Commodity Content – Konten Umum, tetapi Tetap Diperlukan dalam SEO?
Meskipun Google sangat mendorong pembuatan non-commodity content yang berbasis pengalaman unik atau first hand experience, secara realitas, commodity content tetap memegang peranan kunci dalam strategi Search Engine Optimization (SEO).
Mengapa demikian? Berikut pendapat pemilik blog ini.
Apa itu Commodity Content?
Commodity content adalah jenis konten yang membahas topik-topik populer, definisi dasar, panduan umum, atau informasi standar yang umumnya tersebar di banyak situs dan SERP. Tidak heran, kalau isi SERP, terutama short tail keyword, sama semua ketika keyword/kueri ada di seputaran commodity content.
Karakteristik Utama Commodity Content
1. Search Volume Tinggi
Karena terlihat pasaran, akhirnya search volume tinggi. Seperti tutorial macam-macam, misalnya cara menurunkan berat badan.
2. Informasi Publik yang Sudah Ada di Internet Sebelimnya
Bersumber dari fakta umum, dokumentasi resmi, atau literatur yang sudah ada/pernah ditulis, sehingga minim information gain.
3. Mudah Direplikasi oleh AI
Karena AI hanya menyadur dari yang sudah ada, konten jenis ini mudah sekali dibuat oleh AI generatif.
Kelebihan Commodity Content
1. Potensi Traffic Tinggi jika Visibilitas Bagus
Commodity content mampu mendatangkan banyak traffic jika situsnya juga memiliki visibilitas tinggi.
2. Efisiensi Produksi
Riset lebih cepat dilakukan karena referensi materi mudah ditemukan. Konsekuensinya, konten jenis ini memiliki waktu pengerjaan yang lebih cepat.
3. Efektif untuk Membangun Topical Authority
Commodity content bisa jadi cara efektif dalam membangun topical authority. Namun, perlu ada information gain agar kontennya tidak mirip-mirip banget dengan konten lain di SERP.
4. Lifespan Konten Panjang
Commodity content umumnya memiliki lifespan atau relevansi lebih panjang, terbukti dengan search volume yang besar. Tren tidak semudah itu bergeser, termasuk di mesin pencari.
Kekurangan Commodity Content
1. Tingkat Persaingan Tinggi, Terutama di SERP
Karena mudah ditiru oleh kompetitor dan rentan dibuat oleh AI generatif, wajar saja jika kompetisi di SERP tinggi. Karena semuar orang bisa membuatnya 🙂
2. Risiko Information Gain Rendah/Tidak Ada
Jika hanya copas sumber lain tanpa nilai tambah, konten berisiko dianggap thin content karena tidak dianggap memberi added value atau information gain apa pun bagi user.
3. Sulit untuk Dijadikan sebagai Bahan Branding
Karena terlalu umum, brand akan kesulitan untuk standout karena membahas hal yang mirip dengan brand lainnya.
Tips Membuat Commodity Content dengan Information Gain
Agar commodity content Anda tetap unggul di mesin pencari dan user menganggap ada added value, berikut tipsnya:
1. Rangkum Informasi Secara Visual dan Rapi
Pakai visualisasi data seperti tabel perbandingan atau diagram agar audiens dapat memahami jawaban dengan lebih cepat daripada membaca artikel kompetitor.
Jawaban bersifat pointer juga bisa jadi cara yang menarik.
2. Sajikan Data dan Regulasi Terkini
Pastikan semua data, statistik, dan panduan langkah-langkah yang disampaikan di konten bersifat faktual. Hindari misinformasi!
Kapan Waktu yang Tepat untuk Membuat Commodity Content?
1. Membangun Fondasi Topical Authority Website Baru
Di tahap awal optimasi SEO website, kamu perlu membuat konten di topik tertentu untuk memberi sinyal kepada Google mengenai topik utama dari suatu situs.
2. Menargetkan Audiens dalam TOFU (Awareness)
Karena search volume tinggi, audiens kemungkinan besar ada pada tahap TOFU atau awareness. Untuk hal ini, commodity content bisa dipakai.
3. Mendukung Internal Linking
Commodity content yang saling berkaitan dapat membantu dalam internal linking karena topiknya saling berkesinambungan.
Contoh Topik Commodity Content
Berikut contoh commodity content di blog ini:
1. https://www.farisyudza.com/perbedaan-writer-dan-author-sesama-penulis-ada-bedanya/
2. https://www.farisyudza.com/perbedaan-content-writer-dan-script-writer-mulai-dari-tugas-hingga-output-pekerjaan/
3. https://www.farisyudza.com/blog-vs-media-sosial-ada-perbedaan-tetapi-integrasi-lebih-baik/
4. https://www.farisyudza.com/uncertainty-reduction-theory-mengelola-ketidakpastian-saat-berinteraksi/
5. https://www.farisyudza.com/media-uses-and-gratification-theory-apa-yang-dilakukan-manusia-terhadap-media/
Tentu saja blog ini pun juga banyak commodity content-nya, tetapi non-commodity content juga ada 🙂
Haruskah Website/SEO Hanya Fokus pada Commodity Content?
Jawabannya adalah tidak. Strategi SEO yang ideal sebaiknya juga memasukkan non-commodity content dalam pembuatan kontennya.
Jika hanya membahas commodity content saja, situs tidak akan memiliki brand yang kuat, boro-boro berbicara E-E-A-T. Tidak masuk sama sekali!
Commodity Content Tetap Penting dalam SEO
Meski Google mendorong pentingnya non-commodity content, commodity content tetaplah penting bagi SEO karena bisa menjadi fondasi dari topical authority serta punya demand yang besar.
Padukan pembuatan commodity content dan non-commodity content dalam optimasi SEO-mu. Jangan hanya memilih salah satu saja 🙂