Saat browsing di Google SERP, kita akan mendapati umumnya setiap situs memiliki logo, namun ada juga yang tidak. Logo situs ini bernama favicon.
Meski favicon hanya berukuran kecil, namun ternyata penting loh untuk situs.
Bagaimana best practice dari favicon?
Favicon adalah logo kecil yang terdapat pada situs yang membantu dalam branding.
Logo kecil ini sendiri bisa ditemukan pada tab browser, history browser, dan SERP (biasanya di atas title tag).
Jika situsnya tidak mengeset favicon, secara default, favicon situsnya adalah Bumi (default dari Google).
Favicon adalah bagian dari identitas situs. Tentunya hal ini penting untuk branding dan awareness.
Logo kecil ini akan memudahkan user untuk mengingat nama/logo suatu situs, sehingga peluang untuk menjadi returning user meningkat.
Kalau mau punya branding yang kuat, maka situsnya wajib punya favicon.
Favicon juga merupakan alat untuk mendapatkan kepercayaan user.
Bayangkan jika kamu bertemu dengan/masuk ke situs tanpa favicon, terutama jika nama domainnya exact match nama brand. Pasti jadi kurang meyakinkan bukan?
Karena itulah, terutama brand, wajib untuk memasang favicon, sesuai dengan logo brand-nya.
Karena favicon muncul di bookmark dan history browser, maka logo tersebut akan mempermudah pencarian yang dilakukan oleh user.
Dulu, format Windows ICO (Windows Icon) menjadi keharusan dalam favicon. Namun, sekarang format gambar lain bisa kamu pakai, misalnya:
Terdapat beberapa ukuran yang lumrah untuk favicon, yaitu:
Menurut Gooogle, best practice dari favicon adalah:
Kamu bisa mendesain sendiri faviconnya atau mengambil dari internet, namun pastikan kalau gambarnya tidak ada hak ciptanya.
Contohnya, situs ini menggunakan foto penulis sebagai faviconnya.
Pastikan kalau gambar dapat mewakili situs secara keseluruhan dan tentukan ekstensi dari faviconnya. Cek apakah ada restriksi dari ekstensi gambar untuk favicon dari host-nya.
Setelah membuat/menentukan gambar untuk favicon, upload sesuai dengan content management system-nya.
Di WordPress, kamu bisa mengklik appeareance->header&navigation->site identity->select logo->upload faviconnya->selesai.
Menurut penulis, memasang favicon itu wajib, terutama kalau situs perusahaan. Kalau menggunakan favicon default dari Google, pasti akan kurang meyakinkan bagi user. Bisa-bisa dikira situs scam atau ada orang yang meng-impersonate suatu brand.
Kalau blog pribadi, memasang favicon itu opsional, tapi disarankan untuk tetap memasangnya, apalagi kalau kamu ingin serius dalam mengembangkan blog pribadi.
Favicon itu bukan sekedar logo dari situs saja. Gambar kecil tersebut sangat berguna untuk memperkuat marketing dan branding.
Kalau kamu sedang browsing, lebih percaya mana? Situs yang ada faviconnya atau tidak ada faviconnya (pakai default dari Google)?
Anggaplah favicon ini sebagai alat untuk membangun first impression yang bagus, terutama untuk audiens baru. Jadi, favicon yang kita pilih adalah yang terbaik untuk situs kita.
Happy optimizing!
Referensi:
https://developers.google.com/search/docs/appearance/favicon-in-search
https://mailchimp.com/resources/favicon-guide/
Memulai investasi tidak selalu membutuhkan modal besar. Saat ini, instrumen seperti reksadana pasar uang seperti yang…
Majas simile adalah salah satu jenis majas yang digunakan untuk membandingkan dua hal berbeda berdasarkan…
Dalam pengelolaan website, kode status HTTP menjadi salah satu indikator penting untuk mengetahui apakah halaman…
Dalam pengelolaan website, pengalihan URL menjadi salah satu aspek teknis SEO yang perlu diperhatikan. Salah…
Bangunan komersial seperti ruko, gudang, bengkel, mall, restoran, hingga area parkir membutuhkan material atap yang…
Kesuksesan dalam SEO... bisa dicapai dengan bikin banyak konten seperti artikel? Apakah betul? Content velocity…