SEO

Self-Canonical – Manfaat, Implementasi, dan Kesalahan yang harus Dihindari

Secara umum, tag canonical berperan sebagai hint atau petunjuk bagi mesin pencari versi halaman mana yang menjadi rujukan utama. Ketika halaman A memasang tag canonical yang menunjuk ke halaman A itu sendiri, itulah yang disebut sebagai self-referencing canonical atau self-canonical. Jadi, mereferensikan diri sendiri bisa dibilang adalah Self-Canonical. Wah memang apa manfaatnya?
Berikut penjelasan lengkapnya!

Apa Itu Self-Canonical?

Self-canonical adalah praktik memasukkan tag HTML <link rel="canonical"> pada suatu halaman web yang mengarah ke URL halaman itu sendiri.
Terlihat narsis ya, mereferensikan diri sendiri sebagai rujukan utama. Eits, tapi ini penting dalam technical SEO 🙂

Mengapa Self-Canonical Sangat Penting untuk SEO Website?

Mungkin kamu bertanya-tanya, untuk apa memasang tag canonical yang mengarah ke halaman yang sama? Apakah hal tersebut tidak terkesan berulang? Jawabannya tidak sesederhana itu. Dilihat dari perspektif technical SEO, mesin pencari seperti Google menganggap URL yang berbeda sedikit saja sebagai halaman yang sepenuhnya berbeda. Hal ini termasuk ketika kita memasang UTM bagi page-nya.
Self-canonical juga penting untuk memberi tahu bahwa memang halaman itu beneran penting buat diindeks.
Pada situs e-commerce, halaman pagination harus dibuat self-canonical sebagai best practice SEO. Bukan justru di-noindex. Pengalaman pemilik blog ini pernah menemukan hal seperti ini saat audit. Halaman pagination malah justru dinoindex, bukan diberikan self-canonical.

Cara Mengimplementasikan Self-Canonical dengan Benar

Penerapan tag ini terbilang cukup mudah, baik secara manual maupun menggunakan plugin SEO.

1. Format Kode Tag Canonical

Kamu cukup menambahkan baris kode HTML berikut di dalam elemen <head> pada halaman web kamu:
<link rel="canonical" href="[https://websitekamu.com/judul-halaman/](https://websitekamu.com/judul-halaman/)" />
Pastikan alamat URL yang tertulis di dalam sintaks href adalah URL absolut (menggunakan https://), bukan URL relatif (seperti /judul-halaman/).

2. Instal Plugin Seperti Yoast

Jika kamu memakai WordPress, plugin Yoast sudah memberikan setting-an self-canonical pada page sebagai default.

<link rel=”canonical” href=”https://www.farisyudza.com/commodity-content-konten-umum-tetapi-tetap-diperlukan-dalam-seo/” class=”yoast-seo-meta-tag” /> -> contoh self-canonical pada blog post commodity content di blog ini.

Kesalahan yang Harus Kamu Hindari pada Implementasi Self-Canonical

Hindari kesalahan ini agar self-canonical tidak jadi bumerang:

a. Jangan Menggunakan Self-Canonical di URL HTTP

Selalu gunakan protokol aman https:// pada alamat canonical. Canonical tag pada http diarahkan ke https://

b. Perhatikan Tanda Garis Miring di Akhir (Trailing Slash)

Pastikan konsistensi penggunaan garis miring di akhir URL (/). Menganggap [websitekamu.com/page](https://websitekamu.com/page) sama dengan [websitekamu.com/page/](https://websitekamu.com/page/) adalah kekeliruan yang sering terjadi.

c. Hanya Pasang Satu Tag Canonical per Halaman

Memasang lebih dari satu tag canonical dalam satu halaman akan membuat mesin pencari mengabaikan semuanya. Jangan bikin bingung bot mesin pencari!

Perbedaan Self-Canonical dengan Canonical Tag Biasa

Perbedaannya hanya pada arah. Self-canonical mereferensikan diri sendiri. Sementara itu, canonical tag memberi rujukan ke halaman lain. Halaman B punya canonical tag dan mengarah ke halaman A. Kalau self-canonical halaman B punya canonical yang mengarah ke halaman B itu sendiri.

Self-Canonical Penting untuk SEO

Jadi, self-canonical bukan berarti halamannya narsis minta jadi rujukan utama. Justru ini adalah salah satu best practice technical SEO yang harus diperhatikan secara serius. Misalnya, pada situs e-commerce, halaman pagination bagusnya dipasang self-canonical, bukan justru dipasang canonical tag dan diarahkan semua ke halaman 1.

Apakah kamu sudah implementasi self-canonical di situsmu?

Author

Faris Yudza Ghifari, S.Si., M.I.Kom (Certified Impactful Writer)

Faris Yudza Ghifari. Digital Marketing & Website Associate di PrimeCare Clinic. Berpengalaman di niche kesehatan, pemasaran, dan engineering (alat laboratorium dan energi terbarukan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *