Bukan manusia kalau tidak banyak akalnya. Ada berbagai upaya untuk mengakali sistem dari Google lewat off-page SEO. Salah satu yang terkenal adalah link farming atau beternak situs/link.
Beternak yang satu ini dilarang loh oleh Google, namun mengapa masih ada yang melakukannya? Lalu, bagaimana cara mendeteksi situs yang merupakan bagian dari link farm?
Link farming adalah salah satu teknik black hat SEO, yaitu berupa beberapa situs yang saling menautkan satu sama lain.
Sekilas, link farming terdengar seperti PBN. Namun, PBN bertujuan untuk memberikan link equity/juice kepada situs yang mereka berikan backlink dan tidak ada timbal baliknya. Sementara itu, link farming semua situs yang terindikasi melakukan teknik tersebut saling menautkan satu sama lain dan tidak memberikan outbound link di luar ekosistem situs tersebut.
Orang yang melakukan link farming bisa jadi belum tahu kalau link farming itu dilarang oleh Google. Mungkin baru sekedar tahu kalau backlink itu penting saja.
Hasil short term di SEO mungkin bisa dirasakan lewat teknik black hat SEO seperti link farming, namun cara ini tidak akan bertahan dalam jangka panjang karena Google selalu update dan bertarung dengan spam.
Situs terlarang seperti situs dewasa tidak mungkin memakai cara bersih atau white hat SEO. Jadi, satu-satunya cara adalah lewat cara hitam seperti link farming.
Link farming termasuk dalam sekam backlink pyramid, tepatnya pada backlink tier 3.
Konten yang dibuat di situs yang merupakan bagian dari link farm biasanya berkualitas buruk seperti tulisan AI tanpa adanya penyuntingan sama sekali. Jadi, hati-hati saat bertemu situs dengan konten yang buruk.
Situs yang termasuk bagian dari link farm biasanya tidak menampilkan identitas dari pemilik situsnya. Jadi, tidak ada namanya about us, privacy policy, dan contact us.
Seperti definisinya, link farming biasanya hanya menautkan di circle mereka satu sama lain. Jadi, pengecekan backlink pada situs yang terindikasi link farming bisa dilakukan untuk mendeteksi hal ini. Pasti backlink-nya hanya di situs itu saja dan ada link exchange-nya.
Biasanya, situs yang merupakan bagian dari link farming punya anchor text yang sama. Jadi, tidak ada variasi dari anchor text-nya, semua exact match.
Menurut pendapat penulis, link farming tidak worth it untuk dilakukan karena cara ini tidak sustainable.
Lebih baik fokus pada optimasi on-page, technical, dan off-page sesuai dengan panduan dari Google (white hat SEO).
Beternak link atau link farming adalah cara spam untuk memanipulasi ranking yang tidak disukai oleh Google. Jadi, sebagai praktisi SEO, kita jangan sampai melakukan hal ini.
“Eh, tapi ini works kok”. Oke, mungkin itu untuk jangka pendek. Bagaimana dengan jangka panjang? Apakah akan bertahan, lalu kena penalti setelah update? Kita tentu tidak menginginkan hal tersebut bukan?
Daripada link farming, lebih baik link building dengan cara yang baik seperti outreach dan brand mention.
Happy optimizing!
Karena sekarang AI bisa membuat teks, orang-orang jadi sulit untuk membedakan tulisan AI dan manusia.…
Mendapatkan backlink secara natural pastinya sulit, tetapi rasanya sepadan. Apalagi, jika ternyata backlink yang didapatkan…
Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…
Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…
Bridge dari Kebiasaan Membaca Personal Blog dan Konten Naratif Mendalam ke Pengalaman JRPG Modern: Mengapa…
Traffic website turun biasanya jadi alarm atau peringatan, terutama bagi pengurus website atau SEO specialist.…