Digital MarketingKepenulisan

Helpful Content – Seperti Apa Konten yang Sangat “Membantu”?

Praktisi SEO pastinya sudah tidak asing dengan yang namanya helpful content. Yak, bahkan nama helpful content terdapat pada update algoritma Google pada pertengahan tahun 2022 silam.

Sebenarnya apa sih helpful content ini? Bagaimana cara untuk menilai bahwa suatu konten sudah helpful?

Apa Itu Helpful Content?

Dikutip dari situs resmi Google, sistem ranking di Google didesain untuk memastikan bahwa user mereka melihat konten original yang helpful, sehingga mereka merasa puas.

Maksud puas di sini dimaknai implisit oleh Google. Puas = membaca/mengonsumsi konten yang membantu memuaskan search intent dari user  atau tujuan mereka saat menggunakan mesin pencari. Ingat bahwa orang-orang menggunakan mesin pencari untuk mencari jawaban.

Cara Menilai Apakah suatu Konten Apaka sudah Helpful atau belum

Pada situs resminya, Google menampilkan pertanyaan untuk asesmen tentang apakah suatu konten sudah termasuk helpful atau belum. Antara lain:

    • Apakah kontennya menampilkan informasi, studi kasus, laporan, atau riset yang original?
    • Apakah kontennya menyediakan informasi yang komprehensif?
    • Apakah kontennya menampilkan informasi unik yang menampilkan point of view yang menarik atau tidak menampilkan informasi yang sudah jelas?
    • Jika kontennya merupakan saduran dari situs lain, apakah ada informasi tambahan untuk meningkatkan value dari kontennya? Atau hanya rewrite atau copy paste saja?
    • Apakah heading utama atau judulnya menampilkan ringkasan deskriptif  dari kontennya?
    • Apakah heading utama atau judulnya memberikan judul yang berlebihan?
    • Apakah halaman ini ingin kamu bookmark, sebar ke orang lain, atau direkomendasikan?
    • Apakah kamu berekspektasi kalau konten ini akan direferensikan oleh majalah, ensiklopedia, atau buku?
    • Apakah kontennya punya nilai yang substansial jika dibandingkan dengan laman lainnya?
    • Apakah kontennya ada masalah dalam spelling atau gaya pembuatannya?
    • Apakah kontennya diproduksi dengan baik, atau terlihat buru-buru diproduksi?
    • Apakah konten diproduksi secara massal oleh atau dialihdayakan ke banyak content creator atau tersebar di jaringan situs yang luas, sehingga laman atau situs tertentu tidak mendapat banyak perhatian?
    •  Apakah kontennya menyajikan informasi sedemikian rupa, sehingga kamu ingin memercayainya, seperti sumber yang jelas, bukti expertise yang terlibat, latar belakang penulis atau situs yang menerbitkannya, misalnya melalui tautan ke halaman penulis atau tentang situs halaman (about us)
    • Jika seseorang melakukan riset pada situs yang membuat kontennya, apakah akan menimbulkan impresi atau kesan bahwa situs tersebut memang ahli di bidangnya atau punya otoritas?
    • Apakah kontennya ditulis atau di-review oleh ahli di bidangnya?
    • Apakah kontennya memiliki kesalahan faktual yang mudah diverifikasi?

Tidak sampai di situ, Google juga melampirkan soal page experience. Kamu bisa mengakses informasinya di tautan berikut ini.

Dari pertanyaan/assesment Google tersebut, dapat disimpulkan bahwa helpful content adalah konten yang:

  • Original
  • Komprehensif
  • Punya point of view yang unik
  • Punya heading utama atau judul yang mendeskripsikan keseluruhan isi konten
  • Layak disebarkan dan dijadikan sebagai referensi
  • Punya value lebih dibandingkan konten lain
  • Minim kesalahan
  • Diproduksi dengan tahapan yang lengkap. Tidak buru-buru seperti draft pertama beres langsung rilis
  • Dapat dipercaya
  • Menerapkan Google E-E-A-T
  • Informasi di dalam kontennya mudah diverifikasi kebenarannya

Apakah artikelmu sudah berkualitas seperti ciri-ciri di atas?

Bagaimana Cara Membuat Helpful Content?

Menurut Google, berikut cara membuat helpful content

a. Membuat Konten yang People First

Apaan tuh konten yang people first? Maksudnya adalah konten yang tujuan utamanya adalah untuk pengguna. Bukan untuk memanipulasi mesin pencari.

