Salah satu bentuk benchmarking dalam dunia marketing seperti SEO atau mengetahui seberapa jauh kita dalam usaha pembuatan konten adalah content gap analysis.
Menganalisa gap atau “jarak” ini perlu dilakukan karena banyak manfaatnya loh!
Apa saja manfaat tersebut? Bagaimana cara melakukan content gap analysis?
Content gap analysis adalah menganalisa seberapa jauh “jarak” dari konten yang belum dibuat untuk membangun topical authority atau ada konten yang sebenarnya bisa membahas suatu hal dengan lebih komprehensif dan sesuai dengan tujuan/customer journey dalam marketing funnel, namun belum digarap.
Outdated content adalah konten usang yang sudah tidak relevan. Pastinya akan ada gap jika dibandingkan dengan fresh content.
Memang betul bahwa konten pendek straight to the point. Namun, hal ini juga bisa menimbulkan content gap karena pembahasannya kurang komprehensif.
Bisa jadi kita merasa sudah menyampaikan informasi dengan baik, padahal sebenarnya readability-nya rendah. Hal ini akan memunculkan gap di kalangan pembaca.
Terkadang, artikel bukan jawaban untuk audiens tertentu. Terkadang, ada jenis konten lain seperti video yang lebih cocok untuk dibuat. Misalnya, karena bahasannya soal tutorial atau praktikal.
Tulisan yang tidak dibuat oleh ahlinya atau AI biasanya akan punya gap karena kurangnya ilmu pada artikel yang ditulis.
Percaya deh, author authority itu penting. Tulisan dari expert akan jauh berbeda dengan orang awam.
Ini mungkin masih bersambung dengan poin e. Namun, lebih cocok untuk artikel niche traveling atau review produk yang butuh pengalaman nyata.
Akan ada perbedaan dari feel dan tulisan dari orang yang merasakan produk/jasa secara langsung dengan yang hanya mendengarkan dari omongan orang lain saja.
Manpower dari tim konten dan SEO juga menjadi penyebab content gap.
Semakin banyak dan kompeten tim konten dan SEO-nya, semakin kecil peluang terjadinya content gap.
Pada intinya, kita perlu melakukan content gap analysis untuk mengetahui apa saja yang kurang dari konten kita. Mulai dari:
Jadi, tujuan dari content gap analysis adalah membuat konten kita punya performa yang lebih baik dan stay relevant, serta tidak ketinggalan atau bahkan menyaingi kompetitor.
Tentu saja, semuanya dimulai dari benchmark dengan kompetitor dulu. Terutama yang merupakan saingan langsung di SERP, apalagi kalau menjual produk/jasa yang sama.
Beberapa cara yang bisa dilakukan:
Kalau penulis artikel ini, lebih senang memantau konten yang rank lebih tinggi atau benchmark dengan situs yang traffic-nya lebih tinggi, bahkan bisa dibilang situsnya jadi top of mind di SEO pada industri tertentu.
Sebagai tambahan informasi, content gap analysis tidak hanya bisa digunakan di SEO saja, tetapi juga kanal marketing lain seperti media sosial dan e-mail.
Untuk media sosial, kamu bisa melakukan content gap analysis dengan cara mengecek konten di media sosial kompetitor. Sementara itu, untuk e-mail, kamu bisa berlangganan newsletter dari kompetitor.
Content gap juga bisa terjadi karena kita tidak paham dengan customer, seperti pain point atau ada hal lain yang mereka concern, namun belum dibahas.
Untuk menangani hal ini, kamu bisa bertanya kepada tim sales, operasional, atau customer service.
Setelah mempelajari konten kompetitor dan mencari tahu beberapa hal lewat tim yang berinteraksi langsung dengan customer, waktunya melakukan content audit.
Audit konten yang dilakukan meliputi:
Dari content audit, kita bisa menemukan content gap, baik itu dari internal atau pun jika dibandingkan dengan konten kompetitor.
Setelah content audit dilakukan dan gap ditemukan, mulai tambal gap yang ada. Bisa dengan:
Terakhir, evaluasi hasilnya. Apa yang terjadi setelah content gap ditambal? Apakah performanya membaik atau malah menurun?
Beberapa metrik yang bisa kamu evaluasi adalah:
Content gap analysis tidak sama dengan mencuri ide. Justru, analisa tersebut dimaksudkan agar konten bisa lebih komprehensif dan bagus. Selain itu, daripada mencuri, lebih cocok dibilang cara mencari ide.
Namun, jangan copas sekali sampai bisa dikatakan mencuri ide ya. Ingat bahwa tujuan kompetitor bisa berbeda dengan tujuanmu. Jadi, jangan asal dalam menganalisa konten kompetitor. Hal ini mirip dengan mengikuti suatu mobil karena tersesat, padahal kita tidak tahu destinasi dari mobil yang kita ikuti.
Benchmark dengan kompetitor hanyalah salah satu dari sekian cara agar gap dari konten yang sudah dibuat atau pun akan dibuat di masa depan telah tertambal dengan baik.
Sangat disayangkan kalau kita tidak melakukan content gap analysis. Mengapa? Karena analisa ini akan membuat situs atau media yang kita pegang jadi jauh lebih unggul dari kompetitor.
Dengan banyaknya produksi konten dengan berbagai media setiap harinya. Kita tidak akan kehabisa bahan untuk content gap analysis. Jadi tenang saja!
Happy optimizing!
Referensi:
https://backlinko.com/hub/seo/content-gap
https://www.semrush.com/blog/content-gap-analysis/#measure-the-results
https://growhackscale.com/glossary/content-gap
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…
Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…
Memiliki website di era digital bukan lagi sekadar gengsi atau formalitas. Banyak pemilik bisnis yang…