Uncertainty Reduction Theory – Mengelola Ketidakpastian Saat Berinteraksi
Ketika masuk kelas baru habis naik kelas atau naik tingkat, serta berbaur dengan mahasiswa jurusan lain, mungkin kita akan lebih hati-hati dalam berinteraksi, atau saat mau kencan pertama. Sebenarnya, ada teori komunikasi di tingkat interpersonal yang menjelaskan hal ini, yaitu Uncertainty Reduction Theory.
Berikut adalah pembahasan lengkap mengenai konsep, prinsip utama, hingga contoh penerapan Uncertainty Reduction Theory dalam kehidupan sehari-hari.
Siapa yang Membuat Teori Ini dan Kapan Dicetuskan?
Teori ini digagas oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada tahun 1975.
Sebelum teori ini lahir, banyak pakar komunikasi berfokus pada hubungan yang sudah lama terjalin atau model interaksi secara umum. Berger dan Calabrese menggeser cara pandang tersebut dengan berfokus pada momen pertemuan awal (initial encounters).
Mengambil pemikiran dari Attribution Theory milik Fritz Heider, Berger menekankan bahwa manusia pada dasarnya bertindak seperti “psikolog awam”. Kita secara alami terus membuat inferensi (kesimpulan) untuk menjawab pertanyaan fundamental: “Mengapa orang tersebut melakukan apa yang mereka lakukan?”
Penjelasan dan Prinsip Utama Uncertainty Reduction Theory
Prinsip dasar Uncertainty Reduction Theory menyatakan bahwa interaksi antarpribadi didorong oleh dorongan kognitif untuk mengurangi ambiguitas dan meningkatkan kepastian (predictability).
2 Jenis Ketidakpastian
a. Ketidakpastian Perilaku (Behavioral Uncertainty)
Berhubungan dengan prosedur atau tata cara berinteraksi (misalnya: bagaimana cara menyapa yang sopan, menjaga jarak fisik, atau norma etiket sosial). Tentu kita tidak mau ngomong kasar ke orang yang gak deket atau baru kenal kan. Biasanya saat sudah dekat baru ada panggilan khusus, termasuk kata yang tidak senonoh.
b. Ketidakpastian Kognitif (Cognitive Uncertainty)
Berhubungan dengan keyakinan, sikap, dan perasaan spesifik dari lawan bicara. Mengurangi ketidakpastian kognitif adalah fokus utama dari teori ini.
3 Kondisi Pemicu Pengurangan Ketidakpastian
Berger menyebutkan ada tiga kondisi awal yang meningkatkan dorongan seseorang untuk mengurangi ketidakpastian:
a. Antisipasi Interaksi Masa Depan (Anticipation of Future Interaction)
Ketika tahu kita akan bertemu lagi dengan orang tersebut di kemudian hari. Baik itu untuk urusan personal, bisnis, dsb.
b. Nilai Insentif (Incentive Value)
Orang tersebut memiliki sesuatu yang kita butuhkan atau inginkan. Agak mirip dengan konsep pada social exchange theory (tapi basis di teori itu adalah comparison level).
c. Deviasi (Deviance)
Orang bertindak aneh, unik, atau di luar kebiasaan umum.
Aksioma dan Teorema Utama
Berger mengajukan 8 Aksioma (kebenaran mandiri yang tidak memerlukan pembuktian tambahan) untuk menjelaskan hubungan antara ketidakpastian dan variabel komunikasi:
1. Komunikasi Verbal
Semakin banyak komunikasi verbal, tingkat ketidakpastian akan menurun.
2. Kehangatan Nonverbal
Semakin tinggi ekspresi kehangatan nonverbal (seperti senyuman dan kontak mata, serta salaman dengan hormat), ketidakpastian akan menurun.
3. Pencarian Informasi
Ketidakpastian yang tinggi memicu tingginya perilaku mencari informasi.
4. Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)
Ketidakpastian tinggi menyebabkan rendahnya tingkat intimasi cerita; ketidakpastian rendah memicu intimasi yang tinggi. Konsep ini dipakai juga pada social penetration theory untuk menuju keintiman yang lebih dalam.
5. Timbal Balik (Reciprocity)
Ketidakpastian yang tinggi menghasilkan tingkat timbal balik yang tinggi (tit-for-tat).
6. Kemiripan (Similarity)
Kemiripan antarindividu mengurangi ketidakpastian. Misalnya, teman baru, tetapi sama-sama suka klub Manchester United.
7. Rasa Suka (Liking)
Penurunan ketidakpastian akan meningkatkan rasa suka.
8. Jaringan Bersama (Shared Networks)
Memiliki koneksi atau jaringan relasi yang sama dapat mengurangi ketidakpastian. Jadi, jangan heran satu almamater kampus umumnya akan terasa lebih cepat dekat.
28 Teorema
Dengan memasangkan ke-8 aksioma ini secara berpasangan dan logis, Berger merumuskan 28 Teorema yang menggambarkan dinamika perkembangan hubungan antarpribadi.
Rencana Pesan & Strategi Mengurangi Ketidakpastian
Komunikasi bersifat berorientasi pada tujuan (goal-driven).
