Sebelumnya, penulis pernah membahas soal bagaimana cara menerima kritik di tautan ini. Pada kenyataannya, kita juga bisa loh memberikan kritik. Namun, tentunya ada cara mengkritik dengan benar loh. Tidak asal-asalan bahkan dengan bentuk sindiran sekalipun! Semua tergantung budaya, apakah konteks rendah atau konteks tinggi.
Meski kritik terkadang terdengar menjengkelkan, ada caranya agar kritik bisa tersampaikan dengan baik, bahkan bisa jadi orang yang kita kritik tidak baper sedikit pun (tergantung orangnya).
Berikut cara mengkritik dengan benar!
Mengugnakan kata ganti orang pertama memperjelas bahwa kritiknya murni darimu tanpa adanya intervensi dari pihak lain. Hal ini memengaruhi bagaimana interpretasi dari orang yang dikritik loh.
Penggunaan kata “saya dan aku” juga mencerminkan pandangan/kritik kita terhadap situasi. Miskomunikasi dan peluang baper juga bisa diminimalkan.
Pernahkah kamu mendengar template seperti: “kerjamu bagus, namun menurutku kamu perlu melakukan hal x dengan lebih baik”. Template tersebut dinamakan metode sandwich. Bukan sugar coating loh ya!
Meski ada pro kontra terhadap metode ini, penulis beropini bahwa metode ini bisa kamu pakai, terutama untuk orang Indonesia karena biasanya mereka benci dengan intimidasi atau kefrontalan.
Jangan bawa-bawa urusan personal dalam mengkritik alias subjektif. Fokuslah pada nilai/value/obyek yang kamu kritik.
Contohnya, kalau mengkritik orang yang buang sampah sembarangan, kritiklah kelakuan buruknya, bukan justru tampang orangnya yang dikritik.
Momen juga perlu loh dalam mengkritik. Bayangkan kamu dapat kritik ketika dalam kondisi lelah dan stres setelah mendapatkan kemarahan dari atasan. Kemungkinan besar kamu akan meresponnya dengan kurang bijak.
Pakai kata tanya kapan, dimana, siapa, dan bagaimana sebelum mengkritik:
Pasti kamu familiar dengan “jangan kritik saja, solusinya juga dong!”. Sejatinya kritik itu tidak membutuhkan solusi.
Namun, untuk ranah personal atau pekerjaan, coba juga untuk tidak hanya memberikan kritik, tetapi juga saran agar komunikasinya bisa berjalan dengan baik.
Memberi saran juga memberikan kesan bahwa kita tidak hanya fokus pada hal negatif saja.
Agar kritik terdengar sopan, kita bisa mengawali kritik dengan maaf, dan mengakhirnya dengan terima kasih.
Hal ini penting untuk diterapkan, terutama jika kamu ingin mengkritik atasan dalam 1 on 1.
Khusus untuk mengkritik secara lisan. Pastikan bahwa gestur dan tone of voice-mu itu ramah. Tidak tantrum atau marah-marah, sehingga orang yang menerima kritik bisa tahu kalau kamu memang tulus dalam memberikan kritik.
Marah-marah justru akan membuat fokus orang yang menerima kritik teralih pikirannya ke kemarahanmu, bukan kritiknya.
Kritik di atas langsung to the point, di ruang privat, dan ada saran agar orang yang dikritik bisa jadi lebih baik. Itulah contoh cara mengkritik yang baik 🙂
Kritik di atas baik jika diterapkan pada budaya konteks tinggi dan jika kamu tidak suka konteks rendah.
Tidak hanya menerima kritik saja. Mengkritik juga harus kita lakukan sebaik-baiknya, apalagi jika komunikannya bersifat konteks tinggi, bukan konteks rendah.
Memberikan kritik dengan kurang bijak akan membuat kita dibenci, hubungan retak, dan orang yang kita kritik tidak mencerna kritiknya, tetapi persepsi negatif tentang kita.
Yuk lakukan cara mengkritik dengan benar. Bukan sekedar marah-marah saja 🙂
Referensi:
https://asana.com/resources/constructive-criticism
https://www.indeed.com/career-advice/career-development/how-to-respond-to-criticism
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…
Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…
Memiliki website di era digital bukan lagi sekadar gengsi atau formalitas. Banyak pemilik bisnis yang…