Kompres Gambar: Pengertian, Manfaat, dan Cara Melakukannya untuk SEO
Kompres gambar merupakan salah satu langkah optimasi website yang sering dilakukan untuk mengurangi ukuran file gambar tanpa mengorbankan kualitas visual secara berlebihan. Proses ini penting, terutama bagi website yang menggunakan banyak gambar, seperti blog, toko online, portal berita, dan website perusahaan.
Ukuran gambar yang terlalu besar dapat memperlambat proses pemuatan halaman karena browser membutuhkan lebih banyak data untuk diunduh. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pengalaman pengguna dan performa website secara keseluruhan.
Dalam konteks Search Engine Optimization (SEO), kompres gambar menjadi bagian dari optimasi teknis yang membantu meningkatkan kecepatan website dan mendukung performa Core Web Vitals. Namun, kompresi gambar bukan satu-satunya faktor yang dapat mendukung SEO.
Lantas, apa itu kompres gambar, apa manfaatnya untuk SEO, dan bagaimana cara melakukannya dengan benar? Simak penjelasan berikut.
Apa Itu Kompres Gambar?
Kompres gambar adalah proses mengurangi ukuran file gambar (bukan ukuran secara pixel ya) agar membutuhkan lebih sedikit ruang penyimpanan dan data saat ditampilkan di website. Proses ini dilakukan dengan mengoptimalkan cara data visual disimpan dalam file gambar.
Sebagai contoh, sebuah gambar berukuran 2 MB dapat dikompres menjadi 400 KB. Dengan ukuran yang lebih kecil, gambar tersebut membutuhkan lebih sedikit data untuk diunduh oleh browser pengunjung.
Meski demikian, hasil kompresi bergantung pada format gambar, tingkat kompresi, dimensi gambar, dan karakteristik visualnya. Pengurangan ukuran file juga tidak selalu menghasilkan kualitas gambar yang sama persis dengan versi aslinya.
Cara Kerja Kompresi Gambar
Kompresi gambar bekerja dengan mengurangi jumlah data yang diperlukan untuk merepresentasikan gambar. Metode yang digunakan bergantung pada jenis kompresi dan format file.
Beberapa metode yang umum digunakan meliputi penghilangan informasi visual yang dianggap kurang signifikan, pengkodean data yang lebih efisien, serta pengurangan dimensi gambar.
Dalam praktiknya, proses kompresi dapat dilakukan melalui aplikasi pengolah gambar, layanan kompresi online, plugin website, atau sistem optimasi gambar otomatis.
Secara pengalaman, umumnya SEO tidak perlu mengetahui prosesnya. Lebih melihat bagaimana ukuran setelah kompresi dan kualitas gambarnya.
Perbedaan Kompresi Gambar Lossy dan Lossless
Secara umum, kompresi gambar terbagi menjadi dua jenis, yaitu lossy dan lossless.
Kompresi lossy mengurangi ukuran file dengan menghilangkan sebagian informasi gambar secara permanen. Metode ini biasanya dapat menghasilkan ukuran file yang jauh lebih kecil, tetapi kualitas visual berpotensi menurun jika tingkat kompresinya terlalu tinggi.
Sementara itu, kompresi lossless mengurangi ukuran file tanpa menghilangkan informasi asli yang diperlukan untuk merekonstruksi gambar secara identik. Penghematan ukuran yang dihasilkan bergantung pada karakteristik gambar dan format yang digunakan.
Pemilihan metode kompresi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk foto produk atau gambar artikel, kompresi lossy dengan kualitas yang masih baik dapat menjadi pilihan. Sementara itu, gambar yang membutuhkan ketepatan visual atau pemrosesan ulang tanpa kehilangan data mungkin lebih cocok menggunakan kompresi lossless.
Apa Manfaat Kompres Gambar untuk SEO?
Kompres gambar dapat mendukung SEO melalui peningkatan performa teknis website. Hal ini penting karena pengalaman pengguna, kecepatan halaman, dan kemudahan akses merupakan bagian dari upaya membangun website yang berkualitas.
Berikut beberapa manfaat kompres gambar yang berkaitan dengan SEO.
1. Mempercepat Loading Website
Salah satu manfaat utama kompres gambar adalah mengurangi jumlah data yang harus diunduh ketika pengunjung membuka halaman website. Hal ini penting jika situsmu memiliki banyak gambar seperti situs fotografi atau e-commerce.
