“Revisi”, mungkin kata tersebut adalah kata yang dibenci atau bikin jengkel mahasiswa atau pekerja kreatif seperti content writer dan graphic designer. Sudah capek-capek berkarya, masih direvisi lagi dan lagi.
Loh, memangnya apa itu revisi? Mengapa harus dilakukan? Apakah wajib?
Revisi adalah perbaikan atau pembetulan. Perbaikan atau pembetulan ini identik pada konteks karya, baik itu karya akademik seperti skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal ilmiah atau pun karya non akademik seperti artikel blog post, infografis, poster, dan karya lainnya.
Jawabannya adalah tidak wajib, namun sangat direkomendasikan untuk dilakukan. Contohnya, kalau suatu konten sudah memenuhi content brief dengan baik, buat apa ada revisi?
Meski demikian revisi tetap menjadi bagian penting dalam flow penciptaan suatu karya.
Revisi itu penting untuk memperbaiki atau pun membetulkan kesalahan atau menyempurnakan suatu karya. Ingat bahwa ada prinsip kalau draft pertama pasti ada kesalahan.
Dengan adanya revisi, suatu karya akan punya kesempatan lebih kecil untuk memiliki kesalahan ketika sudah dipublikasikan ke khalayak atau dengan kata lain dikirim ke ruang publik.
Lebih baik diperbaiki saat masih belum dipublikasikan daripada diperbaiki ketika ada komplain dari khalayak. Reputasi bisa jadi taruhannya 🙂
Perintah revisi pastinya datang dari editor atau reviewer. Baca atau dengarlah masukan mereka dengan seksama agar tidak terjadi revisi untuk kedua kalinya atau lebih dari itu.
Jika ada hal yang tidak dimengerti, jangan sungkan untuk bertanya kepada mereka.
Masukan editor atau reviewer mungkin sangat menjengkelkan, sehingga kita jadi tidak ikhlas dan fokus saat revisi.
Kita juga harus dewasa dan legowo ketika mendapat kritik. Kalau memang tidak suka dengan gaya komunikasi dari editor/reviewer, beri saja masukan atau tidak perlu berkarya dengan editor seperti itu.
Saat revisi pastikan melakukannya dengan ikhlas dan fokus ya:)
Jika dari revisi yang telah dilakukan sebenarnya ada ruang untuk lebih dikembangkan lagi, jangan ragu untuk menambahkannya. Bahkan lebih baik lagi jika kamu memberi tahu editor untuk approval.
Jawabannya relatif. Namun, jika karyanya banyak revisi, besar kemungkinan karyanya tidak memenuhi brief yang sudah ada atau perlu adanya konsumsi literatur yang lebih banyak lagi oleh pembuat karyanya.
Caranya mudah diucapkan, tapi tidak mudah untuk dilakukan. Beberapa tips agar karya tidak banyak revisian:
Revisi berfokus pada pembetulan, termasuk hal yang bersifat konseptual dan struktur secara keseluruhan, tidak hanya sekedar menemukan typo. Penyuntingan biasanya bersifat mikro seperti mengoreksi struktur kalimat atau kata yang salah.
Tidak ada cara khusus. Yang terpenting adalah pastikan bahwa karyamu telah sesuai dengan brief. Mengenali selera editor atau pun reviewer juga adalah tips yang ampuh agar karya kita minim revisi. Mau bagaimana pun juga, editor dan reviewer adalah manusia yang punya bias. Selain itu, lihat juga karya yang pernah tampil. Kira-kira, karya yang terbit seperti itu lah keinginan dari editor atau pun reviewer.
Revisi terkadang menjadi alasan demotivasi, tetapi seharusnya hal ini menjadi pecutan dan bantuan agar karya kita bisa lebih baik. Jadi, jangan menyerah dalam berkarya ya:)
Bagaimana pengalamanmu ketika disuruh revisi?
Terdapat berbagai jenis backlink, tidak sekedar tautan yang mengarah ke situs kita saja dalam bentuk…
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…
Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…