Dalam membuat artikel yang dioptimasi untuk SEO, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya adalah keyword density.
Sebenarnya apa itu keyword density? Apakah penting untuk SEO?
Keyword density atau densitas kata kunci adalah perbandingan antara jumlah kata kunci yang kita targetkan dibagi dengan jumlah kata pada artikel yang kita tulis.
Misalnya, dalam artikel 1000 kata, kata kunci yang kita targetkan muncul 10 kali, maka keyword density-nya adalah 1%.
Aplikasi penghitung jumlah kata biasanya ada kalkulator keyword density-nya.
Saat kita riset konten kompetitor, salah satu hal yang bisa kita perhatikan adalah keyword density-nya.
Cek berapa keyword density dari konten yang berhasil masuk featured snippet atau halaman pertama SERP Google.
Meski demikian, jangan hanya sekedar dari densitas kata kunci semata ya. Lihat juga outline dan kualitas artikelnya.
Keyword density yang terlalu tinggi atau yang dikenal dengan keyword stuffing adalah salah satu teknik black hat SEO yang dilarang oleh Google. Akibatnya, situs kita bisa mendapatkan penalti berupa penurunan rank atau dihapus dari SERP.
Sebelum publikasi, cek dulu berapa keyword density dari suatu artikel saat proses penyuntingan.
Keyword density yang terlalu tinggi akan membuat artikel yang kita buat menjadi kurang enak dibaca karena banyak kata yang redundant. Sementara itu, jika terlalu rendah, maka kita jadi punya artikel yang kurang clear pembahasannya.
Google tidak pernah memberikan guideline tentang berapa keyword density ideal. Jadi, jangan terlalu terpaku pada patokan Yoast yang menyarankan densitas kata kunci sebesar 0,5%-2,5% (lampu hijau).
Dikutip dari search engine land, menurut Matt Cut (head of Google webspam dan LO dari perusahaan dan komunitas SEO), tidak ada keyword density yang ideal, tetapi semakin banyak keyword yang dicantumkan, maka akan lebih banyak dampak buruknya daripada dampak baiknya.
Kalau pun keyword density-nya 5%, selama enak dibaca dan tidak memaksakan itu tidak masalah. Yang salah adalah memaksakan untuk menempakan kata kunci, sehingga jadi tidak enak dibaca. Kalau pun dapat rank 1, user juga akan pergi duluan karena artikelnya membosankan dan redundant.
Rajinlah dalam A/B testing untuk mengetahui berapa persen densitas keyword yang ideal untuk situs kita.
Meski keyword density adalah metric yang harus diperhatikan pada penulisan artikel yang dioptimasi untuk SEO, jangan terlalu fokus pada hal itu saja.
Banyak hal lain yang harus diperhatikan seperti:
Sebagai penulis, perhatikan keyword density agar kita bisa membuat artikel senatural mungkin. Sementara itu, untuk editor, perhatikan keyword density untuk mengecek apakah suatu artikel sudah ditulis senatural mungkin dan indikasi apakah penulis melakukan keyword stuffing atau tidak.
Happy optimizing!
Sumber:
https://www.searchenginejournal.com/ranking-factors/keyword-density/
Mount Ungaran in Semarang is a favorite hiking destination in Central Java for both beginners…
Mendaki gunung menuntut persiapan logistik yang matang, bukan sekadar fisik yang prima. Di tengah suhu…
Google memperkenalkan terms non-commodity content, bahkan mendorong agar publisher membuat konten jenis tersebut. Wow memangnya…
Dulu, sebelum tahun 2022 mungkin banyak orang mengenal Joko Yugiyanto sebagai blogger yang banyak menulis…
SIMAK UI Pascasarjana adalah hal yang penting untuk dipersiapkan untuk kamu yang mau pascasarajana di…
Traffic website tinggi memang bikin bangga praktisi SEO. Tentunya tidak mudah untuk mendapatkan traffic tinggi,…
View Comments