Copywriting

Kalimat Ambigu – Dua Makna, Double Trouble!

Siapa di sini yang pernah merasa aneh saat membaca suatu kalimat, bahkan sampai berpikir lebih dari dua kali. “Kok maknanya ganda atau kurang jelas ya”. Nah, pikiran seperti itu biasanya muncul setelah membaca kalimat ambigu.

Kalimat ambigu ini cukup berbahaya dan terdapat dalam beberapa jenis loh.

Apa yang perlu kamu ketahui tentang hal ini?

Apa Itu Kalimat Ambigu?

Kalimat ambigu adalah kalimat yang bermakna ganda atau bahkan lebih dari itu.

Menurut KBBI, ambigu adalah bermakna lebih dari satu (sehingga kadang-kadang menimbulkan keraguan, kekaburan, ketidakjelasan, dan sebagainya); bermakna ganda; taksa.

Jadi, saat membaca kalimat ambigu, wajar saja kalau kita merasa kebingungan karena tidak konsisten karena punya makna lebih dari satu.

Jenis Kalimat Ambigu dan Contohnya

a. Ambigu Fonetik

Ambigu jenis ini hanya bisa terjadi dalam percakapan lisan saja karena pengucapannya terdengar sama.

Contohnya adalah:

  • Bang dan bank (bang, mau ke bank dong)
  • Massa dan masa (massa dari tadi barang itu belum sampai juga)
  • Mas dan emas (mas, emasnya mau sampai nih mas)

b. Ambigu Leksikal

Kalau ambigu fonetik karena percakapan, sementara itu ambigu leksikal terjadi karena kesamaan penulisan dan pengucapan.

  • Beruang itu sedang menyelami danau (binatang atau memiliki uang)
  • Jarak itu sangatlah panjang (panjang suatu tempat ke tempat lain dan tumbuhan)
  • Batu ada di Jawa Timur (benda padat atau kota di Jawa Timur)
  • Hati ini sangatlah bersih (organ tubuh atau perasaan/kiasan dalam cinta)
  • Hijau warnanya, tapi belum tentu dengan skill-nya (warna atau dianggap masih newbie)

Terlihat ada ambiguitas yang terjadi karena makna denotatif dan konotatif.

c. Ambigu Gramatikal

Ambigu gramatikal adalah makna ganda akibat dari pembentukan tata bahasa dari bahasa, frasa, atau kata-kata yang dipakai. Contohnya: Pemukul itu sangat keras dan handal (orang yang memukul dan alat untuk memukul).

Bahaya Kalimat Ambigu

Pada dasarnya, bahaya kalimat ambigu adalah miskomunikasi. Bisa dibilang hal ini adalah akar dari hampir semua masalah. Baik itu di lingkungan keluarga, kerja, bisnis, hingga pemerintahan.

Dalam berkomunikasi, apalagi di sektor formal, kalimat ambigu dapat menyebabkan bahaya, terutama dalam industri yang pekerjanya butuh HSE dan berisiko tinggi untuk terjadi korban jiwa atau accident.

Bayangkan saja, kalimat yang sudah jelas maknanya saja kadang-kadang masih ada orang yang salah tangkap, apalagi kalau kalimat ambigu?

Bagaimana Cara Mencegah Pembuatan Kalimat Ambigu dalam Artikel?

Kesalahan seperti typo memang tidak bisa/sulit dihindari, namun munculnya kalimat ambigu bisa kita cegah dengan punya ilmu tata bahasa yang memumpuni dan menulis di kondisi terbaik (waktu, di mana, siapa yang menemani, dll.).

Saat menulis kalimat ambigu, bahkan saat free writing sekalipun, pasti kita akan mengerem ketikan kita sedikit. Namun, jangan stop kalau masih draft pertama. Selesaikan dulu, baru lakukan proses penyuntingan.

Bagaimana Cara Menemukan dan Memperbaiki Kalimat Ambigu?

Untuk editor, menemukan kalimat ambigu tidak semudah menemukan typo karena dalam mendeteksi ambiguitas, harus punya ilmu tata bahasa yang baik dan mengerti keseluruhan konteks suatu kata/frasa/kalimat/paragraf. Jadi, satu-satunya cara menemukan ambiguitas adalah membaca tulisan dengan fokus dan seksama.

Jika kita menemukan kalimat ambigu, kita bisa meminta penulis untuk mengelaborasi/menjelaskan ambiguitas yang ia tulis. Jika tidak bisa berkomunikasi dengan penulis, kita bisa membetulkannya sesuai dengan apa yang kita pahami/sesuai dengan brand voice.

Apakah Wajib Menghindari Pembuatan Kalimat Ambigu?

Ada beberapa momen di mana kalimat ambigu justru jadi senjata yang bagus. Contohnya adalah saat di campaign dalam marketing. Namun, ingat bahwa gimmick harus diperhitungkan secara matang.

Dalam dunia fiksi, kalimat ambigu juga bisa menjadi surprise yang bagus di kemudian hari untuk pembaca. Pembaca mengira maknanya A, padahal ternyata B.

Mari Buat Kalimat yang Jelas, bukan Ambigu!

Kalau orang tidak menangkap apa maksud tulisan dan omongan kita, bisa jadi kita baru menulis/mengucapkan kalimat ambigu.

Kalimat ambigu bisa jadi sumber masalah karena dapat menyebabkan miskomunikasi. Sementara itu, miskomunikasi adalah akar masalah dari banyak hal, dari lingkup kecil sampai lingkup besar.

Namun, ada beberapa momen kalimat ambigu bisa jadi senjata yang bagus seperti campaign untuk marketing dan membuat cerita fiksi menjadi semakin menarik.

Saat menulis (terutama non fiksi), yuk buat kalimat yang jelas untuk audiens kita dan tidak bermakna ganda atau lebih!

Happy writing!

Author

Faris Yudza Ghifari, S.Si. (Certified Impactful Writer)

Faris Yudza Ghifari. Digital Marketing & Website Associate di PrimeCare Clinic. Berpengalaman di niche kesehatan, pemasaran, dan engineering (alat laboratorium dan energi terbarukan)

Share
Published by
Faris Yudza Ghifari, S.Si. (Certified Impactful Writer)

Recent Posts

Siapa saja Pakar SEO di Indonesia?

Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…

21 hours ago

Rekomendasi VPS Terbaik untuk MVP SaaS (Dilengkapi Estimasi Cost)

Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…

2 days ago

JRPG sebagai Novel Interaktif: Genre Game Penuh Cerita untuk Pembaca

Bridge dari Kebiasaan Membaca Personal Blog dan Konten Naratif Mendalam ke Pengalaman JRPG Modern: Mengapa…

1 week ago

Traffic Website Turun? Berikut Potensi Penyebab dan yang harus Dilakukan!

Traffic website turun biasanya jadi alarm atau peringatan, terutama bagi pengurus website atau SEO specialist.…

2 weeks ago

Saya menjadi pemenang Blog Competition Pintu 2026

Alhamdulillah, saya menjadi pemenang Pintu Blog competition. Artikelnya ada pada tautan ini. Semoga bisa jadi…

2 weeks ago

Contextual Backlink – Backlink dengan Konteks!

Terdapat berbagai jenis backlink, tidak sekedar tautan yang mengarah ke situs kita saja dalam bentuk…

3 weeks ago