Jika kamu telah lama bekerja di digital marketing atau menjalankan bisnis, harusnya sudah tidak asing dengan user-generated content atau UGC.
UGC ini merupakan effort dari digital marketing, bahkan bentuk kepercayaan user baik kontennya itu bersifat organik atau pun berbayar.
Yuk kita gali lebih lanjut tentang user-generated content ini!
User-generated content adalah branded content yang dibuat oleh user di platform media online seperti media sosial, blog post, dan video di YouTube.
Contoh paling simpel adalah kita posting makanan di restoran, lalu tag akun restorannya. Itu termasuk contoh UGC.
User-generated content yang organik adalah UGC yang di-posting/dibuat tanpa adanya pembayaran ke user yang membuatnya.
Biasanya, konten ini datang dari kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan terhadap produk/jasa suatu brand.
Contohnya adalah review Google dan komentarnya dan testimoni restoran di Instagram oleh pelanggan yang puas dengan pelayanan di restoran mereka (tentunya testimoni ini tidak berbayar).
Satu jenis lagi, ada juga UGC yang berbayar. Biasanya hal ini dilakukan oleh brand yang produk/jasa atau namanya belum dikenal oleh masyarakat.
Implementasinya mirip-mirip dengan key opinion leader. Kita membayar mereka untuk posting tentang brand kita.
Namun, ada juga sisi gelapnya seperti testimoni palsu yang berbayar.
Foto statis saja bisa termasuk user-generated content. Contohnya adalah foto paket barang yang baru saja sampai ke rumah menjadi UGC yang penting untuk meningkatkan kepercayaan pembeli kepada penjaul di toko online.
Selain itu, contoh foto selfie di tempat wisata juga termasuk UGC.
Yah, seeing is believing.
Video dalam user-generated content biasanya adalah berupa video pendek seperti reels. Contohnya adalah video bedah rumah atau hotel yang mana bisa membantu orang-orang untuk me-review hotel/rumah tanpa perlu datang ke lokasi terlebih dahulu.
Artikel review juga bisa menjadi user-generated content, apalagi kalau review-nya positif dan ada backlink yang tersematkan (secara natural, alias tanpa minta).
Lebih mantap lagi kalau artikelnya tidak hanya tulisan saja, tetapi juga disertai visual seperti gambar.
Lomba/kontes bisa memancing user-generated content lebih banyak lagi. Contohnya adalah lomba blog.
User-generated content dapat meningkatkan brand awareness. Bahkan juga bisa membantu konversi secara tidak langsung karena adanya social proof.
Social proof juga bisa kita dapatkan dari UGC loh. Misalnya UGC tentang testimoni skin care. Orang-orang jadi tidak ragu lagi untuk membeli produk/jasamu karena sudah ada UGC yang menceritakan testimoninya.
Selain social proof, jika kamu memakai jasa influencer untuk UGC. Maka ada juga bias kognitif yang kamu bisa manfaatkan, yaitu authority bias.
Authority bias ini mirip dengan social proof. Perbedaannya terletak pada authority, contohnya adalah influencer/KOL.
Bias ini akan membuat user percaya dengan brand-mu, bahkan lewat UGC sekalipun.
Bentuk dan media penyampaian UGC punya peranan cukup krusial.
Contohnya, review hotel akan lebih terasa dengan video bedah kamar hotel dan fasilitasnya daripada sekedar tulisan saja.
Storytelling juga penting di UGC, apalagi sebaiknya UGC-nya sesuai dengan brand value karena itulah yang membuat suatu brand menjadi unik.
Hal ini cukup penting, terutama jika UGC-nya berbayar.
Andai sifatnya organik, ada baikya tidak terlalu ikut campur dengan user-nya. Mendapatkan UGC organik yang bersifat positif itu sudah cukup bagus.
Jika kamu mendapatkan informasi atau menyadari adanya UGC bersifat organik, contohnya di media sosial. Maka mintalah akun brand-mu untuk di-tag oleh pembuat UGC-nya.
Mirip dengan permintaan SEO outreach untuk unlinked brand mention.
Mengecek brand mention secara berkala=memantau potensi adanya user-generated content loh.
Kamu bisa memakai Google Alerts untuk memantau brand mention.
Kalau ada review negatif, segera “padamkan”. Jika bersifat positif, ajak pembuat UGC-nya untuk berkolaborasi.
Munculnya UGC secara organik dan pembuatan UGC secara berbayar harus kita evaluasi.
Banyakya UGC yang bersifat positif adalah bukti bahwa kualitas dari bisnis kita itu bagus, sementara kalau kebalikannya, berarti perlu ada evaluasi pada bisnisnya.
Performa konten berbayar juga harus kita perhatikan karena kita membayar untuk konten tersebut.
Google meminta jika suatu konten yang merupakan UGC untuk diselipkan atribut user-generated content.
Contoh user-generated content bisa kamu temukan di blog ini dalam bentuk artikel, terutama pada sesi lomba. Misalnya:
Konten testimoni atau pengalaman yang dikemas dalam bentuk video, misalnya orang yang menginap di hotel juga adalah contoh UGC.
User-generated content, baik itu yang organik atau pun berbayar sangat berguna untuk digital marketing. Jadi, optimalkan konten buatan pengguna ini agar tujuan marketing-mu tercapai.
Jangan lupa untuk berterima kasih kepada pembuat UGC organik yang membuat review positif tanpa dibayar sepeser pun.
Referensi:
https://www.semrush.com/blog/user-generated-content/#ugc-best-practices:-7-tips-for-cost-effective-marketing
November 2022, pekerja kreatif di seluruh dunia dikejutkan oleh hadirnya produk OpenAI bernama ChatGPT. Perusahaan…
Metrik di performance marketing ada banyak, salah satunya adalah CPL atau cost per leads yang…
Dalam performance marketing, bahkan SEO. Kita bisa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi satu…
Dengan kemunculan AI generatif, terdapat istilah baru, yaitu GEO. GEO cukup berbeda dengan SEO karena…
Studi sebelumnya, pemilik blog ini menguji rekomendasi blog untuk belajar SEO. Studi dengan kueri lokal…
Studi sebelumnya menyoroti bahwa GEO memberikan jawaban yang tidak selalu sama meski prompt-nya sama. Meski…