Mungkin tidak sedikit dari kita yang melihat fenomena penulis dibayar murah atau bahkan gratisan seperti pro bono. Bahkan di dunia academia, peneliti membayar untuk mempublikasikan tulisan mereka, meski ada juga yang tidak membayar karena jurnalnya tidak mengharuskan atau mendapatkan grant. Pertanyaannya, apakah menulis artikel, namun tidak dibayar itu merupakan sesuatu yang worth it?
Ada momen di mana kita menulis tidak dibayar, misalnya:
Menulis paper ilmiah, biasanya tidak dibayar, malah justru membayar untuk publikasinya.
Namun, bisa saja menjadi dibayar dengan asumsi mendapatkan hibah riset, sponsor, atau dibayar oleh peneliti lainnya (seperti dosen, sebagai biaya menulis artikel ilimiah).
Tidak semua media atau blog memberikan insentif kepada penulisnya. Biasanya hal ini adalah media kecil yang belum punya ekonomi yang kuat.
Pemilik blog ini sendiri belum menyediakan loker menulis karena tahu bahwa pemilik blog ini juga harus bertanggung jawab dalam membayar penulis dengan layak.
Kalau menulis untuk hal-hal pribadi, seperti caption di Instagram pribadi atau buku harian (diary), jelas tidak dibayar dong.
Kecuali kalau menulis caption di Instagramnya adalah pesanan user-generated content dari pihak ketiga, misalnya perusahaan.
Menulsi di blog yang tidak dimonetisasi jelas tidak dibayar. Mirip dengan menulis untuk kesenangan pribadi.
Jika kamu ingin tulisanmu di blog dibayar dengan cuan, maka cobalah untuk memonetisasinya. Cara monetisasi blog ada di tautan ini.
Percaya atau tidak, masih ada perusahaan yang menggunakan jasa penulis gratisan, biasanya kedoknya adalah unpaid intern. Namun, ada juga yang membuka volunteer untuk penulis yang ingin menulis secara sukarela.
Kalau kalah lomba blog, tulisanmu jelas tidak dibayar oleh panitia, kecuali ada catatan kalau panitia memberikan insentif kepada seluruh peserta lombanya.
Bentuk technical test dalam rekrutmen content writer biasanya berupa tulisan. Ya jelas kalau tulisanmu untuk technical test ini tidak dibayar.
Kalau tugas kuliah/sekolahmu adalah membuat artikel, tentunya tidak elok jika kamu memonetisasinya. Toh, akhirnya tugas tersebut dikumpulkan ke guru atau dosen kan hehe.
Jawabannya tidak absolut worth it. Kalau kamu adalah penulis baru, maka menulis di media, meski tidak dibayar, sangat cocok untuk menumbuhkan awareness orang-orang tentang dirimu. Namun, jangan terlalu lama agar tidak sampai menormalisasi menulis tidak dibayar. Menulis itu membutuhkan waktu dan tenaga.
Namun, kalau kamu adalah penulis berpengalaman, jangan pernah mau menulis, namun tidak dibayar. Kecuali, kamu menulis untuk keperluan kuliah, publikasi, atau kesenangan pribadi saja seperti menulis caption foto Instagram-mu.
Solusinya adalah mencari cara untuk monetisasi skill menulismu, seperti mencari klien atau perusahaan yang mau membayar tulisanmu.
Menulis artikel tidak dibayar itu sebaiknya tidak dilakukan, kecuali di momen tertentu seperti tugas kuliah dan kesenangan pribadi.
Namun, untuk content writer profesional, jangan sampai menulis artikel tanpa dibayar sepeser pun. Ingat bahwa waktu dan tenagamu berharga. Bahkan untuk fresh graduate sekalipun, tulisannya layak untuk dibayar.
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…
Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…
Memiliki website di era digital bukan lagi sekadar gengsi atau formalitas. Banyak pemilik bisnis yang…