Sebagai content writer, kamu pasti sudah tidak asing dengan parafrase. Teknik ini jadi andalan content writer meski terkadang ada yang benar, ada juga yang salah dalam menggunakannya.
Ada yang menggunakan tools seperti spinner untuk parafrase, namun ada juga yang parafrase sendiri dengan otaknya.
Yuk kita telusuri teknik parafrase ini!
Parafrase adalah menulis ulang teks atau tulisan dari orang lain dengan cara penyampaian atau struktur kalimat yang berbeda.
Dikutip dari website resmi Gramedia, ada beberapa tipe parafrase, yaitu:
Tujuan utama dari parafrase adalah menghindari plagiarisme, membuat penjelasan tulisan lain bisa diterima dengan lebih mudah, serta mempercepat penyelesaian pekerjaan menulis, terutama untuk content writer.
Editor juga melakukan parafrase agar tulisannya layak untuk tayang.
Pada dasarnya, cara parafrase yang baik adalah:
Perbedaan parafrase dan merangkum ada panjang kata/kalimat yang dipakai.
Parafrase hanya melibatkan satu kalimat hingga satu paragraf atau ide pokok saja dalam penyusunan ulang katanya, sementara itu, merangkum melibatkan keseluruhan tulisan dan biasanya ada suatu kesimpulan.
“Ayah adalah juara badminton di tingkat RT. Ia memenangkannya setelah tiga kali menang beruntun”.
Hasil parafrasenya: Pada turnamen di tingkat RT, ayah berhasil menjuarai badminton. Hebatnya, ia berhasil menang tiga kali beruntung sebelum dikukuhkan sebagai juara.
Struktur kalimat beda, namun intinya sama. Terlihat kan?
Dikutip dari Scribbr, parafrase tanpa adanya sitasi atau mencantumkan referensi temasuk dalam tindakan plagiarisme.
Namun, parafrase yang mensitasi sumbernya bukanlah bentuk plagiarisme.
Jadi, jangan lupa untuk mencantumkan referensi ya.
Menurut opini pribadi pemilik blog ini, spinner sama sekali tidak direkomendasikan untuk parafrase. Selain hasilnya terkadang tidak sesuai ekspektasi, pemilik blog ini pernah mengetes dan hasil parafrasenya jelek sekali.
Lebih baik parafrase dengan otak sendiri saja. Kalau kamu beneran penulis, parafrase bisa kamu lakukan tanpa spinner.
Parafrase biasanya sering dilakukan oleh content writer dan akademisi. Teknik ini sudah jadi semacam holy grail agar tulisan cepat kelar.
Sayangnya, jika tidak hati-hati, parafrase malah bisa menjadi tindakan plagiarisme. Jadi hati-hati dalam menerapkan teknik ini dan lakukan dengan benar.
Kalau kamu, biasanya parafrase dengan cara seperti apa? 🙂
Referensi:
https://www.scribbr.com/frequently-asked-questions/is-paraphrasing-considered-plagiarism/#:~:text=Paraphrasing%20without%20crediting%20the%20original,you%20correctly%20cite%20the%20source.
https://www.scribbr.com/working-with-sources/how-to-paraphrase/
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…
Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…
Memiliki website di era digital bukan lagi sekadar gengsi atau formalitas. Banyak pemilik bisnis yang…