Gambar berukuran besar dapat menjadi salah satu penyebab halaman membutuhkan waktu lama untuk dimuat, terutama ketika terdapat banyak gambar atau pengunjung menggunakan koneksi internet yang terbatas.
Dengan mengurangi ukuran file, browser dapat mengunduh gambar menggunakan lebih sedikit data. Hal ini berpotensi mempercepat pemuatan halaman, meskipun hasil akhirnya juga dipengaruhi oleh performa server, jaringan, kode website, dan strategi pemuatan gambar.
Kecepatan halaman penting untuk SEO karena membantu menciptakan pengalaman akses yang lebih baik (masuk ranking factor juga loh). Karena itu, kompres gambar dapat menjadi salah satu langkah optimasi ketika website memiliki masalah performa akibat aset visual yang terlalu besar.
2. Meningkatkan Pengalaman Pengguna (User Experience)
Pengunjung cenderung mengharapkan halaman website dapat diakses dengan cepat dan menampilkan konten tanpa hambatan yang berarti.
Ketika gambar terlalu besar, pengunjung mungkin harus menunggu lebih lama sebelum dapat melihat foto produk, ilustrasi, atau gambar pendukung artikel. Situasi ini dapat mengganggu pengalaman membaca, termasuk proses/journey dalam pembelian di website e-commerce.
Kompres gambar membantu mengurangi hambatan tersebut dengan membuat aset visual lebih ringan untuk diunduh.
Pengalaman pengguna yang baik juga dapat mendukung tujuan bisnis website, misalnya membantu pengunjung menemukan informasi, memahami produk, atau menyelesaikan transaksi. Meski demikian, kompres gambar tidak secara otomatis menjamin peningkatan konversi atau penurunan bounce rate.
3. Mendukung Optimasi Core Web Vitals
Core Web Vitals merupakan sekumpulan metrik yang digunakan Google untuk mengevaluasi aspek pengalaman pengguna pada halaman website. Metrik utamanya mencakup Largest Contentful Paint (LCP), Interaction to Next Paint (INP), dan Cumulative Layout Shift (CLS).
Kompres gambar dapat membantu meningkatkan performa Core Web Vitals, khususnya dalam kondisi tertentu.
- Largest Contentful Paint (LCP): kompresi dapat membantu mempercepat pemuatan gambar terbesar yang terlihat di area awal halaman, misalnya gambar utama atau hero image. Dampaknya akan lebih terasa jika ukuran file gambar memang menjadi hambatan utama.
- Interaction to Next Paint (INP): pengaruh kompres gambar terhadap INP biasanya tidak langsung karena metrik ini berfokus pada responsivitas interaksi pengguna. Optimasi gambar tetap dapat membantu mengurangi beban sumber daya dalam situasi tertentu, tetapi tidak otomatis memperbaiki masalah INP.
- Cumulative Layout Shift (CLS): kompresi tidak secara langsung mencegah pergeseran tata letak. Untuk mengatasi CLS, website juga perlu menentukan atribut dimensi gambar atau menyediakan ruang yang sesuai sebelum gambar dimuat.
Dengan demikian, kompres gambar sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari strategi optimasi performa yang lebih luas, bukan sebagai satu-satunya solusi untuk seluruh masalah Core Web Vitals.
4. Membantu Efisiensi Transfer Data Website
Gambar dengan ukuran file yang lebih kecil membutuhkan lebih sedikit data untuk ditransfer dari server ke browser pengunjung.
Manfaat ini cukup relevan untuk website dengan banyak halaman dan aset visual, seperti marketplace, website media, katalog produk, dan blog dengan ilustrasi yang beragam.
Selain membantu mempercepat pengunduhan gambar, pengurangan ukuran aset dapat menghemat penggunaan bandwidth. Dampak finansialnya bergantung pada volume trafik, infrastruktur hosting, dan sistem distribusi konten yang digunakan.
Dari perspektif SEO, transfer data yang lebih efisien dapat mendukung performa website. Namun, ukuran gambar yang lebih kecil tidak otomatis meningkatkan crawl budget karena proses crawling juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.
Bagaimana Cara Kompres Gambar untuk Website?
Ada beberapa cara untuk melakukan kompres gambar, mulai dari menggunakan layanan online hingga mengoptimalkan gambar langsung melalui sistem pengelolaan konten.
1. Menggunakan Tools Kompres Gambar Online
Tools online merupakan pilihan praktis jika hanya perlu mengompres beberapa gambar tanpa memasang aplikasi tambahan.
Secara umum, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
- Siapkan gambar yang ingin dikompres.
- Buka layanan kompresi gambar online.
