Dalam menentukan TLD atau top-level domain, biasanya orang-orang akan memakai gTLDs (generic) seperti .com, namun ada juga yang menggunakan ccTLDs (country code). Kamu pasti familiar dengan TLD .id bukan? .id adalah contoh dari ccTLD yang dipakai di Indonesia.
Apa sebenarnya ccTLD ini? Apa saja manfaatnya? Apakah berpengaruh terhadap SEO dan kalau menarget audiens dengan negara tertentu, ccTLD cukup?
CcTLD atau country code top-level domain adalah top-level domain yang mengindikasikan suatu lokasi geografis (negara) dari situsnya.
Dari definisi tersebut, ccTLD memang mengindikasikan suatu negara, namun tidak menggambarkan bahasa yang digunakan pada situsnya. Jadi jangan heran kalau ada situs dengan ccTLDs negara lain, tetapi bahasanya tidak menggunakan bahasa asli negara lokasi dari situsnya.
Hal ini juga yang menjadi pembeda ccTLD dengan TLD lainnya seperti gTLD dan sTLD.
Dikutip dari Root Zone Database, per Juni 2022, terdapat 316 ccTLD. Berikut beberapa contohnya:
Pada dasarnya, manfaat ccTLD adalah memberi tahu lokasi dari suatu situs. Pada bisnis, hal ini bermanfaat untuk menarget audiens negara tertentu. Contohnya, kalau kamu menarget audiens dari Prancis, maka ccTLD .fr bisa digunakan. Mirip dengan penerapan Google Business Profile pada local SEO.
Dikutip dari MoZ, Google mengasumsikan bahwa suatu situs yang menggunakan ccTLD kontennya relevan dengan audiens/demografi negara tertentu sesuai dengan ccTLD-nya.
CcTLD memang bagusnya adalah memberi tahu lokasi dari suatu situs, jadi lebih terfokus. Namun, hal ini juga menjadi kelemahan, yaitu pada situs yang menarget audiens global atau tidak hanya satu negara saja.
Selain itu, menurut survei dari bluecoat.com, ccTLD .gq (Guinea Ekuator) 97,63%-nya adalah situs yang mencurigakan. Namun, jangan khawatir, dikutip dari Semrush, .co.uk adalah ccTLD yang paling dipercaya di dunia.
Menurut beberapa blogger, ccTLD juga biasanya punya harga yang lebih mahal dibanding dengan gTLD. Situs ini menggunakan TLD dengan harga Rp 500.000 rupiah setahun, sementara itu, ada domain ccTLD yang dijual seharga 76 USD per tahun (hampir 1,2 juta rupiah).
Jawabannya adalah tidak. Kita perlu hosting dengan server lokal sesuai dengan ccTLD situs kita atau memanfaatkan CDN (content delivery network).
Selain hosting dan CDN, jangan lupa bahwa bahasa juga penting. Orang-orang yang berkunjung ke domain dengan ccTLD itu yakin bahwa situsnya menggunakan native language atau mother tongue bahasa mereka. Jadi, jangan sampai bahasa di situs kita justru tidak sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh audiens.
Terakhir, jangan setengah-setengah. Kalau memang punya bisnis di negara lain, buat juga Google Business Profile untuk memaksimalkan local SEO.
Menggunakan ccTLD ada kelebihan dan kekurangannya sendiri. Kalau situsmu ingin menarget audiens dari banyak negara, maka ccTLD bukanlah pilihan yang tepat. Sementara itu, jika kamu ingin menarget audiens di negara tertentu, ccTLD bisa jadi pilihan yang baik.
Riset, dan do your own risk. Kalau masih tidak yakin, pakai saja gTLD seperti .com.
Happy optimizing!
Referensi:
https://moz.com/learn/seo/cctlds
https://www.shopify.com/id/blog/what-is-cctld
https://www.iana.org/domains/root/db
https://www.semrush.com/blog/will-using-alternate-tlds-affect-your-seo-negatively/
Karena sekarang AI bisa membuat teks, orang-orang jadi sulit untuk membedakan tulisan AI dan manusia.…
Mendapatkan backlink secara natural pastinya sulit, tetapi rasanya sepadan. Apalagi, jika ternyata backlink yang didapatkan…
Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…
Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…
Bridge dari Kebiasaan Membaca Personal Blog dan Konten Naratif Mendalam ke Pengalaman JRPG Modern: Mengapa…
Traffic website turun biasanya jadi alarm atau peringatan, terutama bagi pengurus website atau SEO specialist.…