Dalam mencari ide konten atau menyusun content plan, salah satu metode yang bisa kita terapkan adalah content pillar. Bukan pilar bangunan ya, tetapi sebenarnya mirip. Konten pilar di sini menjadi basis dari berbagai ide konten atau semacam turunan.
Tidak hanya di media sosial, metode ini juga sangat bagus diterapkan untuk konten di kanal digital marketing lainnya.
Yuk ketahui lebih lanjut tentang content pillar!
Content pillar adalah topik utama atau basis dari pembuatan konten yang kita buat. Bisa dibilang, content pillar adalah “orang tua” dari turunan ide konten yang kita buat.
Bisa dibilang content pillar mirip dengan keyword mapping. Perbedaannya terletak pada penyortirannya.
Dengan adanya content pillar, kita bisa menyusun content plan dengan lebih mudah. Mengapa? Karena kita tahu basis dari suatu konten, sehingga menemukan ide turunannya menjadi lebih cepat.
Semakin cepat jumlah ide berkualitas yang didapatkan, maka semakin mudah dan cepat juga content plan–nya jadi.
Content pillar akan memastikan konten yang kita buat tidak “keluar jalur”. Semakin terspesialisasi konten kita ke suatu topik, semakin besar juga topical authority-nya.
Contohnya, ada akun digital marketing, mendadak membahas soal penyakit kanker. Audiensnya pasti tidak akan percaya dan merasa aneh bukan? Kok akun digital marketing bahas topik kesehatan seperti kanker?
Saat mencari ide konten tanpa pilar, bisa saja kita meriset secara acak untuk menemukan idenya. Sayangnya, metode ini kurang efektif karena sekedar dapat ide tunggal, tetapi tanpa turunannya. Padahal, dari content pillar, kita bisa mendapatkan ide baru, terutama dari bahasan “daging” alias dalam, ternyata ada yang lebih dalam/spesifik lagi.
Dalam SEO, membuat konten dengan basis content pillar akan mempermudah dalam penanaman internal link. Alasannya adalah karena setiap konten berkesinambungan, sehingga peluang adanya internal link yang relevan semakin tinggi.
Untuk internal linking, kita bisa membuat anchor text yang relevan dengan blog kita (yang masih satu domain).
Kalau bahasan antar kontennya tidak berkesinambungan, akan semakin sulit menanam internal link, sehingga bisa ada banyak orphan page.
Karena kita punya pilar atau fondasi, maka kita bisa tahu apa langkah selanjutnya dalam pencarian ide konten. Hal ini tentunya dapat mencegah writer’s block karena turunan dari ide konten bisa saja ada turunannya lagi
Jelas sekali bahwa langkah pertama adalah ketahui brand guideline, visi, dan tujuan pembuatan konten.
Content pillar yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan hal yang disebutkan di paragraf sebelumnya.
Contohnya, kalau kita mengurus media feminisme, maka jangan masukkan content pillar yang pro patriarki.
Short tail keyword atau seed keyword bisa menjadi pilar yang bagus. Jadi jangan ragu untuk riset kata kunci pendek terlebih dahulu untuk menemukan turunan topiknya/long tail keyword-nya.
Contoh paling mudah, misalnya di niche personal finance, maka pilarnya adalah:
Dari pilar tersebut, kita bisa punya ide tentang turunan keyword-nya.
Setelah mendapatkan pilar atau “orang tua” dari topiknya. Segera cari ide turunannya.
Misalnya, dari pilar yang di atas (investasi, hutang, pemasukan/income, pengeluaran, dan asuransi). Maka ide turunannya adalah:
Bagaimana cara mendapatkan ide turunan pilar? Kita bisa tahu lewat tools seperti:
Tidak hanya lewat tools, bahkan pemikiran atau kehidupan sehari-hari bisa jadi inspirasi dari turunan content pillar, terutama di niche yang relate dengan kehidupan sehari-hari seperti kesehatan dan keuangan.
Nah, ide sudah terkumpul, waktunya cek beberapa parameter agar kita bisa tahu mana konten yang diprioritaskan. Beberapa parameter tersebut adalah:
Parameter di atas juga bisa jadi bagian untuk merevisi content pillar, apakah ada ide yang harus ditambah atau tidak dipakai.
Setelah mengecek beberapa parameter, waktunya menentukan prioritas mana ide yang perlu dibuat dulu kontennya.
Hal ini bisa jadi guideline:
Disclaimer: bagian ini hanya berlaku untuk blog.
Karena biasanya konten yang dibuat dengan content pillar itu berkesinambungan, maka akan lebih mudah dalam menyematkan internal link-nya.
Internal link penting dalam optimasi on-page SEO karena tautan jadi lebih cepat terindeks dan user akan lebih lama di dalam situs.
Jadi, kalau ada konten yang dibuat, segera update internal link. Jangan sampai ada orphan page.
Setelah semua jadi dan dapat internal link. Promosikan konten yang telah dibuat. Beberapa cara ini bisa dilakukan:
Kehabisan ide alias writer’s block pastinya adalah suatu hal yang menyebalkan. Sebenarnya hal ini bisa ditangani dengan membuat content pillar.
Dengan content pillar, kita bisa mendapatkan turunan ide konten yang bagus, bahkan tidak terpikirkan sebelumnya.
Setelah content pillar jadi tinggal eksekusi pembuatan kontennya saja yang jadi tantangan.
Yuk buat content pillar agar content plan kita terlihat rapi dan situs kita punya otoritas topik yang tinggi!
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…
Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…
Memiliki website di era digital bukan lagi sekadar gengsi atau formalitas. Banyak pemilik bisnis yang…