- Unggah gambar ke layanan tersebut.
- Pilih tingkat kompresi atau kualitas jika tersedia.
- Unduh hasil kompresi.
- Periksa kualitas visual dan ukuran file sebelum menggunakannya di website.
Sebagai contoh, jika gambar awal berukuran 1,5 MB dan hasil kompresinya menjadi 350 KB, ukuran file berhasil dikurangi sekitar 76,7%.
Hasil ini hanya ilustrasi. Besarnya penghematan aktual bergantung pada gambar dan metode kompresi yang digunakan.
Pengalman pemilik blog ini, metode ini paling sering dipakai oleh aku sendiri dan beberapa praktisi karena praktis.
2. Mengompres Gambar Menggunakan Aplikasi Editing
Aplikasi editing gambar memungkinkan pengguna mengatur dimensi, format, dan kualitas gambar sebelum mengunggahnya ke website.
Proses ini berguna bagi pemilik website yang membutuhkan kontrol lebih besar terhadap hasil akhir gambar.
Langkah umumnya meliputi membuka gambar, menyesuaikan dimensinya, memilih format yang sesuai, mengatur kualitas ekspor, lalu menyimpan hasilnya.
Saat mengatur kualitas ekspor, hindari langsung memilih kualitas terendah hanya untuk mendapatkan ukuran file sekecil mungkin. Periksa hasilnya terlebih dahulu, khususnya pada gambar produk, infografik, dan visual yang memuat teks.
Untuk cara ini, bisa minta bantuan dari graphic designer.
3. Mengompres Gambar melalui WordPress
Website berbasis WordPress dapat menggunakan plugin optimasi gambar untuk mengurangi ukuran file secara otomatis atau melalui proses optimasi massal.
Plugin tertentu menyediakan fitur seperti kompresi otomatis saat gambar diunggah, konversi format ke WebP atau AVIF, serta optimasi gambar yang sudah ada di media library.
Sebelum mengaktifkan fitur tersebut, periksa apakah hosting atau CDN yang digunakan sudah menyediakan optimasi gambar serupa. Hindari menjalankan beberapa sistem optimasi yang melakukan proses sama secara bersamaan karena dapat menimbulkan konflik atau menghasilkan proses yang tidak efisien.
Sebaiknya, buat cadangan file asli atau pastikan tersedia fitur pemulihan sebelum mengoptimalkan banyak gambar sekaligus.
Tidak hanya WordPress, di beberapa website klien pemilik blog ini yang CMS-nya custom ada fitur untuk kompres gambar.
4. Mengatur Dimensi Gambar Sesuai Kebutuhan
Kompres gambar tidak selalu harus dilakukan dengan mengurangi kualitas visual. Salah satu langkah yang efektif adalah menyesuaikan dimensi gambar dengan ukuran tampilannya.
Sebagai contoh, jika sebuah gambar hanya akan ditampilkan selebar 600 piksel pada area konten, menggunakan file berukuran 3.000 piksel mungkin tidak diperlukan dalam konteks tersebut.
Dengan menyesuaikan dimensi gambar, jumlah piksel yang perlu disimpan dapat dikurangi sehingga ukuran file berpotensi menjadi lebih kecil.
Namun, jangan menerapkan satu dimensi untuk semua kebutuhan. Gambar hero, foto produk, thumbnail artikel, dan ilustrasi dalam konten dapat memerlukan ukuran berbeda.
Untuk perangkat dengan ukuran layar beragam, gunakan responsive images melalui atribut srcset dan sizes agar browser dapat memilih gambar yang sesuai dengan kondisi tampilan.
Apa Saja Tools untuk Kompres Gambar?
Berikut beberapa tools yang dapat digunakan untuk mengompres gambar website.
1. TinyPNG
TinyPNG merupakan layanan kompresi gambar yang dikenal untuk mengoptimalkan file PNG, JPEG, WebP, dan format lain yang didukung layanannya.
Tools ini cocok untuk pengguna yang membutuhkan proses sederhana, yaitu mengunggah gambar, menunggu proses kompresi, lalu mengunduh hasilnya.
Informasi mengenai batas penggunaan dan format yang didukung sebaiknya diperiksa langsung di situs resminya karena dapat berubah.
2. IloveImg
Jujur, ini yang paling sering dipakai oleh pemilik blog ini.
Hasil kompresinya juga bagus.
3. ImageOptim
ImageOptim merupakan aplikasi optimasi gambar yang banyak digunakan pada macOS. Tools ini dapat mengurangi ukuran file dengan mengoptimalkan data gambar dan menghapus metadata tertentu sesuai pengaturan.
ImageOptim cocok bagi pengguna yang ingin melakukan optimasi file sebelum mengunggahnya ke website.
4. ShortPixel
ShortPixel menyediakan layanan optimasi gambar, termasuk integrasi untuk website WordPress. Fitur yang tersedia dapat mencakup kompresi gambar, konversi format, dan optimasi gambar secara massal.
Tools ini relevan bagi pengelola website yang memiliki banyak gambar dan membutuhkan proses optimasi yang lebih terintegrasi.
Bagaimana Cara Mengoptimalkan Gambar untuk SEO Selain dengan Kompresi?
Kompres gambar hanyalah salah satu bagian dari optimasi gambar untuk SEO. Agar gambar lebih mudah dipahami mesin pencari dan dapat ditampilkan secara optimal kepada pengguna, ada beberapa praktik tambahan yang perlu diterapkan.
1. Menggunakan Nama File Gambar yang Deskriptif
Nama file membantu memberikan konteks mengenai isi gambar. Karena itu, gunakan nama file yang ringkas, jelas, dan sesuai dengan objek yang ditampilkan.
Misalnya, untuk gambar yang menjelaskan proses kompresi gambar, gunakan cara-kompres-gambar.webp daripada nama otomatis seperti DSC0001.webp.
Nama file sebaiknya dibuat sebelum gambar di-upload. Jika mengganti nama gambar yang sudah digunakan di website, periksa URL dan tautan yang merujuk ke file tersebut agar tidak menimbulkan gambar rusak.
2. Menambahkan Alt Text yang Relevan
Alt text merupakan teks alternatif yang menjelaskan isi atau fungsi gambar. Atribut ini membantu pembaca layar memahami gambar dan dapat memberikan konteks tambahan bagi mesin pencari.
Sebagai contoh, alt text untuk ilustrasi proses kompresi dapat berupa “Perbandingan ukuran file gambar sebelum dan sesudah kompresi”.
Hindari memasukkan terlalu banyak kata kunci ke dalam alt text. Deskripsi harus tetap alami dan sesuai dengan isi gambar.
Untuk gambar dekoratif yang tidak memberikan informasi tambahan, atribut alt kosong (alt="") biasanya lebih tepat agar tidak menambah informasi yang tidak diperlukan bagi pengguna pembaca layar.
3. Menggunakan Format Gambar Modern
Format seperti WebP dan AVIF dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ukuran file tanpa harus mengubah konten visual secara signifikan.
Pilih format berdasarkan karakteristik gambar, kebutuhan kualitas, dan kompatibilitas sistem. Apabila diperlukan, gunakan mekanisme fallback agar browser tetap dapat menampilkan gambar ketika format utama tidak didukung.
Pemilik blog ini sendiri pakai gambar dalam format webp.
4. Menerapkan Lazy Loading pada Gambar yang Tepat
Lazy loading memungkinkan gambar dimuat ketika mendekati area yang akan dilihat pengguna, bukan langsung memuat semua gambar ketika halaman pertama kali dibuka.
Teknik ini dapat mengurangi pekerjaan awal browser dan menghemat transfer data, khususnya pada halaman panjang dengan banyak gambar.
Dalam HTML, lazy loading native dapat diterapkan menggunakan atribut loading="lazy".
Namun, jangan menerapkan lazy loading secara sembarangan pada gambar utama yang terlihat sejak awal halaman, terutama jika gambar tersebut merupakan elemen LCP. Gambar utama tersebut mungkin justru perlu diprioritaskan agar dapat ditampilkan lebih cepat.
5. Menggunakan Responsive Images
Responsive images memungkinkan browser memilih file gambar yang sesuai dengan ukuran layar dan kebutuhan tampilan.
Misalnya, website dapat menyediakan gambar dengan lebar 480, 800, dan 1.200 piksel. Browser kemudian memilih versi yang paling sesuai berdasarkan atribut srcset dan sizes.
Pendekatan ini membantu menghindari situasi ketika perangkat seluler harus mengunduh gambar berukuran sangat besar meskipun tampilannya kecil.
6. Menjaga Relevansi Gambar dengan Konten
Gambar yang digunakan sebaiknya relevan dengan informasi di dalam halaman. Selain memperjelas isi artikel, gambar yang sesuai membantu pengguna memahami konteks konten. Misal, jika tabungan, maka pakai stock image buku tabungan.
