Sebagai content creator atau marketer, kita mungkin tidak asing dengan istilah “content is king“.
Yah, seperti pelanggan adalah raja, konten juga diibaratkan seperti itu dalam dunia marketing. Namun, apakah hal ini benar adanya?
Dikutip dari Ubersuggest, asal mula istilah content is king adalah esai yang ditulis Bill Gates yang berjudul content is king. Menurut beliau, penghasilan dari internet akan berpusat pada konten.
Terdapat berbagai pendapat yang beredar di internet soal hal ini.
Neil Patel, CEO Ubersuggest pernah mengadakan survei kecil-kecilan di Twitter tentang pertanyaan apakah content is king itu benar atau tidak. 47,9% menjawab iya dan hanya 10,5% saja yang berpendapat kalau konten bukanlah raja lagi.
Alasan mengapa content is king adalah karena Google (mesin pencari) dan orang-orang menyukai konten. Dikutip dari studi oleh Double Verify, konsumsi konten meingkat 2x lipat pada tahun 2020.
Menurut laporan dari Demand Metric, content marketing menghasilkan 3x leads lebih banyak daripada marketing tradisional (per dollar yang dihabiskan).
Selain itu, brand yang melakukan blogging punya 67% lebih banyak leads daripada yang tidak menerapkan blogging.
Cara paling sederhana untuk mempertemukan audiens dengan brand di era sekarang ya jelas lewat konten digital.
Pada akhirnya, membuat konten yang relevan dan terspesialisasi akan membuat segmen audiens yang lebih bagus dan berpeluang lebih besar untuk convert.
Contonya, kita riset keyword dan membuat konten yang sesuai dengan buyer persona produk/jasa agar target pembeli kita menemukan situs kita.
Ini seperti bak mak comblang yang lagi mengenalkan calon jodoh. Nah, konten ini berperan sebagai mak comblang brand dengan user. Si konten ini akan mengenalkan brand kepada user lewat konten yang menarik.
Kalau cocok, maka user akan loyal, bahkan melakukan pembelian dari brand tersebut dan merekomendasikannya kepada orang lain.
Konten bisa jadi sarana untuk meningkatkan kepercayaan user terhadap suatu brand, apalagi jika kontennya terspesialisasi.
Contohnya, di bidang sepak bola, kita membahas knuckle shot dan cara marking lawan.
Jangan keluar jalur atau gado-gado. Rasanya aneh kan kalau mendengar dokter jantung membicarakan ekonomi Eropa?
Dari konten, kita bisa tahu bagaimana sih karakteristik audiens kita.
Hal ini bisa diketahui dengan:
Tidak hanya karakteristik itu saja, kita juga bisa tahu entry point seorang audiens menemukan brand kita lewat konten.
Mau produk/jasa sebagus apa pun tidak akan ada yang mau beli jika “dipasarkan dengan buruk”.
Untuk menambah value produk/jasa yang dijual, kita bisa menggunakan konten.
Contohnya, kita menjelaskan manfaat atau keunikan (USP) suatu produk/jasa ke audiens. Apa perbedaan yang tidak dimiliki oleh kompetitor?
Semakin banyak konten berkualitas yang diproduksi, semakin besar juga traffic situs atau reach media sosialmu.
Ingat bahwa sebelum berbicara soal sales atau convertion, kita harus punya traffic/reach/viewer dulu. Tidak akan ada pembelian kalau tidak ada hal tersebut.
Jadi, jangan stop membuat konten yang high-quality untuk audiens!
Tanda bahwa mereka suka dengan konten kita adalah bertanya-tanya jika kita sudah lama gak ngonten.
Ingat bahwa ada 10% orang yang bilang bahwa konten bukanlah raja lagi pada survei yang dilakukan oleh Neil Patell.
Ada yang beranggapan bahwa mengapa bukan content is king adalah karena:
Pada dasarnya, klaim di kontra tersebut terjadi karena konten yang tidak berkualitas, sehingga membuat user kesal.
Mungkin kesalahan lumrah orang-orang adalah mengira konten itu hanya dalam bentuk tulisan saja, padahal bisa dalam bentuk lain seperti:
Apalagi dengan tren pemakaian Tiktok di kalangan anak muda, konten video jadi strategi konten yang bagus.
Sampai sekarang ini, istilah “content is king” masih belum tergoyahkan kebenarannya. Kita bisa lihat dari banyaknya lowongan content creator dan menjamurnya kreator baru di berbagai platform. Hal ini tentunya terjadi karena untuk membuat konten, kita cukup perlu HP dan kuota saja dan konten adalah sarana marketing yang sangat dibutuhkan di era digital seperti sekarang ini. Selain lebih murah, lebih mudah juga untuk reach ke audiens.
Namun, tentu saja “content is king” akan kehilangan maknanya jika kontennya nirfaedah atau tidak berkualitas seperti tulisan blog yang termasuk thin content.
Kalau di SEO, tidak hanya konten berkualitas saja, technical situs dan popularitas (off-page) juga berpengaruh serta penting atau dengan kata lain konten tidak bisa berdiri sendirian saja.
Jadi, kamu tim pro content is king atau kontra?
Referensi:
https://neilpatel.com/blog/content-king/
https://www.demandmetric.com/content/content-marketing-infographic
Alhamdulillah, saya menjadi pemenang Pintu Blog competition. Artikelnya ada pada tautan ini. Semoga bisa jadi…
Terdapat berbagai jenis backlink, tidak sekedar tautan yang mengarah ke situs kita saja dalam bentuk…
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…