Meski ada konten bertipe evergreen yang tidak lekang oleh waktu, ternyata bisa juga “usang”. Alasannya adalah ternyata ada informasi yang lebih update, sehingga informasi sebelum terjadi update menjadi hoaks atau dengan kata lain bukan lagi merupakan fakta. Konten yang “usang” ini bernama outdated content.
Apa bahaya dari outdated content? Apakah berpengaruh terhadap SEO? Lalu, bagaimana cara memperbaikinya?
Outdated content adalah konten yang “umurnya sudah habis” atau “kadaluarsa” karena berbagai faktor seperti standar yang berubah-ubah.
Bisa dibilang, outdated content adalah antonim dari fresh content.
Beberapa contoh outdated content, antara lain:
Bahaya dari outdated content pada dasarnya adalah informasi yang sudah tidak lagi relevan atau dulunya fakta, sekarang bukan lagi fakta, sehingga jika suatu outdated content tidak “dibuang” atau diperbaiki, kita bisa memberikan informasi hoax secara tidak sengaja kepada pembaca kita.
Google juga menyukai fresh content karena mereka ingin memberikan konten terbaru yang berotoritas dan relevan. Jadi, kalau ada outdated content yang belum di-update atau di-remove, maka akan berpengaruh terhadap SEO sebuah situs.
Informasi yang tidak di-update menunjukkan bahwa pemilik situsnya tidak tahu atau tidak mau tahu soal informasi ter-update, sehingga reputasi bisa menurun.
Terdapat dua pilihan untuk outdated content, yaitu diperbaiki atau “dibuang”.
Diperbaiki yang dimaksud di sini adalah melakukan update agar kontennya relevan dan tidak jadul. Awalnya fakta, karena sudah kadaluarsa, menjadi hoax. Tentu saja hal itu tidak ingin sampai terjadi bukan?
Namun, perbaikan ini akan memakan banyak waktu jika banyak sekali konten yang harus diperbaiki.
Makna dibuang ini bisa dibagi dua, yaitu dihapus atau diblokir.
Untuk menghapus konten, kamu bisa melakukannya dengan menekan tombol trash pada WordPress. Namun perlu ada pertimbangan seperti bagaimana cara memperbaiki broken link yang mengarah ke laman yang dihapus. Sebenarnya akan lebih mudah kalau lamannya orphan page atau belum terindeks oleh Google.
Beberapa solusi setelah menghapus laman adalah:
Sementara itu, untuk diblokir, maksudnya adalah memberi tahu Google agar tautan ini diblokir saja, sehingga tidak muncul di Google search. Hal ini bisa dilakukan di bagian remove pada Google Search Console. Selain itu, pakai robots.txt juga bisa, namun agak berisiko untuk situs yang besar.
Outdated content itu seperti hama/parasit karena kehadirannya bisa mengganggu ekosistem yang ada di blog kita. Contohnya adalah merusak kredibilitas situs kita yang memberikan informasi faktual, namun gara-gara outdated content, imej tersebut jadi rusak.
Selalu perbarui/perbaiki atau “buang” outdated content jika diperlukan. Tidak ada yang menyukai informasi yang sudah usang. Kecuali sejarah karena berupa fakta (bukan opini) alias akan berlaku sepanjang waktu.
Happy writing and optimizing!
https://neilpatel.com/blog/outdated-content/
Karena sekarang AI bisa membuat teks, orang-orang jadi sulit untuk membedakan tulisan AI dan manusia.…
Mendapatkan backlink secara natural pastinya sulit, tetapi rasanya sepadan. Apalagi, jika ternyata backlink yang didapatkan…
Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…
Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…
Bridge dari Kebiasaan Membaca Personal Blog dan Konten Naratif Mendalam ke Pengalaman JRPG Modern: Mengapa…
Traffic website turun biasanya jadi alarm atau peringatan, terutama bagi pengurus website atau SEO specialist.…