Majas Metafora: Pengertian, Ciri-Ciri, Fungsi, dan Contohnya
Majas metafora adalah salah satu jenis majas yang sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu melalui perbandingan langsung dengan hal lain yang memiliki kemiripan sifat atau makna. Berbeda dengan majas simile yang biasanya menggunakan kata pembanding seperti bagai, seperti, atau laksana, majas metafora menyampaikan perbandingan secara langsung. Jadi, tidak ada perbandingan!
Misalnya, ketika seseorang mengatakan, “Dia adalah tulang punggung keluarga,” bukan berarti orang tersebut benar-benar menjadi tulang di bagian punggung keluarganya. Ungkapan tersebut menggambarkan seseorang yang menjadi breadwinner atau pencari nafkah utama dari keluargnaya.
Lalu, apa pengertian majas metafora, apa saja ciri-cirinya, dan bagaimana contoh penggunaannya?
Apa Itu Majas Metafora?
Majas metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu hal dengan hal lain secara langsung berdasarkan kesamaan sifat, karakteristik, atau makna tertentu, tanpa menggunakan kata pembanding secara eksplisit.
Istilah metafora berasal dari bahasa Yunani metaphora, yang berkaitan dengan pemindahan atau pengalihan makna. Dalam penggunaannya, makna suatu kata atau ungkapan dialihkan untuk menggambarkan sesuatu yang berbeda dari arti harfiahnya.
Contohnya:
“Rina adalah bintang kelas.”
Kalimat tersebut tidak berarti Rina benar-benar merupakan benda langit yang bersinar, apalagi di kelas. Kata bintang digunakan untuk menggambarkan Rina sebagai siswa yang menonjol, terutama di bidang akademik.
Contoh lainnya:
“Buku adalah jendela dunia.”
Buku tidak benar-benar merupakan jendela yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan di luar rumah. Ungkapan tersebut menggambarkan buku sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan dan media agar orang-orang bisa mengetahui dunia lebih luas lagi.
Dengan demikian, makna majas metafora perlu dipahami berdasarkan konteks penggunaannya. Jika diartikan secara harfiah, pesan yang ingin disampaikan justru dapat menjadi membingungkan.
Dalam komunikasi, metafora juga dapat membantu seseorang menyampaikan gagasan yang abstrak melalui gambaran yang lebih konkret dan mudah dipahami. Namun, penggunaan metafora yang kurang tepat dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama jika audiens tidak memahami konteks atau ungkapan yang digunakan.
Ciri-Ciri Majas Metafora
Majas metafora memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dari gaya bahasa lainnya.
1. Membandingkan Dua Hal Secara Langsung
Ciri utama majas metafora adalah membandingkan dua hal secara langsung tanpa menggunakan kata pembanding seperti seperti, bagai, atau laksana. Kontras dengan majas simile.
Contohnya:
“Pemuda itu adalah harapan bangsa.”
Pemuda tersebut bukan benar-benar sebuah harapan dalam bentuk benda. Ungkapan majas ini adalah bahwa pemuda adalah orang yang akan melanjutkan kiprah suatu bangsa secara positif, sampai membanggakan.
2. Menggunakan Makna Kiasan
Majas metafora umumnya tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah. Kata atau frasa yang digunakan memiliki makna kiasan sesuai konteks kalimat.
Misalnya:
“Jangan menjadi tikus kantor.”
Ungkapan tikus kantor merujuk pada orang yang melakukan korupsi di kantor. Apalagi, tikus identik dengan pemakan segala dan rakus.
3. Mengandung Kesamaan Sifat atau Makna
Perbandingan dalam metafora biasanya didasarkan pada kesamaan sifat, fungsi, karakteristik, atau asosiasi tertentu antara dua hal.
Contohnya:
“Ibu adalah malaikat dalam hidupku.”
Malaikat dalam ungkapan tersebut menggambarkan sosok yang dianggap penuh kasih sayang, melindungi, dan memberikan kebaikan. Kalimat tersebut bukan berarti makhluk gaib.
4. Membuat Pesan Lebih Ekspresif
Metafora dapat membuat suatu pernyataan terasa lebih kuat, menarik, atau emosional dibandingkan dengan penjelasan biasa.
Contohnya:
“Kamu adalah duri di hidupku
Ucapan duri ini bukan duri beneran. Metafora tersebut menggambarkan bahwa orang tersebut menjadi penghambat kehidupannya.
Ungkapan seperti ini sering digunakan pada karya komik, seperti Vinsmoke Judge ke Vinsmoke Sanji. Di lain pihak, ungkapan ini juga bisa terjadi ketika seseorang iri, misal tidak naik jabatan kemudian menyalahkan orang lain yang jadi “duri”.
5. Mengubah Makna Kata Berdasarkan Konteks
Makna metafora sangat bergantung pada konteks penggunaannya. Kata yang biasanya memiliki arti konkret dapat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang abstrak.
Contohnya:
“Dia memiliki hati emas.”
Hati secara harfiah merupakan organ tubuh. Namun, dalam ungkapan tersebut, hati emas menggambarkan seseorang yang baik hati, tulus, dan suka menolong.
Makna kiasan tersebut dapat dipahami karena emas sering diasosiasikan dengan sesuatu yang bernilai tinggi, yaitu kebaikan.
Fungsi Majas Metafora
Majas metafora tidak hanya digunakan untuk memperindah tulisan. Gaya bahasa ini juga memiliki sejumlah fungsi dalam komunikasi.
1. Memperjelas Konsep yang Abstrak
Metafora dapat membantu menjelaskan konsep yang sulit dipahami melalui gambaran yang lebih konkret.
Contohnya:
“Waktu adalah uang.”
Waktu bukanlah uang yang dapat disimpan di dompet atau digunakan untuk membeli barang. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa waktu itu berharga, sehingga jangan disia-siakan.
2. Menggambarkan Perasaan dan Emosi
Metafora dapat membantu seseorang menyampaikan perasaan yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa.
Contohnya:
“Hatiku sedang panas.”
Ungkapan ini adalah bentuk kegelisahan.
3. Membuat Tulisan Lebih Menarik
Metafora dapat menghindarkan tulisan dari penggunaan bahasa yang terlalu monoton. Ungkapan kiasan juga membantu pembaca membangun gambaran mental terhadap pesan yang disampaikan.
Contohnya:
“Internet adalah jembatan menuju dunia tanpa batas.”
Ungkapan jembatan menuju dunia tanpa batas menggambarkan internet sebagai sarana yang menghubungkan orang dengan informasi, pengetahuan, dan komunikasi dari berbagai tempat.
Dalam penulisan konten SEO, penggunaan metafora yang relevan dapat membantu menjelaskan konsep kompleks dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh audiens.
4. Memperkuat Pesan dalam Karya Sastra
Dalam karya sastra, metafora digunakan untuk memperkuat tema, menggambarkan karakter, serta membangun suasana dan simbolisme.
Contohnya:
“Kehidupan adalah panggung sandiwara.”
Ungkapan tersebut menggambarkan kehidupan sebagai tempat manusia memainkan berbagai peran dalam situasi yang berbeda.
Metafora ini dapat digunakan untuk mengajak pembaca memikirkan hubungan antara identitas, perilaku, dan peran sosial.
5. Membantu Membangun Identitas Merek
Dalam dunia periklanan dan branding, metafora dapat membantu suatu merek menyampaikan nilai atau manfaat produk secara lebih berkesan.
Contohnya:
“Jadikan rumahmu sebagai benteng yang nyaman”
Kata benteng menggambarkan rumah sebagai tempat yang memberikan perlindungan, rasa aman, dan kenyamanan bagi penghuninya, bahkan ada eksplisit nyaman.
Contoh Majas Metafora
Berikut beberapa contoh majas metafora yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari maupun berbagai bentuk tulisan.
Contoh Majas Metafora dalam Kalimat Sehari-hari
Berikut contoh metafora yang sering digunakan dalam percakapan:
- “Ayah adalah tulang punggung keluarga.”
- “Rina merupakan bintang kelas.”
- “Buku adalah jendela dunia.”
- “Dia dikenal sebagai kutu buku.”
- “Jangan menjadi buah bibir tetangga.”
- “Kakakku adalah tangan kanan direktur.”
- “Anak itu menjadi buah hati kedua orang tuanya.”
- “Ia merupakan kambing hitam dalam masalah tersebut.”
- “Waktu adalah uang.”
- “Rumah adalah istana bagi keluarga kecil kami.”
- “Tim A adalah kuda hitam di turnamen ini”
- “Dia banting stir dari engineer menjadi marketing”
Kalimat-kalimat tersebut menggunakan ungkapan yang maknanya tidak selalu sama dengan arti harfiah kata-kata penyusunnya.
Misalnya, kutu buku bukan berarti seseorang memiliki kutu yang hidup di dalam buku. Ungkapan itu digunakan untuk menggambarkan orang yang suka membaca, bahkan bisa jadi sampai bawa buku kemana-mana.
Demikian pula dengan tangan kanan, yang biasanya merujuk pada orang kepercayaan atau asisten utama atau orang kepercayaan seseorang, bukan sekadar bagian tubuh manusia.
Contoh Majas Metafora dalam Karya Sastra
Dalam karya sastra, metafora sering digunakan untuk membangun simbolisme dan memperkuat makna cerita.
Contohnya:
“Perjalanan hidupnya adalah lautan badai.”
Lautan badai dalam kalimat tersebut menggambarkan kehidupan yang penuh tantangan, konflik, dan kesulitan.
Contoh lainnya:
“Harapan adalah cahaya di tengah kegelapan.”
Cahaya menggambarkan harapan yang memberikan semangat ketika seseorang menghadapi situasi sulit. Sebaliknya, kegelapan melambangkan kesedihan, ketidakpastian, atau masalah.
Metafora seperti ini memungkinkan penulis menyampaikan pesan yang lebih mendalam tanpa harus menjelaskan setiap emosi secara langsung.
Contoh Majas Metafora dalam Puisi
Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak memanfaatkan metafora untuk menyampaikan perasaan, gagasan, dan pengalaman.
Contohnya:
“Rindu adalah hujan yang tak kunjung reda.”
Hujan digunakan untuk menggambarkan rasa rindu yang terus-menerus muncul dan sulit dihentikan.
Contoh lainnya:
“Kenangan adalah debu yang menempel pada waktu.”
Ungkapan tersebut menggambarkan kenangan sebagai sesuatu yang tertinggal dari perjalanan hidup dan tetap melekat meskipun waktu terus berjalan.
Berikut contoh tambahan:
“Di matamu, kutemukan rumah untuk pulang.”
Kata rumah tidak merujuk pada bangunan fisik, tetapi menggambarkan perasaan aman, nyaman, dan diterima ketika bersama seseorang.
Penggunaan metafora dalam puisi membantu penyair menyampaikan perasaan yang abstrak melalui gambaran yang lebih konkret dan imajinatif.
Contoh Majas Metafora dalam Iklan
Dalam iklan, metafora dapat digunakan untuk menjelaskan manfaat produk atau membangun asosiasi tertentu dalam benak audiens.
Contohnya:
“Jadikan kulitmu kanvas kecantikan.”
Kata kanvas menggambarkan kulit sebagai media untuk mengekspresikan kecantikan melalui perawatan atau penggunaan produk kosmetik.
Contoh lainnya:
- “Laptop ini adalah senjata andalan para profesional.”
- “Rumahmu adalah benteng perlindungan keluarga.”
- “Investasi adalah kendaraan menuju merdeka finansial.”
- “Secangkir kopi adalah bahan bakar untuk memulai hari.”
