Jaman sekarang, banyak sekali UGC berupa testimoni palsu. Pas baca testimoninya bagus-bagus, kok pas sampai barangnya atau saat menggunakan jasanya malah zonk? Ternyata testimoninya bukan murni dari orang yang menikmati produk/jasanya.
Apa ciri-ciri testimoni palsu? Bagaimana cara mengecek apakah testimoninya palsu atau beneran asli?
Percaya atau tidak, terdapat generator testimoni dengan AI untuk membuat testimoni palsu.
Jika kamu menemukan review produk/jasa dengan tulisan yang kaku, bisa jadi itu merupakan testimoni palsu yang dibuat oleh AI.
Yah, sebenarnya tidak semua, namun testimoni tanpa adanya gambar, video, atau nuansa visual adalah ciri-ciri testimoni palsu.
Seeing is believing.
Namun, nuansa visual yang berlebihan juga termasuk ciri-ciri testimoni palsu.
Pastinya untuk social proof, perusahaan akan mencantumkan nama atau identitas dari orang yang memberi mereka testimoni positif.
Jika identitasnya tidak jelas atau anonim, bisa jadi testimoni tersebut palsu.
Googling saja namanya atau hubungi pembuat testimoninya jika masih ragu.
Jika kamu melihat banyaknya testimoni dengan cara yang sama di berbagai platform, itu adalah ciri-ciri testimoni palsu.
Kalau testimoninya hanya bilang bagus, tanpa menyebutkan mengapa produknya dibeli dan cara produknya bekerja, itu adalah ciri-ciri testimoni palsu juga.
Testimoni terbaik adalah penjelasan lengkap, mencakup 5W1H bahkan kalau niat.
Terakhir, mungkin kamu sudah tidak asing dengan sistem bintang dalam review.
Biasanya, testimoni palsu hanya melibatkan pemberian bintang 5 saja tanpa adanya komentar atau penjelasan lebih lanjut.
Namun, ada juga tipe klien yang malas komentar, cuma mau kasih review bintang saja.
Kalau kita tidak mau termakan atau jadi korban testimoni palsu, jadilah orang yang kritis.
Lihat apakah testimoninya asli atau tidak lewat ciri-ciri testimoni palsu yang telah dijelaskan di sesi sebelumnya.
Terdapat alat untuk mendeteksi testimoni palsu di internet seperti Fakespot.
Sayangnya, tools pun belum tentu akurat, seperti tools untuk mendeteksi tulisan AI yang bisa saja salah dalam memeriksa tulisan manusia, disangka buatan AI.
Ini adalah cara terniat, yaitu menghubungi langsung pemberi testimoninya.
Kita bisa tahu apakah memang yang memberikan testimoni merasakan langsung manfaat produk/jasanya atau tidak.
Social proof sulit untuk didapatkan untuk bisnis yang baru merintis atau bisnis dengan tingkat kompetisi yang ketat. Jangankan testimoni, mendapatkan klien pertama saja sudah sulit.
Karena itu, jalan pintas untuk mendapatkan social proof adalah dengan membuat testimoni palsu. Performa bisnis juga bisa terbantu dengan adanya testimoni palsu, utamanya di e-commerce.
Sayangnya hal ini justru kurang baik bagi bisnis untuk jangka panjang. Calon pelanggan yang berhasil mendeteksi ciri-ciri testimoni palsu akan kehilangan kepercayaan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, testimoni palsu adalah cara yang memang banyak dipakai karena persaingan bisnis yang ketat. Kita sebagai konsumen yang tidak punya kontrol akan hal tersebut harus lebih cerdas dalam menilai suatu testimoni.
Jangan sampai kita termakan testimoni palsu, sehingga boncos karena merasa tertipu dari testimoninya.
Untuk pebisnis, testimoni palsu mungkin bisa berhasil dalam jangka pendek, namun akan sulit untuk jangka panjang.
Semua bagian dari hidup kita tidak akan lepas dari politik, termasuk pemasaran digital seperti SEO.…
Kalau mau ke Dieng atau Gunung Prau serta lewat Patak Banteng, pastinya perlu alat outdoor…
Karena sekarang AI bisa membuat teks, orang-orang jadi sulit untuk membedakan tulisan AI dan manusia.…
Mendapatkan backlink secara natural pastinya sulit, tetapi rasanya sepadan. Apalagi, jika ternyata backlink yang didapatkan…
Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…
Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…