Pertanyaan ini bisa kamu jadikan assesment untuk menilai apakah suatu konten sudah people first atau belum:

  • Apakah kamu punya target audiens untuk situs/bisnismu, sehingga targetmu akan menganggap bahwa kontenmu “berguna” bagi mereka jika mereka membaca kontenmu?
  • Apakah kontenmu menampilkan expertise atau pengetahuan yang dalam? Misalnya untuk konten review makanan, maka ada pengalaman mengonsumsi langsung makanannya
  • Setelah membaca/mengonsumsi kontenmu, apakah user akan merasa cukup paham, sehingga tujuan mereka tercapai?
  • Apakah setelah membaca kontenmu, user merasa puas?

Dari assesment, terlihat bahwa konten yang people first adalah konten yang:

  • Menimbulkan kesan yang memuaskan, terutama pada target user dari situs/bisnismu
  • Menunjukkan E-E-A-T

b. Menghindari Konten yang Search Engine First

Kebalikannya people first, ada juga yang search engine first. Google memberikan pertanyaan ini untuk mengevaluasi apakah suatu konten search engine first atau tidak lewat pertanyaan ini:

  • Apakah kontennya hanya sekedar untuk menarik pengunjung ke situs?
  • Apakah kamu memproduksi konten dari berbagai niche/topik dengan harapan bisa bagus hasilnya di SERP? (Bahasa umumnya: gado-gado)
  • Apakah kamu memakai automasi yang berlebihan pada berbagai topik?
  • Apakah kamu menulis sesuatu hanya karena sedang ngetren saja?
  • Apakah kontemu membuat user ingin mencari sumber lainnya?
  • Apakah kamu masuk ke niche tertentu tanpa expertise yang nyata, namun hanya berpikir untuk mendapatkan traffic saja?
  • Apakah kamu mengubah tanggal pembuatan kontennya agar kontennya terlihat fresh meski tidak ada perubahan yang substansial?
  • Apakah kamu menambah konten baru dan membuang konten jadul agar ranking bisa lebih baik? (Kata Google, tidak ada pengaruhnya)

Jika jawaban atas pertanyaan di atas kebanyakan adalah “iya”, berarti kamu hanya membuat konten yang search engine first.

c. Pakai “Siapa, Bagaimana, dan Mengapa” pada saat Membuat Konten

1. Siapa

Maksud siapa di sini adalah siapa pembuat kontennya. Dalam penerapan E-E-A-T, sebaiknya kita mencantumkan nama dari pembuat konten.

Bisa dibilang hal ini termasuk penerapan author authority. Sertakan profil pembuat konten dengan jelas.

2. Bagaimana

Bagaimana kontennya dibuat? Apakah dengan proses yang tepat seperti mendapatkan ide-membuat draft pertama-menyunting-publikasi, atau malah terburu-buru dalam membuat kontennya secara manual atau automasi.

Contohnya, kalau konten review makanan, sebaiknya ada orang dan ada foto/video saat mencicipi makanannya serta foto asli dari restoran tempat makannya berada.

Ketika membuat konten dengan AI, pastikan bahwa meski memakai automasi, kontennya tetap bermanfaat untuk pengguna.

3. Mengapa

Mengapa konten tersebut dibuat? Tentunya harus jelas tujuannya dan kembali ke prinsip people first, misalnya menolong orang lain yang sedang mencari informasi di Google.

Pesan Implisit dari Google lewat “Helpful Content”

Sejatinya, Google menginginkan kalau konten yang kita buat itu bertujuan untuk membantu user mereka. Bukan sekedar untuk mendapatkan traffic atau conversion semata.

Bayangkan saja ketika kamu datang ke suatu situs, lalu membaca kontennya. Namun, ternyata kontennya tidak dibuat dengan baik, justru rasanya bikin pengen cepat keluar dari situsnya.

Buatlah konten dengan tujuan yang mulia, yaitu berdampak baik untuk kehidupan orang lain. Yakin deh, apa pun perbuatan baiknya pasti akan ada balasannya meski kecil.

Ingat bahwa konten yang kita buat bisa berdampak besar untuk seseorang. Contohnya, kita bisa membuat seseorang jadi kaya raya jika membuat konten soal investasi keuangan yang benar.

Happy optimizing!

Referensi:

https://developers.google.com/search/docs/fundamentals/creating-helpful-content

https://developers.google.com/search/help/helpful-content-faq

https://developers.google.com/search/docs/appearance/page-experience

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *