SEO

Pengalaman Mendapatkan Hal yang Saya Inginkan pada Pekerjaan di Profesi SEO dengan Kemampuan Berkomunikasi

Sebagai praktisi SEO, kemampuan berkomunikasi tidak kalah penting dengan kemampuan teknis.

Kemampuan komunikasi dalam organisasi menjadi kunci apakah seorang praktisi SEO bisa mendapatkan hal yang mereka inginkan, contohnya adalah perbaikan pada arsitektur situs. Tentu hal ini tidak akan bisa terjadi tanpa komunikasi yang baik dengan pengembang situs.

Jika kemampuan komunikasi buruk, target dari praktisi SEO tidak akan tercapai atau beban mereka semakin berat, bahkan yang lebih parah, mereka bisa dituduh tidak profesional dalam menjalankan pekerjaan, sehingga berujung surat peringatan atau paling buruk, pemecatan.

Karena saya bekerja sendirian dan berkolaborasi antar departemen, maka penerapan teori komunikasi organisasi menjadi andalan. Contohnya, daripada selalu di pendekatan kompetitif yang mana bisa berakibat berkurangnya hubungan dengan pengembang situs dan tim penjualan, saya memilih pendekatan kolaboratif dan menghindar, tergantung dari situasi dan kondisi.

Contoh pendekatan kolaboratif, saya menyampaikan kepada tim produk bahwa ide saya berupa alat untuk mengubah pengunjung menjadi prospek bisa membantu mereka untuk mencapai tujuan, yaitu meningkatkan pendapatan dan tentunya efektivitas situs untuk mendatangkan prospek. Efeknya, kami merealisasikan ide saya bersama-sama.

Tentu saja saya juga ikut membantu tim produk dan teknisi untuk mengembangkan alat agar pengunjung di website kami berubah menjadi prospek. Jadi, tidak hanya meminta mereka, lalu dilepas begitu saja. Justru saya ikut membantu pekerjaan mereka, tentunya dari bidang saya sendiri, yaitu SEO.

Setelah ide saya jadi kenyataan dalam bentuk alat, jika ada keberhasilan, saya selalu mengabari mereka sebagai bentuk apresiasi. Jika dimodelkan dalam model komunikasi Berlo, saya sebagai source mengomunikasikan suatu message, yaitu ucapan apresiasi seperti “halo, Alhamdulillah alat yang kita kerjakan kemarin berhasil, sekarang makin banyak prospek yang datang, bahkan dari tim penjualan ada prospek yang akhirnya membeli jasa kita. Yuk suatu saat kita buat lagi alat yang bisa menghasilkan prospek agar pemasukan bisnis semakin banyak!”. Dari pesan tersebut, sebenarnya ada aspek tidak terlihat, yaitu dorongan kepada tim lain agar menerima ide saya.

Pesan tersebut saya sampaikan lewat channel Slack dan receiver-nya adalah tim produk dan engineer. Dari pesannya, saya sudah memastikan bahwa baik itu dari source (saya sendiri) atau pun receiver (tim produk dan teknisi) sama-sama sudah memenuhi aspek communication skill, attitude, knowledge, social system, dan culture yang sesuai, sehingga pesannya bisa di-decode dengan baik. Efeknya, saya punya hubungan baik dengan mereka, sehingga jika ada masalah di masa depan, tidak terjadi hubungan antagonistik atau pun permintaan yang terbengkalai.

Pada dasarnya, prinsip kemampuan komunikasi seorang SEO bisa diterapkan pada bidang profesional lainnya. Dari lima aksioma komunikasi, yaitu you can’t not communicate, bahkan diam saja termasuk bentuk komunikasi. Namun, sayangnya komunikasi tersebut belum tentu diinterpretasikan dengan baik oleh receiver, yaitu rekan kerja kita sendiri.

Namun, ada juga yang saya cukup sesali, yaitu kata-kata yang mungkin menyakiti hati rekan saya, baik itu karena kesalahpahaman atau pun tidak. Seharusnya, saya mengetahui prinsip komunikasi, yaitu communication is unrepeatable and irreversible agar bisa melakukan encoding yang lebih baik pada pesan yang sayan buat. Sekali pesan itu tersampaikan, tidak akan bisa ditarik lagi begitu sampai ke receiver.

Sebagai praktisi SEO, saya juga menyadari bahwa penting sekali kebutuhan komunikasi di tempat pekerjaan seperti menyampaikan ide untuk mencapai target, menuliskan laporan untuk atasan, menuangkan gagasan, dan memancing kreativitas.

Kalau kemampuan komunikasinya kurang, sangat berat bagi seorang praktisi SEO untuk mencapai target pekerjaan mereka. Karena itulah, jangan pernah meremehkan kemampuan komunikasi.

Ini baru implementasi tentang pentingnya kemampuan komunikasi bagi seorang praktisi SEO dari pengalaman saya. Tentunya masih banyak contoh lainnya di profesi lain.

Catatan:

  • Cara yang saya terapkan bisa berhasil pada Anda atau tidak, semua bergantung pada kondisi
  • Perusahaan besar dengan birokrasi lebih kompleks pastinya punya seni diplomasi/komunikasinya tersendiri, sesuai dengan perkataan Eli Schwartz pada bukunya yang berjudul Product-Led SEO
  • Pakai skill negosiasi, ketahui apa yang komunikan takutkan atau inginkan paling besar

Author

Faris Yudza Ghifari, S.Si. (Certified Impactful Writer)

Faris Yudza Ghifari. Digital Marketing & Website Associate di PrimeCare Clinic. Berpengalaman di niche kesehatan, pemasaran, dan engineering (alat laboratorium dan energi terbarukan)

Recent Posts

Studi Kasus SEO – Perbandingan CTR Halaman yang Menarget Transactional Intent vs Informational Intent

Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…

4 days ago

Strategi SEO Content yang Masih Efektif di Era AI

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…

5 days ago

SPIL, Perusahaan Shipping dan Logistic Terbaik di Indonesia – Bukan Tanpa Alasan!

Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…

6 days ago

7 Strategi Digital Marketing untuk Meningkatkan Penjualan

Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…

7 days ago

Pintu: Aplikasi Investasi dan Trading Saham Tertokenisasi

Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…

1 week ago

Website Ada tapi Traffic Nol? Audit Website Gratis via Konsultasi Creativism!

Memiliki website di era digital bukan lagi sekadar gengsi atau formalitas. Banyak pemilik bisnis yang…

2 weeks ago