Media Multiplexity Theory – Semakin Banyak Saluran Komunikasi = Semakin Intim?
Media Multiplexity Theory (MMT) adalah teori di bidang ilmu komunikasi yang dicetuskan oleh Caroline Haythornthwaite pada tahun 2005. Teori ini hadir untuk menjawab fenomena bagaimana perkembangan teknologi media mengubah cara manusia menjaga dan mengelola hubungan antarpribadi/interpersonal.
Saat kuliah S2 ilmu komunikasi dulu (tahun 2024), teori ini digadang-gadang sebagai teori paling baru di ilmu komunikasi.
Asal Usul Media Multiplexity Theory
Menurut buku Griffin, a first look at communcation theory, media multiplexity theory berawal dari keinginan Caroline Haythornthwaite yang ingin memahami bagaimana pembelajar daring beradaptasi dengan komunikasi termediasi komputer: “apa yang terjadi ketika komunikasi tatap muka tidak tersedia atau sangat terbatas? Kemudian, ditemukan bahwa orang dengan ikatan yang lebih kuat memakai lebih banyak media komunikasi -> media multiplexity.
Level Komunikasi dan Posisi Teori dari Media Multiplexity Theory
Media Multiplexity Theory berada pada level komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) dan komunikasi bermedia (computer-mediated communication). Namun, pada kurikulum ilmu komunikasi S2 yang dialami pemilik blog ini dulu, teori ini masuk ke ranah komunikasi interperosnal.
Teori ini bersanding dengan teori komunikasi antarpribadi lainnya seperti:
-
Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)
-
Communication Privacy Management (CPM) Theory
-
Social Information Processing (SIP) Theory
Penjelasan Utama Media Multiplexity Theory
Gagasan inti MMT sangat mudah dipahami, yaitu kekuatan hubungan menentukan jumlah saluran komunikasi yang digunakan.
Semakin kuat ikatan hubungan (tie strength) antara dua individu, semakin banyak media/saluran yang mereka gunakan untuk saling berkomunikasi (multiplexity). Sebaliknya, hubungan yang lemah (weak ties) cenderung hanya bergantung pada satu atau sedikit saluran saja.
Pendekatan ini membalik asumsi umum: bukan teknologi yang membentuk cara orang berhubungan, melainkan dorongan psikologis relasi yang menentukan pemanfaatan media.
Pada intinya, semakin dekat seseorang, semakin banyak saluran komunikasi yang mereka gunakan. Contohnya, pasangan tidak hanya berkomunikasi lewat Instagram, tetapi juga WhatsApp, bahkan saluran khusus dalam hubungan mereka yang lebih intim.
Konsep Utama dalam Media Multiplexity Theory
1. Tie Strength (Kekuatan Ikatan)
Tingkat kedekatan kombinasi dari waktu, intensitas emosional, intimasi, dan timbal balik yang ada dalam sebuah relasi. MMT membaginya secara sederhana menjadi strong ties (sahabat, pasangan, keluarga inti) dan weak ties (rekan kerja kasual, kenalan lama, teman sekelas).
2. Media Multiplexity
Penggunaan banyak saluran komunikasi secara bersamaan untuk mengelola satu hubungan. Pasangan atau sahabat tidak hanya mengobrol lewat satu aplikasi; mereka terhubung lewat WhatsApp, DM Instagram, panggilan telepon, email, hingga komentar di TikTok.
3. Media Hierarchy (Hierarki Media)
Anggota kelompok sosial menetapkan media mana yang dianggap “standar/publik” dan media mana yang “privat/hanya untuk ikatan kuat”. Akses ke media privat menandakan peningkatan status kedekatan relasi. Misalnya, komunikasi lebih privat di WhatsApp atau Yahoo Messanger.
4. Bridging Media vs. Bonding Media
Weak ties memanfaatkan media sebagai jembatan (bridging) untuk mencari informasi atau koneksi luas, sedangkan strong ties menggunakan media untuk mempererat ikatan emosional (bonding).
Kelebihan Media Multiplexity Theory
a. Sangat Relevan dengan Era Digital
Menjelaskan secara presisi pola komunikasi masyarakat modern yang mengelola banyak aplikasi pesan dan media sosial.
b. Prediktif dan Terukur
Memberikan variabel yang jelas (tie strength vs number of channels) sehingga mudah diuji secara kuantitatif maupun kualitatif.
c. Perspektif Sosiologis yang Kuat
Memadukan analisis jaringan sosial (social network analysis) ke dalam studi komunikasi antarpribadi.
Kekurangan Media Multiplexity Theory
a. Mengabaikan Karakteristik Spesifik Media (Media Affordances)
MMT lebih fokus pada jumlah media komunikasi daripada kualitas atau fitur interaksi di media tersebut, serta mengabaikan cue pada media digital seperti MAIN model (Sundar, 2008)
b. Asumsi Linearitas
Tidak semua hubungan yang menggunakan banyak media berarti hubungan itu sehat atau intim, terkadang penggunaan banyak media dipicu oleh konflik atau pengawasan berlebihan (monitoring). Misalnya, istri yang terlalu mengawasi media sosial suaminya.
c. Kontekstual
Batas antara saluran profesional dan personal makin kabur akibat pola kerja remote atau integrasi ekosistem aplikasi.
Meski pada dasarnya, hubungan bos dengan anak buah itu bukan interpersonal karena ada relasi kuasa.
d. Butuh Waktu untuk Membangun Hubungan
Membangun hubungan bukan hanya berdasarkan jumlah media yang digunakan saja. Tentu butuh waktu dari mingguan hingga bulanan.
Contoh Penerapan Media Multiplexity Theory di Kehidupan Sehari-Hari
1. Hubungan Rekan Kerja (Weak Ties vs. Strong Ties)
Rekan kerja biasa hanya berkomunikasi via Slack atau email kantor. Ketika rekan tersebut berubah menjadi sahabat dekat, jalur komunikasi bertambah ke WhatsApp pribadi, DM Instagram, hingga aplikasi gaming.
2. Dinamika Asmara Modern
Kenalan dari aplikasi kencan (dating app) awalnya hanya berkirim pesan di platform tersebut (weak tie). Begitu melangkah ke tahap serius (strong tie), komunikasi berpindah dan meluas ke WhatsApp, videocall, Spotify blend, hingga saling tag di reels.
3. Alumni Sekolah
Teman angkatan yang tidak dekat hanya menyapa lewat grup besar WhatsApp alumni, sementara lingkaran sahabat inti memiliki grup kecil tersendiri, saling follow akun privasi (second account), dan rajin voice call.
4. Pengucapan Selamat Ulang Tahun
Ucapan ulang tahun ke orang terdekat tidak lewat e-mail, tetapi media yang lebih intim seperti WhatsApp.
Bagaimana Menurutmu tentang Media Multiplexity Theory?
Bagaimana pandanganmu tentang Media Multiplexity Theory ini? Apakah pola penggunaan media di lingkungan personalmu juga terbukti makin banyak seiring makin dekatnya sebuah ikatan?
Pemilik blog ini sendiri hanya berbagai WhatsApp ke orang-orang yang dipercaya, termasuk klien, pasangan, dan teman baik.