Menulis dengan AI mungkin sekarang sedang jadi tren, bahkan tidak sedikit blogger yang melakukannya (disclaimer: penulis tidak pernah memakai AI untuk menulis di blog ini). Komputasi mutakhir ini kelihatan mubazir kalau tidak dimanfaatkan.
Kemudahan dan manfaat yang ditawarkan oleh teknologi ini membuat banyak orang yang menggunakannya. Ditambah lagi, Google juga memperbolehkan menulis dengan AI, tetapi ada aturan yang berlaku soal ini.
Bagaimana panduan cara menggunakan AI untuk menulis…… apa pun medianya?
Kalau kamu mau menggunakan AI untuk menulis, pastikan sudah berkomunikasi dengan atasan terlebih dahulu.
Jangan menggunakan AI untuk menulis tanpa memberi tahu ke atasan karena hal ini mencederai integritas profesi penulis dan pasti terlihat perbedaan antara tulisan AI dan manusia. Kecuali kalau kamu dibayar sebagai prompt writer. Selain itu, ada software untuk mendeteksi tulisan AI.
AI untuk menulis memang punya kelebihan seperti artikel yang cepat jadi.
Sayangnya, artikelnya akan kaku dan perlu pengecekan lebih banyak.
Apakah kamu siap untuk menyediakan waktu lebih untuk menyunting?
Menulis dengan AI memang tidak dilarang Google. Enaknya, mereka memberikan panduan best practice-nya. Contohnya adalah jangan membuat konten yang tidak helpful seperti konten AI tanpa penyuntingan (terhitung auto-generated content)
Selengkapnya di tautan ini.
Spek dari AI juga harus diperhatikan untuk meminimalkan kesalahan informasi yang diberikan oleh AI.
Contohnya, Chat GPT hanya punya database sampai tahun 2021 saja. Dengan kata lain, mereka tidak punya informasi apa-apa soal tahun 2022/2023.
Kalau kita sedang mau membuat fresh content, jelas menggunakan chat GPT ini tidak bisa dilakukan.
Update: dikutip dari BBC, sekarang Chat GPT bisa memberikan informasi up to date.
AI tidak akan bisa menulis jika tidak diberikan prompt.
Mirip saat kita memberikan content brief, untuk meminimalkan peluang banyak revisi, kita harus memberikan brief sedetail mungkin.
Hal yang sebaiknya ada di prompt:
Kalau output dari prompt-nya belum memuaskan, cobalah untuk mengutak-atik prompt-nya seperti mengurangi/menambah perintahnya.
Konten mentah buatan AI tidak boleh langsung dipublikasi karena biasanya punya tingkat plagiarisme yang tinggi, kaku, dan terhitung AGC (dilarang oleh Google).
Menyunting artikel buatan AI adalah suatu kewajiban, apa pun tulisan yang nanti akan muncul di berbagai media. Baik itu e-mail, media sosial, blog, atau pun iklan.
Beberapa yang harus disunting adalah:
AI (hampir) mustahil melakukan typo kecuali kita memberikan prompt yang berisi perintah agar tulisannya ada typo.
Setelah penyuntingan selesai dan kontennya telah dipublikasi, kita bisa melakukan evaluasi secara berkala.
Contoh evaluasinya adalah engagement dari tulisannya atau klik call to action jika ada.
Jika mengalami kondisi di bawah ini, sebaiknya jangan menggunakan AI untuk menulis:
Mau bagaimana pun proses pembuatannya, konten adalah untuk user. Selalu pakai prinsip user first.
Mungkin ada yang menganggap kalau menggunakan AI untuk menulis adalah jalan pintas.
Yah, sebenarnya tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Kalau kita memutuskan untuk memakai AI untuk menulis, maka waktu yang akan terpakai adalah untuk membuat prompt terbaik dan menyunting artikelnya.
Ayo buat konten yang berkualitas oleh user, terlepas dari apa pun proses yang dilalui.
Happy writing and optimizing!
Mendapatkan backlink secara natural pastinya sulit, tetapi rasanya sepadan. Apalagi, jika ternyata backlink yang didapatkan…
Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…
Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…
Bridge dari Kebiasaan Membaca Personal Blog dan Konten Naratif Mendalam ke Pengalaman JRPG Modern: Mengapa…
Traffic website turun biasanya jadi alarm atau peringatan, terutama bagi pengurus website atau SEO specialist.…
Alhamdulillah, saya menjadi pemenang Pintu Blog competition. Artikelnya ada pada tautan ini. Semoga bisa jadi…