Digital Marketing

Pain Point – Ketahui “Titik Sakit” agar Produk/Jasa Laku Keras

Di suatu pagi, A mendapati bahwa klosetnya mampet. Karena ia tidak bisa memperbaikinya, ia menelpon plumber agar masalahnya terselesaikan. Nah, “kloset mampet” adalah pain point dari A yang solusinya adalah plumber atau tukang yang bisa memperbaiki klosetnya.

Dalam dunia marketing, mengetahui pain point dari calon klien/pelanggan kita adalah hal yang krusial karena kita bertindak sebagai solusi atas masalah yang dialami oleh mereka.

Apa itu pain point? Apa saja contohnya? Mengapa kita perlu tahu pain point? Bagaimana cara mengidentifikasinya?

Apa Itu Pain Point?

Pain point atau titik sakit adalah sebuah kebutuhan/keinginan orang-orang yang belum terselesaikan atau masalah spesifik yang harus dipecahkan.

Dalam dunia marketing, kita harus mengetahui pain point agar bisa memasarkan produk/jasa untuk menyelesaikan masalah calon pelanggan/klien. Dengan kata lain, menawarkan brand menjadi solusi dari suatu masalah.

Pain point sendiri termasuk bagian dari buyer persona.

Contoh Pain Point

Berikut beberapa contoh pain point:

  • Listrik mati
  • Berat badan susah untuk turun
  • Butuh kendaraan yang bisa membawa satu keluarga inti
  • Susah dapat pegawai yang cocok dan kompeten
  • Mau rumah yang dekat dengan pusat perbelanjaan

Lima hal di atas adalah contoh dari pain point. Sebenarnya masih ada banyak lagi contohnya. Setiap industri atau jenis bisnisnya (b2b, b2c, b2g, dll.) pasti punya pain point yang khas.

Mengapa Kita harus Mengetahui Pain Point dari Customer?

Sebagai pebisnis, marketer, atau sales, kita wajib mengetahui pain point dari calon klien/customer karena produk/jasa yang kita jual harus menyelesaikan masalah mereka. Bisa dibilang, produk/jasa brand bisa menempatkan diri dengan baik sebagai solusi atas masalah klien/customer-nya.

Kalau produk/jasa kita tidak dapat mengatasi atau tidak nyambung dengan pain point, pasti produk/jasanya akan sulit untuk mendapatkan leads, bahkan closing.

Mengetahui pain point juga bisa jadi basis dalam pembuatan content pillar. Jangan membuat blog yang tidak sesuai dengan brand guideline atau pain point calon klien/customer kecuali untuk membangun otoritas topik.

Selain itu, dalam pembuatan blog, pain point dapat memunculkan ide menarik untuk judul dan pembukanya.

Jika produk/jasa kita berhasil menyelesaikan masalah klien, apalagi muncul testimoni positif, kepercayaan terhadap brand akan terbangun secara perlahan.

Bagaimana Cara Mengetahui Pain Point dari Customer?

1. Berdiskusi dengan Tim Sales dan Customer Service

Jika kita adalah marketer, tidak ada salahnya (bahkan wajib) untuk berbicara dengan tim sales atau customer service tentang calon klien, baik itu yang akhirnya closingghosting, atau malah marah-marah.

Dari diskusi dengan tim sales atau customer service, kita bisa mengetahui pain point seperti:

  • Ban mobil yang seret
  • ART yang kerjanya kurang memuaskan
  • Pernah ikut program menurunkan badan di brand B, tetapi gagal
  • Sepatunya cepat jebol

Nah, kita bisa lihat pain point apa yang jadi mayoritas dari klien/calon customer kita.

Dengan data dari diskusi tersebut, kita bisa:

  • Menyusun manpower planning (untuk pebisnis/CEO)
  • Membangun content pillar dan menyusun prioritas pembuatan konten di content plan
  • Membuat produk/fitur baru untuk menyelesaikan masalah mereka (tanpa mengganggu branding)

2. Berbicara Langsung dengan Klien/Customer

Cara paling mudah untuk mengetahui pain point jelas adalah bertanya langsung kepada (calon) klien/customer tanpa perantara sales atau customer service.

Hal ini bisa dilakukan dengan kuisioner feedback atau interview. Contohnya adalah adanya exit call. Analoginya mirip exit interview saat pegawai resign.

Buat kuisioner dan sesi interview yang menyenangkan agar kita mendapatkan informasi berupa pain point dari klien.

3. Membaca Review atau Komentar

Kalau bisnis kita ada aplikasinya di Playstore/Appstore, menerapkan local SEO (ada di Google maps), atau ada di media sosial, cobalah lihat berbagai review atau komentar yang ada di sana.

Contohnya, kita bisa lihat komentar tentang keluhan orang-orang di media sosial kita atau bahkan di akun lainnya yang masalahnya bisa diselesaikan dengan produk/jasa kita.

Komentar orang di media sosial biasanya lebih jujur daripada exit call/interiview, apalagi kalau akunnya alter (tetap jangan lupa crosscheck).

Yuk “Sembuhkan” Pain Point dari Klien/Customer

Pada dasarnya, sebuah produk/jasa itu hadir untuk menyelesaikan masalah orang-orang. Contohnya, kalau orang butuh banyak blog, maka solusinya adalah penulis lepas/full time. Kita bisa menawarkan jasa menulis ke orang yang tadi punya masalah butuh banyak blog.

Kalau kita tidak tahu pain point dari klien/customer, jangan harap bisa menjual satu pun produk/jasanya. Jika ingin menyelesaikan masalah, maka ketahui dan pahami dulu inti dari masalahnya.

Referensi:

Pain Points: A Guide to Finding & Solving Your Customers’ Problems

https://blog.hubspot.com/sales/uncover-business-pain#f

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *