Pernahkah kamu mengklik hasil di SERP, lalu keluar untuk pergi ke situs yang berbeda karena informasi yang didapatkan tidak memuaskan? Dalam dunia SEO, hal ini dinamakan pogo-sticking.
Yah, dari namanya sendiri, yaitu pogo stick, yaitu alat untuk lompat-lompat. Kalau kamu dulu suka main crash bash di PS 1, ada level di mana kita harus menggunakan pogo stick dan lompat-lompat ke kotak untuk mendapatkan poin.
Apa penyebab pogo-sticking? Apakah berpengaruh terhadap SEO? Apa yang harus dilakukan sebagai pemilik website untuk menghadapi hal ini?
Pogo-sticking dalam SEO adalah kondisi di mana user bolak-balik pergi dari hasil SERP, lalu kembali lagi ke SERP-nya.
Contohnya, kalau kamu mengetik kueri hidden text, lalu mengklik farisyudza.com dari SERP. Kemudian, kamu mengklik tombol back untuk kembali ke SERP, lalu mengklik situs lain di SERP. Begitulah penjelasan sederhana dar pogo-sticking.
Pogo-sticking adalah ketika user masuk ke situs dari SERP, lalu kembali lagi ke SERP dengan cepat, lalu masuk ke situs lain yang ada pada SERP tersebut. Sementara itu, bounce rate adalah ketika user masuk ke situs tersebut, namun tidak melakukan aktivitas seperti klik, mengisi formulir di lead magnet, dll.
Jadi, meski user membaca keseluruhan artikel, tetapi tidak melakukan aktivitas lain, tetap terhitung bounce, tetapi bukan merupakan pogo-sticking.
Kalau user pergi dari suatu situs, lalu kembali ke SERP, bsia jadi penyebabnya adalah tidak ada informasi yang relevan dengan kueri yang diketik dari kolom Google Search.
Selain tidak ada informasi yang relevan, bisa jadi terjadinya pogo-sticking adalah akibat search intent yang tidak cocok. Misalnya, kamu mengetik kueri soal sepatu bola. Sebenarnya yang kamu inginkan adalah informasi atau review, bukan justru langsung ke situs yang jualan sepatu bola.
Tergantung dari perilaku user, ada user yang menginginkan konten to the point. Jadi, informasi yang paling ia inginkan ditaruh di atas. Namun, jika informasinya terlalu di bawah, ia bisa beranggapan kalau informasi yang diinginkan itu tidak didapatkan, sehingga terjadi pogo-sticking.
Desain/UX yang buruk juga bisa jadi alasan user melakukan pogo-sticking. Contohnya, desain yang menutupi informasi atau iklan yang mengganggu akan membuat user malas dan pergi ke situs lain untuk mencari informasi.
Hal ini biasanya terjadi pada situs berita, apalagi kalau informasinya masih hangat dan belum terkonfirmasi kebenarannya.
User tersebut akan menjelajahi berbagai situs untuk menemukan perspektif dari berbagai situs untuk membuat kesimpulan.
Mirip dengan poin e. bedanya hal ini tidak hanya terjadi di situs berita, tetapi juga situs non berita.
Contohnya adalah penulis atau siswa/mahasiswa yang sedang riset untuk mencari referensi. Tentunya, mereka tidak akan menggunakan satu referensi, tetapi dua atau lebih.
Riset dan pencarian referensi ini menyebabkan terjadinya pogo-sticking.
Yah, tidak bisa dipungkiri, ada juga user yang memang iseng saja, datang untuk melihat-lihat hasil dari SERP dan jawaban yang diberikan oleh situs, sesuai dengan kueri yang mereka ketik.
Perilaku ini mirip dengan orang yang mampir ke suatu toko, tetapi ujungnya tidak membeli apa-apa.
Clickbait hanya memancing klik saja, namun ketika dibuka artikelnya, ternyata tidak sesuai judul. Jadi wajar saja kalau user melakukan pogo-sticking.
Pogo-sticking 100% tidak dapat dicegah, namun bisa diminimalkan dengan cara berikut:
Konten berkualitas tidak hanya sekedar mengurangi bounce rate, tetapi juga meminimalkan perilaku pogo-sticking karena user paham kalau konten berkualitas itu layak dibaca sampai habis dan dijadikan referensi. Jadi, tidak perlu cari referensi lain lagi.
Selain berkualitas, refresh konten juga jika mengalami outdate.
Salah satu penyebab terjadinya pogo-sticking adalah informasi penting yang dimuat terlalu di bawah.
Untuk pencegahannya, kamu bisa menerapkan teknik inverted pyramid atau piramida terbalik yang fokusnya adalah poin terpenting diletakkan paling atas dan trivial di paling bawah.
Teknik ini lumrah digunakan untuk menulis berita.
Desain/UX yang jelek akan menyebabkan pogo-sticking. Karena itulah, perbaiki aspek tersebut agar pogo-sticking bisa diminimalkan. Misalnya, menggunakan desain yang user-friendly.
John Mueller, Search Advocate Google telah mengonfirmasi bahwa pogo-sticking bukanlah ranking factor dan kamu tidak perlu khawatir soal perilaku user tersebut.
Pogo-sticking adalah perilaku user yang tidak bisa kita kontrol. Karena itu, lebih baik kita fokus pada hal yang bisa dikontrol seperti membuat konten berkualitas dan up to date.
Jangan membuat konten yang asal-asalan, outdated, atau tidak memenuhi search intent dari user. Selain itu, perhatikan juga bagaimana desain/UX situsnya.
Happy optimizing!
Referensi:
https://ahrefs.com/seo/glossary/pogo-sticking
https://ahrefs.com/blog/pogo-sticking/#1-pogo-sticking-vs-bounce-rate
https://www.searchenginejournal.com/google-does-not-use-pogo-sticking-as-a-ranking-factor/261629/
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…
Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…
Memiliki website di era digital bukan lagi sekadar gengsi atau formalitas. Banyak pemilik bisnis yang…