Jika menggunakan gambar pada halaman penting, pastikan gambar dapat diakses oleh Google, tidak diblokir secara tidak sengaja, dan memiliki konteks yang cukup melalui halaman tempat gambar tersebut digunakan.
Apa Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Kompres Gambar?
Meskipun kompres gambar bermanfaat untuk optimasi website, proses yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah pada kualitas visual maupun performa.
1. Mengompres Gambar secara Berlebihan
Tingkat kompresi yang terlalu tinggi dapat membuat gambar terlihat buram, pecah, atau kehilangan detail penting.
Hal ini dapat mengurangi kenyamanan pengguna, terutama pada website yang mengandalkan kualitas visual seperti toko online, portofolio, dan website fotografi.
Karena itu, selalu bandingkan hasil kompresi dengan gambar asli sebelum menggunakannya.
2. Menggunakan Dimensi Gambar yang Terlalu Besar
Mengompres file saja belum tentu cukup jika dimensinya jauh lebih besar daripada kebutuhan tampilan.
Sebagai contoh, gambar berukuran 4.000 × 3.000 piksel yang ditampilkan hanya selebar 400 piksel masih mungkin menyimpan data yang tidak diperlukan untuk tampilan tersebut.
Pertimbangkan untuk mengubah dimensi gambar dan menyediakan beberapa ukuran melalui responsive images.
3. Mengabaikan Format Gambar
Setiap format gambar memiliki karakteristik yang berbeda. Menggunakan PNG untuk semua jenis gambar, misalnya, dapat menghasilkan file yang lebih besar daripada format yang lebih sesuai untuk foto.
Sebaliknya, menggunakan JPEG untuk logo yang membutuhkan transparansi juga bukan pilihan yang tepat.
Pilih format berdasarkan jenis gambar dan kebutuhan tampilannya, bukan semata-mata karena satu format dianggap paling baik untuk SEO. Misalnya, WEBP dan AVIF.
4. Tidak Memeriksa Hasil Optimasi
Setelah mengompres gambar, periksa ukuran file, kualitas visual, dan tampilan gambar pada berbagai perangkat. Jangan langsung “terima jadi” saja.
Pastikan gambar tidak mengalami kerusakan, transparansi tetap berfungsi jika dibutuhkan, dan URL gambar tidak berubah secara tidak sengaja.
Jika menggunakan plugin, periksa juga apakah proses optimasi menyebabkan masalah kompatibilitas atau menghasilkan file duplikat yang tidak diperlukan.
Bagaimana Cara Mengetahui Apakah Kompres Gambar Berhasil Meningkatkan Performa Website?
Keberhasilan kompres gambar dapat dinilai melalui perubahan ukuran file dan dampaknya terhadap performa halaman. Pengukuran sebaiknya dilakukan sebelum dan sesudah optimasi menggunakan metode yang konsisten.
1. Menggunakan Google PageSpeed Insights
Google PageSpeed Insights dapat digunakan untuk mengevaluasi performa halaman pada perangkat seluler dan desktop.
Laporan ini dapat menunjukkan peluang optimasi gambar, seperti menggunakan format gambar yang lebih efisien, menyajikan gambar dengan dimensi yang sesuai, dan mengurangi ukuran aset visual.
Setelah melakukan kompresi, jalankan pengujian kembali pada URL yang sama. Perhatikan apakah rekomendasi terkait gambar berkurang dan apakah metrik performa menunjukkan perbaikan.
Perlu diingat bahwa hasil pengujian dapat berubah karena kondisi jaringan, cache, server, dan faktor lain. Oleh karena itu, jangan hanya mengandalkan satu kali pengujian.
2. Memeriksa Core Web Vitals melalui Google Search Console
Google Search Console menyediakan laporan Core Web Vitals yang membantu pemilik website memahami pengalaman pengguna berdasarkan data penggunaan nyata yang tersedia.
Periksa apakah halaman mengalami masalah LCP, INP, atau CLS. Jika masalah utamanya adalah LCP akibat gambar utama yang terlalu besar, kompresi gambar dapat menjadi salah satu langkah perbaikan.
Namun, jika penyebabnya adalah server lambat, JavaScript yang berat, atau gambar yang baru ditemukan browser setelah proses tertentu, dibutuhkan optimasi tambahan.
3. Membandingkan Ukuran File Sebelum dan Sesudah Kompresi
Cara paling sederhana untuk mengukur hasil kompresi adalah membandingkan ukuran file sebelum dan sesudah proses optimasi.
