Saat menyusun content plan dan membuat strategi, kita bisa memisahkan jenis konten berdasarkan tren atau waktunya, yaitu seasonal dan evergreen content. Seasonal content adalah konten yang cocok dibuat di musim tertentu. Nah, evergreen bisa dibilang adalah kebalikannya.
Justru, porsi pembuatan evergreen content pastinya lebih banyak daripada seasonal content.
Apa itu evergreen content? Mengapa Penting untuk dibuat? Bagaimana cara membuatnya dan apa saja contohnya?
Evergreen content adalah konten yang tidak terikat dengan waktu/relevan untuk waktu yang lama atau dengan kata lain timeless. Seperti namanya, yaitu ever+green.
Beberapa topik konten di bawah ini adalah contoh evergreen content:
Sementara itu, beberapa hal ini bukan evergreen content:
Berikut beberapa ciri evergreen content, hal ini juga bisa dilihat dalam perspektif SEO:
Karena evergreen content bersifat timeless atau tidak terikat waktu dan nilainya bertahan dalam jangka panjang. Maka jelas bahwa pembuatan evergreen content perlu dilakukan dalam content marketing.
Kita pastinya tidak mau membuang uang dan waktu hanya untuk konten yang sebentar lagi tidak relevan sama sekali dalam jumlah yang banyak bukan? Tidak semua bisa melakukan apa yang seperti brand sirup lakukan seperti iklannya hanya muncul di bulan puasa atau jurnalis yang dibayar untuk mencari berita ter-update.
Bisnis pastinya ingin bertahan jangka panjang, bahkan selamanya. Karena itu, evergreen content perlu dibuat untuk stay relevant.
Kalau kita lihat di kalender, tanggal merah itu hanya ada 16, itu pun tidak semuanya relevan dengan brand kita. Berarti, seasonal content yang akan kita buat tidak akan banyak.
Jadi, evergreen content adalah pemegang porsi terbanyak dalam content plan dan calendar. Jelas sekali pembuatannya sangatlah vital.
Semakin banyak konten yang kamu buat (ditambah berkualitas tinggi), maka traffic ke situs atau pengikut di media sosialmu pastinya akan meningkat.
Justru, membuat evergreen content adalah cara meningkatkan organic traffic karena seasonal content punya search volume yang tinggi di periode tertentu saja. Sementara evergreen content memiliki search volume yang tidak banyak berubah.
Semakin banyak bahasan evergreen content yang berkesinambungan dan otoritas topik yang tinggi, maka kepercayaan terhadap brand akan naik.
Evergreen content bisa menunjukkan seberapa bagus expertise suatu brand. Misalnya, menjelaskan mitos dan fakta seperti minum es dapat meningkatkan berat badan, padahal kenyataannya tidak karena es itu kalorinya nol.
Sebenarnya membuat evergreen content tidak jauh berbeda dengan cara membuat konten biasa, yaitu:
Pertama, pelajari audiens kita. Mereka suka konten seperti apa dari kita? Jangan pakai bagus menurut kita. Kita itu membuat konten sesuai dengan audiens kita.
Kalau kontennya tidak relevan, bisa dipastikan tidak banyak engagement atau orangnya tidak lama-lama saat mengonsumsi kontennya.
Mempelajari audiens bisa dilakukan dengan riset pasar, apa yang kita jual, dan A/B testing.
Agar seluruh bahasan berkesinambungan, sehingga otoritas topik terbangun dan internal link (khusus blog) bisa diterapkan, maka membuat content pillar adalah suatu hal yang sebaiknya dilakukan.
Pembuatan content pillar juga bisa mencegah writer’s block karena kita punya acuan (pilar) dan turunan yang banyak sekali sumber idenya.
Jangan lupa untuk memisahkan ide seasonal dan evergreen content di content pillar-nya.
Setelah content pillar jadi, mari buat evergreen content yang berkualitas alias tidak low value. Caranya adalah dengan:
Meski evergreen content relevan untuk waktu yang lama, kita wajib update konten secara berkala. Siapa tahu ada bahasan yang menarik, ternyata belum terjamah.
Hal tersebut bisa kita update di konten buatan kita, terutama blog.
Alangkah baiknya kita mempromosikan konten yang kita buat. Salah satu hal termudah untuk melakukannya adalah lewat media sosial, misalnya:
Setelah konten dipublikasi dan dipromosikan, bukan berarti semuanya selesai. Kita harus mengevaluasi evergreen content yang kita buat. Apakah konten yang kita buat sesuai dengan tujuan.
Beberapa parameter ini bisa dievaluasi:
Perlu pembagian dan content plan yang bagus agar evergreen content dan seasonal content bisa padu, tidak tumpang tindih, dan sesuai dengan tujuan.
Belajarlah untuk membedakan dan memadukan kedua hal tersebut agar content marketing yang dilakukan bisa sukses.
Sumber:
https://digitalmarketinginstitute.com/blog/the-beginners-guide-to-evergreen-content
https://blog.hubspot.com/insiders/creating-evergreen-content
Semua bagian dari hidup kita tidak akan lepas dari politik, termasuk pemasaran digital seperti SEO.…
Kalau mau ke Dieng atau Gunung Prau serta lewat Patak Banteng, pastinya perlu alat outdoor…
Karena sekarang AI bisa membuat teks, orang-orang jadi sulit untuk membedakan tulisan AI dan manusia.…
Mendapatkan backlink secara natural pastinya sulit, tetapi rasanya sepadan. Apalagi, jika ternyata backlink yang didapatkan…
Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…
Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…