- “Produk ini adalah sahabat perjalananmu.”
- “Siapkan sepatu sebagai senjata, sebelum mencetak gol indah”
Ungkapan senjata andalan, benteng perlindungan, dan bahan bakar digunakan sebagai gambaran kiasan untuk menyampaikan fungsi atau manfaat yang ingin ditonjolkan.
Dalam praktik periklanan, penggunaan metafora perlu memperhatikan beberapa hal:
- Target audiens, agar ungkapan mudah dipahami oleh calon konsumen.
- Relevansi pesan, supaya metafora sesuai dengan karakter produk dan manfaat yang ingin disampaikan.
- Etika periklanan, agar bahasa persuasif tidak menimbulkan kesan atau klaim faktual yang menyesatkan.
- Kejelasan informasi, terutama untuk produk di bidang kesehatan, keuangan, dan kategori lain yang memiliki risiko tinggi.
Metafora dapat membuat iklan lebih menarik, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa produk memiliki manfaat yang digambarkan.
Contoh Majas Metafora dalam Percakapan
Dalam percakapan sehari-hari, metafora sering digunakan secara spontan untuk menggambarkan karakter seseorang atau suatu keadaan.
Contohnya:
A: “Kenapa kamu selalu mengandalkan dia saat bekerja?”
B: “Dia memang otak/mastermind tim kami.”
Ungkapan otak tim atau mastermind menggambarkan seseorang yang menjadi sumber ide, pemikir utama, atau pihak yang banyak membantu dalam pengambilan keputusan.
Contoh lainnya:
A: “Bagaimana kabar temanmu yang baru pindah kerja?”
B: “Dia sekarang menjadi anak emas atasannya.”
Ungkapan anak emas menggambarkan seseorang yang mendapatkan perlakuan istimewa (cenderung positif).
Contoh lain:
A: “Kenapa kamu masih bertahan di perusahaan itu?”
B: “Perusahaan ini sudah menjadi rumah kedua bagiku.”
Kata rumah kedua menggambarkan tempat kerja yang memberikan rasa nyaman, kedekatan, atau rasa memiliki.
Metafora membuat percakapan terasa lebih ekspresif karena suatu karakter atau keadaan dapat dijelaskan melalui gambaran yang relatif singkat.
Perbedaan Majas Metafora dan Simile
Majas metafora sering dianggap sama dengan majas simile karena keduanya sama-sama membandingkan dua hal. Padahal, terdapat perbedaan penting dalam cara penyampaiannya.
| Aspek | Metafora | Simile |
|---|---|---|
| Cara membandingkan | Secara langsung | Secara eksplisit menggunakan kata pembanding |
| Kata pembanding | Umumnya tidak digunakan | Biasanya menggunakan seperti, bagai, atau laksana |
| Contoh | “Dia adalah bintang kelas.” | “Dia bersinar seperti bintang.” |
| Kesan | Lebih langsung dan simbolis | Lebih eksplisit dan deskriptif |
Perhatikan dua contoh berikut:
- Metafora: “Wajahnya adalah rembulan.”
- Simile: “Wajahnya bersinar seperti rembulan.”
Pada contoh pertama, wajah secara langsung digambarkan sebagai rembulan untuk menyampaikan kesan tertentu, misalnya kecantikan atau keteduhan. Pada contoh kedua, perbandingan ditandai dengan kata seperti.
Sebagai catatan, tidak setiap kalimat yang menggunakan kata seperti otomatis merupakan simile. Penentuan majas tetap bergantung pada fungsi kata tersebut dan konteks kalimat.
Bahaya Penggunaan Majas Metafora
Meskipun dapat memperindah bahasa dan memperkuat pesan, penggunaan metafora juga memiliki beberapa risiko, terutama jika konteksnya tidak diperhatikan.
1. Bisa Menimbulkan Miskomunikasi
Metafora dapat disalahartikan apabila audiens memahami ungkapan secara harfiah atau tidak mengenali makna kiasannya.