Untuk mengatasi ketidakpastian saat menyampaikan pesan, manusia menyusun rencana pesan (message plans) secara hierarkis.
Terdapat 4 strategi utama yang digunakan untuk mengumpulkan informasi:
1. Strategi Pasif (Passive Strategy)
Mengamati orang lain secara diam-diam dari kejauhan dalam situasi alamiah.
2. Strategi Aktif (Active Strategy)
Bertanya kepada pihak ketiga atau orang lain untuk mendapatkan informasi tentang target.
3. Strategi Interaktif (Interactive Strategy)
Berbicara langsung secara tatap muka dan mengajukan pertanyaan spesifik.
4. Strategi Ekstraktif (Extractive Strategy)
Mencari informasi target secara mandiri melalui media sosial atau mesin pencari (online search). Contohnya, kita Googling orang baru yang mau kita temui, seperti atasan yang baru masuk kantor.
Hipotesis Hierarki (Hierarchy Hypothesis)
Ketika rencana komunikasi kita gagal, kecenderungan pertama manusia adalah mengubah elemen konkret di tingkat bawah (misalnya memperkeras suara) daripada mengubah strategi abstrak di tingkat atas.
Dalam kehidupan sehari-hari atau praktikal, setiap orang punya strategi yang berbeda-beda dan sangat kontekstual. Contohnya, ketika ada alpha atau orang yang dikatakan pemimpin tanpa pengakuan formal di suatu komunitas, tentu strategi pasif menjadi pilihan yang lebih baik.
Ketidakpastian dalam Hubungan Jangka Panjang
Apakah ketidakpastian hanya ada di awal pertemuan? Leanne Knobloch memperluas teori ini menjadi Relational Turbulence Theory.
Dalam hubungan yang sudah lama berjalan, ketidakpastian dapat muncul kembali akibat:
-
Keraguan Relasional: Ketidakpastian atas perasaan sendiri, komitmen pasangan, atau masa depan hubungan.
-
Interferensi Pasangan (Partner Interference): Gesekan atau friksi yang terjadi saat mencoba menyelaraskan rencana, tujuan, dan aktivitas harian.
Turbulensi ini dapat memicu emosi negatif seperti marah dan takut, yang jika tidak dikelola akan menjadi siklus berulang yang mengancam kesehatan hubungan.
Kelebihan Teori
a. Sangat Objektif dan Terstruktur
Menjadi prototipe teori komunikasi kuantitatif/objektif yang memiliki proposisi logis dan dapat diuji secara ilmiah.
b. Aplikasi yang Luas
Konsep strategi ekstraktif sangat relevan untuk menjelaskan perilaku pengoperasian media sosial dan pencarian informasi digital saat ini.
Dari penelusuran pemilik blog ini, teori ini juga tidak hanya digunakan di ranah ilmu komunikasi, tetapi juga bidang lain seperti organisasi dan IT.
c. Penyebab & Dampak yang Jelas
Mampu menghubungkan kondisi kognitif internal dengan perilaku komunikasi luar secara sistematis.
Kelemahan dan Kritik terhadap Teori
1. Kritik terhadap Aksioma 3 & Teorema 17
Kathy Kellermann dan Rodney Reynolds menilai bahwa ketidakpastian tinggi tidak selalu memicu pencarian informasi; ada faktor motivasi internal yang lebih memengaruhi.
2. Predicted Outcome Value Theory
Michael Sunnafrank berpendapat bahwa manusia lebih didorong oleh keinginan memaksimalkan hasil positif (predicted outcome value) ketimbang sekadar mengurangi ketidakpastian.
3. Fokus pada Kecemasan
Walid Afifi (Motivated Information Management Theory) menyarankan bahwa manusia sebenarnya lebih termotivasi untuk mengelola kecemasan (anxiety) ketimbang ketidakpastian kognitif.
Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Stalking linkedin calon atasan atau user sebelum wawancara kerja
2. Kencan pertama, membahas hal-hal yang cenderung diplomatis dan tidak terlalu dalam untuk menghindari rasa canggung
3. Memperhatikan bagaimana dinamika grup ketika baru masuk komunitas, misalnya lebih sering mengoper bola daripada unjuk skill gocek sana sini di komunitas fun football
4. Baru masuk grup, tidak langsung jadi partisipan aktif. Lebih banyak observasi apa topiknya dan siapa yang suka ngomong
5. Ikut makan siang bersama tim ketika pertama kali masuk ke tempat kerja yang baru
Bagaimana Kamu Mengelola Ketidakpastian?
Uncertainty Reduction Theory membuktikan bahwa komunikasi adalah alat utama manusia untuk membuat lingkungan sosial menjadi lebih terprediksi dan aman.
Jadi, jangan heran kalau orang baru masuk grup cenderung lebih pendiam dan mengobservasi dulu. Atau saat kencan pertama hanya membahas hal-hal normatif/tidak pinggir jurang. Namanya risiko, pasti kita ingin seminimal mungkin.
Kalau kamu, apa yang dilakukan untuk mengurangi ketidakpastian ketika berkenalan dengan orang baru atau masuk ke lingkungan baru?
Referensi:
https://www.afirstlook.com/edition-10/theory-resources/by-type/outline/Uncertainty-Reduction-Theory#entry9