Ketika kita mengetik prompt pada AI seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dll. jawabannya justru malah ngawur dan tidak faktual? Itu adalah halusinasi AI.
Wah, kok bisa AI salah memberikan jawaban? Yuk kita telusuri!
Halusinasi AI adalah ketika AI salah memberikan jawaban atau memberikan jawaban yang punya bias dan subjektivitas tinggi (tidak objektif).
AI generatif atau AI search, seperti Google AI overview bisa berhalusinasi.
Terdapat beberapa jenis halusinasi AI, yaitu:
Contoh halusinasi AI yang terkenal adalah pemberian lem pada pizza bisa membuat makanan tersebut enak.
Featured image pada blog post ini juga menjelaskan contoh halusinasi AI loh~
Menurut Google Cloud, ada beberapa penyebab halusinasi AI, yaitu:
Dari cara kerja AI, mereka menemukan pola pada data yang diberikan oleh mereka. Jika datanya tidak lengkap, salah, atau bias, maka kemungkinan besar akan terjadi kesalahan.
Kalau kita lihat, bagian dari training data, sebenarnya ini adalah alasan mengapa content writer manusia masih dibutuhkan. AI masih butuh data untuk mereka jadikan rujukan.
Halusinasi AI sangat berbahaya karena sama saja menimbulkan hoax dan memberikan efek yang negatif karena pesannya tidak bersifat faktual. Hal ini berbahaya untuk kasus informasi pada niche YMYL seperti kesehatan dan keuangan.
Informasi salah dari AI alias halusinasi dapat menyebabkan kehilangan nyawa (salah informasi soal hal vital dalam kesehatan) dan kemiskinan (saran trading yang salah). Dampaknya tidak hanya materil, tetapi jadi juga imateril.
Mungkin ini lebih tepatnya untuk AI engineer. Intinya adalah perlengkap data, buat batasan, latih AI-nya untuk sumber tertentu, dan bikin semacam template, sertakan juga do and don’t untuk AI-nya. Hal ini mirip dengan semacam membuat brief untuk bawahanmu.
Ketika menemukan halusinasi AI, penting bagi kita untuk memberi tahu bahwa sang AI telah salah memberikan jawaban.
Anggaplah jawaban dari AI itu belum tentu benar. Cek lagi apakah informasi dari AI faktual atau tidak.
Lagi-lagi, AI search yang masih rawan halusinasi inilah alasan mengapa SEO tidak akan mati dalam waktu dekat 🙂
Mau tidak mau, suka tidak suka. AI bisa saja akan mengalami halusinasi karena mereka hanya mengambil dari data dan merangkumnya saja. Jika banyak data berupa informasi yang bias atau hoax, wajar saja AI berhalusinasi.
Justru, kitalah sebagai user yang dituntut untuk kritis dan cerdas ketika menerima informasi dari AI. Jadilah user yang kritis, bukan justru manut-manut saja dengan AI. Biasakan diri untuk skeptis 🙂
Penyedia data juga seharusnya bertanggung jawab sebagai penyedia data bagi AI. Jangan berikan informasi yang salah atau penjelasannya asal-asalan. Pakailah model komunikasi Berlo, di mana kedua sender dan receiver harus punya aspek yang mirip agar komunikasinya efektif.
Akhir kata, kamu saja belum tentu percaya informasi dari keluarga dan teman sendiri. Kok bisa percaya tanpa keraguan dengan AI?
Referensi:
https://cloud.google.com/discover/what-are-ai-hallucinations?hl=en
https://www.ibm.com/topics/ai-hallucinations
How AI Search Changes Keyword Targeting and Authority for Boardinfinity Audiences Introduction Search has entered…
Dulu, featured snippet atau rank 0 adalah jawaban ringkas dari Google atas suatu kueri penelusuran.…
Apakah SEO specialist harus bisa menulis konten? Terkadang pertanyaan ini muncul, apalagi jika pekerjaan SEO-mu…
Menyusun tesis memang adalah bagian yang merupakan keniscayaan bagi mahasiswa S2. Pemilik blog ini telah…
Salah satu pertanyaan dari pebisnis atau digital marketer yang sudah lama mengoptimasi SEO adalah apakah…
Seminar hasil tesis pasti butuh persiapan. Setelah ambil data, analisis, dan ambil kesimpulan, waktunya menyampaikan…