dan metode yang digunakan

2. Cek penelitian terdahulu, umumnya banyak yang menggunakan buku atau rujukan yang mirip. Misalnya, Neuman sering jadi rujukan metodologi di ilmu sosial

3. Jelaskan metodologi secara transparan dan limitasinya, serta pemilihan metodenya

4. Menyusun Bab 4 (Hasil Penelitian)

Bagian ini fokus pada memaparkan temuan dari hasil penelitian yang dilakukan. Contohnya, pemilik blog ini menggunakan ANCOVA dan metode eksperimen, sehingga isi bab 4-nya meliputi:

1. Attention check

2. Uji independensi antar kondisi

3. Manipulation check

4. Uji validitas instrumen

5. Uji reliabilitas instrumen

6. Uji asumsi ANCOVA (uji normalitas residual, levene’s test, dan uji homogenitas kemiringan regresi)

7. Hasil ANCOVA

8. Uji ketangguhan (uji robust)

9. Demogarafi responden

Pada bab ini, banyak penjelasan dengan bahasa matematis dan visual seperti grafik dan skrinsut hasil pengolahan data dairi SPSS.

Tips penyusunan bab ini:

1. Visualisasikan data dengan baik

2. Belajar software pengolahan data, misalnya SPSS untuk kuantitatif dan Nvivo untuk kualitatif

3. Pastikan arus informasinya runtut dan koheren. Contohnya, uji asumsi ANCOVA dulu baru hasil ANCOVA serta uji validitas instrumen, baru uji reliabilitas instrumen

5. Menyusun Bab 5 (Diskusi)

Penyusunan bab 5 sebenarnya menantang karena mendiskusikan hasil temuan. Pada bagian ini, fokus pada:

1. Hasil penelitian yang didapatkan (pada kuantitatif, misalnya membahas hipotesis yang diterima dan ditolak)

2. Perbandingan dengan penelitian lain (konsisten dan inkonsistensi)

3. Alternatif penjelasan yang memungkinkan

Umumnya, bab ini cukup mendapat banyak pertanyaan dari penguji. Namun, karena peneliti menggunakan metode eksperimen, yang banyak ditanya justru bab 3 dan 4 karena fokus pada validitas internal dari eksperimennya.

Tips penyusunan bab 5 (Diskusi):

1. Baca penelitian terdahulu di topik yang diteliti, cek alasan mengapa temuan penelitian terdahulu terjadi

2. Berdiskusi dengan dosen pembimbing karena mereka adalah pakar

3. Jangan ragu untuk mengakui limitasi. Tidak ada penelitian yang sempurna

4. Tidak semua hipotesis harus diterima. Telusuri dari referensi terdahulu mengapa hipotesis diterima dan ditolak

6. Menyusun Bab 6 (Kesimpulan)

Bab 6 umumnya cepat penyusunannya karena berisi 1-2 halaman saja. Kesimpulan yang baik harus menjawab tujuan penelitian, serta bisa merangkum hasil dan diskusi penelitian.

Pada bagian ini, terdapat juga penjelasan limitasi penelitian dan saran bagi penelitian selanjutnya, serta implikasi penelitian (ini bisa juga di bab 5, tergantung kampus).

Pesan dari dosen pembimbing pemilik blog ini, kesimpulan tidak boleh overclaim dan harus diperhatikan betul-betul konteksnya.

Tips penyusunan bab 6:

1. Baca ulang bab 4 dan 5

2. Buat rangkuman secara singkat, jelas, dan padat

3. Recall apa saja keterbatasan dari penelitian serta list saran untuk penelitian selanjutnya

Bab mana yang paling Sulit dalam Penyusunan Tesis?

Dari pengalaman pemilik blog ini, penyusunan tesis mencapai bagian terberat di bab 1. Kembali lagi ke fondasi. Suatu penelitian ada justifikasinya atau tidak kembali ke latar belakangnya. Jika tidak kuat, maka isi ke depannya tidaklah relevan. Belum lagi, bab 1 harus effort di membaca jurnal ilmiah demi menemukan research gap dan masalah penelitian.

Di luar bab 1, bab 5 juga cukup menantang karena harus lebih banyak membaca dan memahami hasil dari penelitian terdahulu serta membandingkannya dengan temuan penelitian di tesisnya.

Tesis memang Menantang

Dari pengalaman pemilik blgo ini, tesis memang prosesnya menantang. Pemilik blog ini pernah stuck 3 bulan hanya berkutat di bab 1 saja. Namun, setelah bab 1, perjalanannya cukup lancar karena fondasinya kuat. Berbeda dengan skripsi, dalam pengerjaan tesis, mahasiswa dituntut lebih mandiri. Pemilik blog ini belajar sendiri dalam pembuatan kuesioner, akuisisi data, analisis data dengan SPSS, hingga menyusun argumen, dan menyimpulkan temuan penelitian. Dosen pembimbing jadi semacam kolega untuk approval dan teman diskusi saja.

Semoga pengalaman penyusunan atau pengerjaan tesis yang pemilik blog tulis ini bisa bermanfaat bagi pejuang tesis yang lain.

Sebagai catatan:

Pengalaman penyusunan tesis yang diceritakan di blog post ini:

1. Ilmu sosial, tepatnya ilmu komunikasi

2. Pendekatan kuantitatif

3. Metode eksperimen

4. Dilakukan di UI

5. Dosen pembimbing sangat detail dan bisa jadi teman diskusi yang luar biasa

5 hal ini berbeda, maka cerita penyusunan tesisnya bisa berbeda juga.

Author

Faris Yudza Ghifari, S.Si. (Certified Impactful Writer)

Faris Yudza Ghifari. Digital Marketing & Website Associate di PrimeCare Clinic. Berpengalaman di niche kesehatan, pemasaran, dan engineering (alat laboratorium dan energi terbarukan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *