Di era digital ini, mungkin kita tidak asing dengan clickbait. Bahkan sekelas media besar saja menggunakannya, terutama di bidang entertainment.
Terkadang saking berlebihannya suatu clickbait, bukannya terpancing, kita justru jadi malas mengkliknya.
Nah, dari sisi kepenulisan dan pembaca, apakah clickbait menguntungkan atau merugikan?
Clickbait adalah sebuah strategi/cara dalam marketing, yaitu menggunakan konten digital (biasanya di judul atau gambar/thumbnail) yang sensasional atau misleading dan biasanya menggunakan diksi yang memancing emosi untuk menambah view atau klik.
Selain judul, gambar seperti thumbnail juga bisa jadi clickbait.
Berikut contoh clickbait:
Penjelasan sederhananya, clickbait benar-benar menarget tiga psychological trigger dari manusia, yaitu:
Semakin dilarang, seseorang akan makin ingin tahu. Siapa yang tidak ingin mengetahui rahasia suatu hal? Karena hal ini, diksi yang bikin kepo seperti “rahasia” atau “trik” lumrah digunakan pada judul artikel.
FOMO adalah rasa takut tertinggal di saat yang menyenangkan karena ada orang yang banyak menikmatinya. Hal ini biasa terjadi di dunia trading saham, tetapi banyak digunakan pada clickbait.
Headline yang mentrigger FOMO biasanya banyak dipakai pada artikel yang tren atau tidak lama panasnya seperti gosip dunia entertainment.
Meski di dunia ini tidak ada yang instan (bahkan mie instan harus dimasak dulu baru dimakan), manusia tetap menginginkan solusi instan untuk masalah mereka.
Psikologi ini dimanfaatkan untuk clickbait.
Kita mungkin pernah membaca judul seperti “tips jago main A dalam waktu dua hari”. Itu adalah contoh clickbait yang memanfaatkan gratifikasi instan.
Dari definisinya, sebenarnya clickbait itu buruk dan merugikan. Namun, sebenarnya ada versi “baik” dari clickbait. Contohnya, judul yang lumayan “memancing” dengan artikel yang faktual dan isinya sesuai judulnya. Tentu saja hal ini tidak masalah.
Yang jadi masalah adalah kalau judulnya clickbait, tetapi dari pembuka, isi, dan penutup sangat tidak mencerminkan judulnya. Bahkan bisa dibilang termasuk thin content.
Kalau judul clickbait dan isi tidak menjawab judul, engagement dari suatu tulisan pasti sangatlah buruk. Bisa berupa bounce rate yang tinggi dan durasi membaca tulisan yang rendah sekali. Pembaca ogah membaca sampai akhir.
Hal ini akan merugikan jika ada lead magnet atau call to action di penutup/sesi kesimpulan artikel.
Ketika branding kita sudah buruk karena terlalu sering memakai clickbait, kepercayaan pembaca akan pudar, sehingga mereka malas membaca lagi.
Belum lagi, kalau mereka memberi testimoni negatif. Lewat dari mulut ke mulut saja dapat menghilangkan potensi traffic.
Jelas saja, dampak buruk jangka panjang dari clickbait yang buruk adalah rusaknya reputasi. Tidak hanya nama medianya saja, tetapi juga penulis dan editornya (kecuali nama mereka tidak dicantumkan seperti ghost writer).
Kalau tidak ingin reputasi rusak, jangan gunakan clickbait yang buruk.
Ingat bahwa Google benci konten yang misleading.
Clickbait yang misleading dapat mengakibatkan terjadinya penalti dari Google berupa penurunan ranking atau bahkan deindeks.
Pembaca pastinya ingin judul dan isi konten yang sinkron. Jika tidak, pasti mereka akan marah karena konten dengan clickbait telah membuang waktu mereka.
Sebenarnya cara membuat clickbait yang baik itu simpel saja, yaitu:
Untuk bagaimana cara membuat judul artikel, selengkapnya ada di tautan ini!
Mungkin dalam jangka pendek, clickbait yang buruk bisa meningkatkan traffic, bahkan kita bisa bergembira dari CTR (klik/impresi) yang tinggi. Namun, dalam jangka panjang, clickbait tersebut hanya akan merusak reputasi dan branding saja.
Lebih baik buat judul/gambar yang menggugah emosi pembaca (“clickbait yang baik”), namun judul/gambar tersebut menjawab keseluruhan artikel dan membuat pembaca puas.
Tidak ada yang senang dengan membaca konten yang judulnya A, tetapi isinya B alias tidak nyambung/relevan. Pasti pembaca akan langsung “kabur” dan berkomentar jelek seperti “apaan sih gak jelas banget konten ama judulnya gak sinkron”.
Jadi, konten/dirimu mau sukses dalam long term atau short term? Pilihan ini diserahkan kepadamu. Setelah membaca artikel soal clickbait, jawabannya sudah cukup jelas ya 🙂
https://www.semrush.com/blog/what-is-clickbait/#why-clickbait-works
https://www.webfx.com/blog/marketing/what-is-clickbait/
November 2022, pekerja kreatif di seluruh dunia dikejutkan oleh hadirnya produk OpenAI bernama ChatGPT. Perusahaan…
Metrik di performance marketing ada banyak, salah satunya adalah CPL atau cost per leads yang…
Dalam performance marketing, bahkan SEO. Kita bisa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi satu…
Dengan kemunculan AI generatif, terdapat istilah baru, yaitu GEO. GEO cukup berbeda dengan SEO karena…
Studi sebelumnya, pemilik blog ini menguji rekomendasi blog untuk belajar SEO. Studi dengan kueri lokal…
Studi sebelumnya menyoroti bahwa GEO memberikan jawaban yang tidak selalu sama meski prompt-nya sama. Meski…