Sebagai contoh, jika ukuran awal gambar adalah 1.000 KB dan ukuran akhirnya 300 KB, pengurangan ukuran file mencapai 70%.
Hasil ini menunjukkan efisiensi ukuran file, tetapi belum membuktikan bahwa kecepatan halaman atau ranking SEO juga meningkat. Untuk menilai dampak terhadap performa, tetap lakukan pengujian menggunakan alat analisis website.
Pemeriksaan dampak kompres gambar ini tentu bisa dibandingkan secara bulanan hingga triwulan, tergantung apakah masalah size gambar ini sudah ada sejak awal atau tidak.
FAQ tentang Kompres Gambar
Apakah Kompres Gambar Bisa Meningkatkan Visibilitas atau Bagus untuk SEO?
Kompres gambar dapat membantu mendukung SEO dengan mengurangi ukuran file dan berpotensi mempercepat pemuatan halaman. Dampaknya terhadap ranking tidak bersifat otomatis karena Google mempertimbangkan banyak faktor lain, termasuk relevansi konten, kualitas halaman, dan berbagai aspek teknis. Jadi, kompres gambar bukan satu-satunya cara.
Berapa Ukuran File Gambar yang Ideal untuk Website?
Tidak ada satu batas ukuran file yang ideal untuk semua gambar. Ukuran yang sesuai bergantung pada dimensi, format, fungsi, dan kebutuhan visual gambar tersebut.
Sebagai titik awal, usahakan gambar sekecil mungkin tanpa mengurangi kualitas secara berlebihan. Evaluasi kembali gambar yang berukuran ratusan kilobyte hingga beberapa megabyte, khususnya jika digunakan pada bagian awal halaman.
Apakah Semua Gambar di Website Perlu Dikompres?
Sebaiknya semua gambar yang relevan dievaluasi untuk memastikan ukurannya efisien. Namun, gambar yang sudah dioptimalkan dengan baik mungkin tidak memerlukan kompresi tambahan. Misalnya, gambar dengan ukuran dan kualitas yang sama baiknya.
Perhatikan juga apakah gambar tersebut akan ditampilkan pada ukuran penuh, membutuhkan transparansi, atau memiliki detail visual yang tidak boleh hilang.
Apakah Kompres Gambar Mengurangi Kualitas Visual?
Kompresi lossy dapat mengurangi kualitas visual karena sebagian informasi gambar dihilangkan. Sementara itu, kompresi lossless mempertahankan informasi asli sehingga gambar dapat direkonstruksi secara identik.
Dengan pengaturan yang tepat, ukuran file dapat dikurangi tanpa perubahan visual yang mudah terlihat oleh pengguna.
Mana yang Lebih Baik untuk SEO, WebP atau JPEG?
Webp sering menjadi pilihan yang efisien karena dapat menghasilkan ukuran file yang lebih kecil pada kualitas visual yang sebanding untuk banyak jenis gambar. Namun, JPEG tetap dapat digunakan jika sudah dioptimalkan dengan baik atau diperlukan untuk kebutuhan kompatibilitas tertentu. AVIF adalah format terbaru yang juga mendukung SEO.
Tidak ada format yang secara otomatis memberikan ranking lebih tinggi. Pilih format yang menghasilkan gambar berkualitas dengan ukuran efisien dan dapat ditampilkan secara benar di website.
Kesimpulan
Kompres gambar adalah proses mengurangi ukuran file gambar agar lebih efisien untuk penyimpanan dan transfer data. Bagi pemilik website, langkah ini dapat membantu mempercepat pemuatan halaman, mengurangi penggunaan bandwidth, dan mendukung optimasi performa teknis.
Dalam konteks SEO, manfaat kompres gambar paling relevan ketika ukuran aset visual menjadi salah satu hambatan performa website. Kompresi dapat membantu memperbaiki LCP apabila gambar utama menjadi penyebab lambatnya pemuatan, tetapi tidak secara langsung menyelesaikan seluruh masalah Core Web Vitals atau menjamin peningkatan ranking.
Agar hasilnya optimal, kombinasikan kompresi gambar dengan pemilihan format yang tepat, penyesuaian dimensi, penggunaan alt text yang relevan, responsive images, serta strategi pemuatan gambar yang sesuai. Dengan pendekatan tersebut, website dapat menyajikan gambar secara lebih efisien sekaligus menjaga pengalaman pengguna.
Jangan lupa untuk lakukan cara optimasi gambar lainnya seperti gambar relevan, memasukkan alt text yang sesuai, dan menamai file gambar.