Misalnya, ungkapan tikus kantor mungkin membingungkan orang yang belum memahami bahwa frasa tersebut merujuk pada pelaku korupsi. Bisa jadi mereka mengira beneran ada tikus di kantor yang bikin jijik.
2. Memunculkan Interpretasi yang Berbeda
Metafora bersifat kontekstual. Satu ungkapan dapat memiliki makna berbeda bagi orang dengan pengalaman, latar budaya, atau pengetahuan yang berbeda.
Contohnya, ungkapan lautan manusia biasanya menggambarkan kerumunan yang sangat besar. Namun, pembaca yang tidak mengenal ungkapan tersebut mungkin kesulitan memahami maksudnya.
3. Menimbulkan Kesan Negatif atau Menyinggung
Metafora yang digunakan untuk menggambarkan seseorang dapat menjadi sindiran atau penghinaan apabila mengandung asosiasi yang merendahkan.
Contohnya, menyebut seseorang sebagai benalu dapat menyiratkan bahwa orang tersebut dianggap hanya mengambil keuntungan dari orang lain atau bertindak sebagai parasit.
Karena itu, konteks hubungan dan tujuan komunikasi perlu dipertimbangkan sebelum menggunakan metafora semacam ini.
4. Membuat Pesan Profesional Kurang Jelas
Dalam komunikasi profesional, metafora yang terlalu abstrak dapat membuat informasi sulit dipahami.
Misalnya, kalimat “Strategi ini adalah kompas menuju kemenangan” terdengar menarik, tetapi belum menjelaskan langkah konkret yang harus dilakukan.
Untuk kebutuhan bisnis, metafora sebaiknya digunakan sebagai pendukung pesan, bukan pengganti informasi yang diperlukan audiens.
5. Menimbulkan Persepsi yang Menyesatkan dalam Iklan
Metafora dalam iklan dapat memperkuat persepsi konsumen terhadap produk. Namun, jika ungkapan kiasan membuat audiens menyimpulkan adanya manfaat faktual yang sebenarnya tidak terbukti, pesan tersebut dapat menjadi problematis.
Sebagai contoh, menyebut suatu produk sebagai perisai kesehatan dapat dipahami sebagai ungkapan promosi. Akan tetapi, dalam konteks produk kesehatan, kalimat tersebut perlu diperiksa agar tidak menimbulkan kesan bahwa produk mampu memberikan perlindungan medis yang belum terbukti.
Karena itu, metafora perlu digunakan secara bijak dengan mempertimbangkan tujuan, konteks, dan karakter audiens.
Ujungnya mirip dengan konsep model komunikasi SMCR, si penerima pesan alias R harus ngerti pesan dari si S, dan hal ini tergantung pesan (M) dan c (channel)-nya, biar bisa konek.
Kesimpulan
Majas metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu hal dengan hal lain secara langsung berdasarkan kesamaan sifat, karakteristik, atau makna tertentu. Gaya bahasa ini menggunakan makna kiasan untuk memperjelas konsep, memperkuat emosi, membuat tulisan lebih menarik, dan membangun gambaran yang lebih mudah diingat.
Majas metafora dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari, karya sastra, puisi, iklan, hingga komunikasi di ranah profesional seperti corporate communication dan marketing communication. Contohnya adalah “Ayah adalah tulang punggung keluarga”, “Buku adalah jendela dunia”, dan “Waktu adalah uang”.
Dengan memahami majas metafora, kamu dapat menggunakan bahasa secara lebih ekspresif, baik dalam percakapan maupun penulisan. Dalam konteks copywriting, metafora juga dapat membantu menyampaikan manfaat produk secara lebih menarik dan membangun asosiasi yang kuat dengan audiens.
Namun, penggunaan metafora tetap perlu memperhatikan konteks agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman atau interpretasi yang keliru. Jadi, gunakanlah metafora di saat yang tepat.